Indonesia Masuk Dalam Target Teroris Siber

Sabtu, 13 Mei 2017 14:48:13
Reporter : -
Indonesia Masuk Dalam Target Teroris Siber

Jakarta - Ancaman serangan siber di 99 negara yang diumbar oleh para peretas ternyata tidak main-main. Indonesia pun ternyata sudah ikut jadi korban target serangan.

Kabar ini sudah beredar di kalangan para pegiat cyber security di Indonesia. Mereka pun mengakui, sejumlah Rumah Sakit sudah ada yang kena serangan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun ikut mengkonfirmasi.

"Ini bukan (kerjaan) hacker lagi, ini sudah katagori teroris. Hacker punya etika, tidak pernah menyerang Rumah Sakit," geram Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel A. Pangerapan kepada detikINET, Sabtu (13/5/2017).

Kominfo bersama sejumlah instansi terkait pun langsung melakukan koordinasi untuk menanggulangi serangan teroris siber tersebut. "Sebentar, tim kami sedang bekerja," ujar Semmy.

Praktisi keamanan internet dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, ternyata juga sudah mengetahui kabar disanderanya data-data sejumlah Rumah Sakit di Indonesia dengan teknik ransomware.

"Parah! RS Dharmais kena, RS Kanker Harapan Kita juga kena. Kayaknya, banyak Rumah Sakit yang kena. Itu yang kena masih untuk layani pasien lagi," sesal Alfons saat dihubungi terpisah.

Kabar tentang serangan ransomware oleh para teroris siber ini juga ikut dikonfirmasi oleh Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordination Center (ID-SIRTII).

Sementara, seperti dilansir AFP dan BBC, serangan siber global ini terjadi pada Jumat (12/5/2017) waktu setempat. Selain Inggris, negara-negara yang terdampak antara lain Amerika Serikat (AS), China, Rusia, Spanyol, Italia, Taiwan dan sebagainya.

Serangan siber ini menggunakan teknik bernama ransomware, jenis virus malware (malicious software) yang berkembang paling cepat. Data dalam komputer di ribuan lokasi yang terkena ransomware, terkunci oleh program yang meminta pemilik untuk membayar USD 300 dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin, jika 'kunci' itu ingin dibuka.

"Kami sekarang melihat ada lebih dari 75 ribu pendeteksian (serangan siber) di 99 negara. Ini sangat besar," sebut Jacob Kroustek dari perusahaan keamanan dunia maya, Avast, dalam blog-nya. Kroustek menyebut ransomware yang disebut WCry atau WannaCry ini melanda seluruh dunia.

Secara terpisah, peneliti dari perusahaan keamanan siber Karpersky, Costin Raiu, menyebut ada 45 ribu serangan siber di 74 negara. Raiu menyebut, malware itu mereplika dirinya sendiri dan menyebar dengan cepat.

Serangan siber ini memanfaatkan celah dalam bocoran dokumen yang didapat dari Badan Keamanan Nasional AS atau NSA. Sejumlah perusahaan keamanan dunia maya menyebut, serangan siber ini diyakini menggunakan 'tools' yang dikembangkan oleh NSA.

Pada April lalu, kelompok peretas bernama The Shadow Brokers mengklaim telah mencuri 'tools' NSA itu dan merilisnya secara online. 'Tools' itu dibuat tersedia secara bebas di internet dengan password yang dipublikasi oleh kelompok peretas itu. Namun pelaku di balik serangan siber global ini belum diketahui pasti.

Perusahaan teknologi multinasional yang berbasis di AS, Microsoft, telah merilis antisipasi kerawanan untuk 'tools' itu pada Maret, namun kebanyakan sistem mungkin belum ter-update. Jaringan komputer untuk rumah sakit di Inggris terkena serangan siber ini.

Demikian halnya dengan Kementerian Dalam Negeri Rusia, jaringan komputer perusahaan telekomunikasi Spanyol 'Telefonica' dan perusahaan ekspedisi ternama AS FedEx, serta banyak lainnya.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris dan Badan Kriminal Nasional negara itu tengah menganalisis insiden ini. Layanan ambulans di fasilitas Dinas Kesehatan Nasional (NHS) Inggris terdampak parah akibat serangan siber ini.

NHS menyatakan 'insiden besar' usai serangan siber terjadi, yang memaksa beberapa rumah sakit mengalihkan atau membatalkan layanan ambulans secara otomatis.

Kementerian Dalam Negeri Rusia menyebut beberapa komputernya terkena 'serangan virus' dan kini tengah berupaya untuk menghancurkannya. Sedangkan pihak FedEx di AS menyadari adanya serangan siber ini dan menyatakan sedang mengambil langkah pemulihan secepat mungkin.

Tim cepat tanggap komputer pada Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyadari terjadinya infeksi ransomware di beberapa negara secara serentak. Forcepoint Security Labs, kontraktor pertahanan AS khusus menangani keamanan siber, menyatakan serangan ini memiliki 'skala global' dan mempengaruhi jaringan di Australia, Belgia, Prancis, Jerman, Italia dan Meksiko. [kun]

Tag : teroris, siber

Berita Terkait

Kanal Teknologi