Pekan 34 Liga 1

Andik Vermansah dan Alasan Sebuah Pertandingan Pamungkas Layak Dikenang

Kamis, 13 Desember 2018 17:04:21
Reporter : Oryza A. Wirawan
Andik Vermansah dan Alasan Sebuah Pertandingan Pamungkas Layak Dikenang
Andik Vermansyah ketika masih bermain di Persebaya

PERSEBAYA berhasil mengalahkan PSIS Semarang 1-0 (0-0) dalam pertandingan terakhir Liga 1 Musim 2018. Satu-satunya gol dicetak Fandi Eko Utomo pada menit 56. Kemenangan ini menempatkan Persebaya di posisi ke lima, dengan 50 angka dari 14 kemenangan, delapan hasil imbang, dan 12 kekalahan. Persebaya mencatatkan diri menjadi klub paling produktif dengan mencetak 60 gol. Bajul Ijo menduduki peringkat ke-8 klub yang paling banyak kebobolan dengan 48 gol. Persebaya menjadi klub yang paling banyak kebobolan di papan atas.

Namun pertandingan terakhir bukan hanya urusan data statistik dan yang bisa dikenang. Ada tiga kenangan dalam pertandingan pamungkas musim ini. Pertama, kemenangan yang dihasilkan dari sebuah permainan ofensif. Pertandingan ini adalah peragaan sepak bola menyerang kedua tim. Pertarungan dua formasi dasar 4-3-3, dengan PSIS Semarang meletakkan formasi 4-2-1-3. Sebuah pertandingan yang dikenang karena kegagalan penyerang Persebaya asal Brasil David da Silva mempertahankan posisi sebagai pencetak gol terbanyak musim ini.

Kegagalan demi kegagalan menaungi Da Silva. Setelah memberondong empat gol dalam pertandingan melawan PSM Makassar dan Bali United, pemain berkepala pelontos itu mendadak mandul selama 270 menit. Pertandingan melawan PSIS adalah puncak kegagalannya. Menit ke-5, setelah menerima umpan dari Rendi Irwan, Da Silva bermanuver melewati kiper PSIS J. Ribowo dan bola yang ditendangnya menuju gawang kosong justru menyamping. Dua menit kemudian, Ribowo menepis tembakan keras Da Silva.

Ribowo adalah benteng tangguh. Tembakan demi tembakan dari Da Silva, Irfan Jaya, dan Fandi Eko berhasil dimentahkannya. Begitu pula Miswa Saputra di bawah mistar Persebaya yang setangguh kiper Liverpool Alisson Becker. Menit 43, dia menepis bola tendangan Bruno Silva dalam kotak penalti dengan kaki kirinya.

Bagi penonton netral, pertandingan kedua tim menunjukkan bagaimana seharusnya sepak bola Indonesia dimainkan. Pantang menyerah. Memainkan bola dari kaki ke kaki. Keberanian melakukan aksi individu. Gol Fandi pada menit 56 menjadi klimaks permainan terbuka kedua seteru klasik sejak era perserikatan ini. Bola umpan terobosan Irfan Jaya membuat Rendi muncul dari belakang dan melepaskan tembakan yang berhasil ditepis Ribowo. Namun bola memantul ke arah Fandi dan menghajarkannya ke gawang PSIS.

\"Kami syukuri tiga poin. Tapi seharusnya lebih dari tiga gol. Banyak sekali peluang terbuang. Tapi saya respek kepada PSIS yang memberikan perlawanan yang cukup tangguh,\" kata Djajang Nurjaman, pelatih Persebaya.

Kenangan kedua, tentu saja atraksi para Bonek di tribun. Ada 50 ribu penonton yang hadir di Gelora Bung Tomo, 8 Desember 2018 malam itu. Ini penonton \'full house\' selain pertandingan Persebaya melawan Persib Bandung, Arema Malang, dan Persija Jakarta. 

Persebaya mencatatkan diri sebagai klub dengan penonton kandang terbanyak di stadion dengan total 485.231 orang sepanjang 17 pertandingan. Rata-rata dalam satu pertandingan, Persebaya ditonton sekitar 28 ribu orang. Jika rata-rata harga tiket kelas ekonomi Persebaya Rp 50 ribu, maka Persebaya meraup pendapatan kotor kurang lebih Rp 24 miliar.

Bonek adalah kunci kebangkitan Persebaya. \"Tiga poin untuk Bonek yang sudah jauh-jauh datang ke Gelora Bung Tomo,\" kata Rahmat Irianto, pemain bertahan yang juga putra legenda Persebaya Bejo Sugiantoro.

\"Luar biasa. Merinding melihatnya. (Penonton Persib) Bandung pernah penuh, tapi tidak sebanyak ini kapasitasnya. Ini menjadi tambahan motivasi buat pemain,\" kata Djajang.

Empat sisi tribun di Gelora Bung Tomo menampilkan koreo masing-masing. Di sisi utara, koreo raksasa menampilkan sosok suporter ultras memakai balaklava yang melingkarkan jari membentuk simbol cinta. Koreo ini memenuhi sektor 2 hingga 8 di belakang gawang. Spanduk besar di sisi bawah tribun menampilkan tulisan: I can\'t stop falling in love with you.

Sementara di tribun timur, ada koreo tiga dimensi seseorang yang meneropong dan empat sosok mantan pemain hasil pembinaan kompetisi internal Persebaya: Hansamu Yama, Evan Dimas, Taufiq, dan Andik Vermansah. Ada tulisan besar di sisi bawah tribun: Bring Back to Glory.

Arek-arek Tribun Kidul menampilkan koreo tiga dimensi bergambar raksasa hijau Hulk bersama sebelas pemain Persebaya, spanduk raksasa logo Persebaya semasa memperjuangkan eksistensi. dan spanduk bergambar Djajang Nurjaman dan Bejo Sugiantoro mengangkat piala.

Sementara Bonek Gate 21 menyajikan koreo bergambar Joner, salah satu pentolan Bonek, yang memegang megafon dan berteriak: \'Jangan jual harga dirimu dengan uang!\'. Di sebelahnya, ada gambar kartun pelatih Djajang Nurjaman dan Bejo Sugiantoro memakai jersey Persebaya warna hijau.

Wasit Yudi Nurcahya meniupkan peluit akhir. Musim ini diakhiri dengan cerawat yang menyala di hampir semua tribun. Gelora Bung Tomo bagaikan terbakar, dan menegaskan: GBT in Hell. GBT adalah neraka bagi semua lawan. Persebaya bukan juara. Namun Bonek tahu bagaimana cara untuk berpesta dan mengakhiri musim dengan gegap-gempita.

Kenangan ketiga adalah kehadiran Andik Vermansah di stadion. Mayoritas Bonek tidak tahu jika pemain bertubuh mungil itu menyaksikan langsung di GBT. Dia tak berada di tribun VIP, melainkan di sisi selatan bersama para suporter. Tak ada yang tahu, karena dia memakai penutup wajah. Kehadiran Andik menjadi perbincangan karena ada yang mengaplod videonya ikut menyanyikan Song for Pride di awal pertandingan bersama ribuan Bonek di tribun.

Video dan koreo yang kebetulan sama-sama menjadikan Andik sebagai protagonis kembali memunculkan kontroversial. Ini setelah Kapten Persebaya Rendi Irwan berkicau di Instagram. \"Kemenangan hari ini gak ada artinya dengan video yang viral. Hargailah perjuangan pemain yang berjuang di lapangan. Jangan membuat opini buat perbandingan.\"

Kontroversi melambung, terutama setelah situs resmi Persebaya, melambungkan Insta story itu dengan menayangkannya sebagai artikel berjudul: Rendi Ajak Bonek Harga Perjuangan Pemain di Lapangan, Bukan Tergiring Opini\'.

Tak butuh waktu lama bagi Bonek untuk menghujani Rendi dengan kecaman. Rata-rata pernyataan menyayangkan Rendi dan menyebut sang kapten terbawa perasaan. \"Andik Vermansah teko nang stadion yo tuku tiket. Bayar gawe duite dewe, gak gawe keplek. Urusan dekne nonton nang tribun ekonomi,\" kata Kukuh Ismoyo, salah satu Bonek di akun Facebook.

Kukuh membandingkan apa yang dilakukan Andik seperti yang dilakukan Steven Gerrard yang nonton Liverpool dan Fransesco Totti yang menyaksikan AS Roma. \"Kalau Gerrard boleh diungkapkan dengan once a red always a red, maka Andik dengan merujuk pada postingan Instagramnya beberapa bulan lalu berkata: \'Aku iki yo Bonek, cok!\',\" kata pria berkacama yang dijuluki Beted ini.

Jejak digital kejam, dan dalam tempo singkat, bermunculan foto Rendi saat mengikuti seleksi dengan berseragam hijau \'Persebaya palsu\' saat masa terjadinya dualisme. Bonek membandingkan loyalitas Andik dan Rendi. Saat Rendi memilih mengikuti seleksi di klub kontroversial yang belakangan berganti nama menjadi Bhayangkara FC, Andik menolak bermain untuk klub sepak bola di Indonesia karena tak ingin menyakiti Bonek. Ia memilih menyeberang ke Liga Malaysia.

Sebagaimana awal musim, Bonek berharap manajemen Persebaya mengembalikan empat pemain kaliber nasional hasil binaan kompetisi internal sebagaimana ditujukan dalam koreo di tribun timur. Salah satu pemain itu adalah Andik. Dan sebagaimana awal musim juga, perdebatan kembali terjadi dan belum ada tanda-tanda Presiden Persebaya Azrul Ananda menyetujui perekrutan Andik. Apapun akhir kontroversi, Andik adalah salah satu elemen penting dalam kombinasi kenapa pertandingan pamungkas Persebaya musim 2018 layak dikenang. [but] 

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan