Liga 1 Pekan 24

Andai Eric Cantona Ada di Kanjuruhan

Senin, 08 Oktober 2018 20:34:24
Reporter : Oryza A. Wirawan
Andai Eric Cantona Ada di Kanjuruhan

Sebuah pertandingan sepak bola tak selamanya dikenang karena hasil akhirnya. Jarang orang yang mengingat hasil akhir pertandingan antara Crystal Palace melawan Manchester United, di Stadion Selhurst Park, London, 25 Januari 1995. 

Hari itu, orang juga tidak ingat pemain Palace yang mencetak gol adalah Gareth Southgate yang sekarang menjadi manajer tim nasional Inggris, dan pencetak gol United adalah David May. Memori publik juga tak cukup panjang untuk mengingat siapa pemain yang terpilih menjadi 'Man of The Match'.

Hanya ada satu adegan dalam pertandingan tersebut yang melegenda: Tendangan Kung-fu Eric Cantona. Pertandingan babak kedua baru berjalan empat menit, saat Alan Wilkie mengeluarkan kartu merah untuk Cantona karena menendang bek tengah Palace Richard Shaw.

Cantona berjalan menepi untuk keluar lapangan, saat salah satu fans Palace, Matthew Simmons mengaku meneriakkan kalimat provokasi dari tribun. "Off! Off! Off! It's an early bath for you, Mister Cantona."

Cantona yang memang temperamental, langsung mengirimkan jurus tendangan 'tanpa bayangan' dan tinju ke arah Simmons. Kiper Man United Peter Schemeichel berlari mendekat mencoba menenangkan dan merangkul Cantona keluar lapangan. Berikutnya: Federasi Sepak Bola Inggris (FA) melarang pemain Prancis itu bermain selama empat bulan yang kemudian menambah hukuman itu hingga akhir September 1995.

Pertandingan Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu 6 Oktober 2018, bakal dikenang kurang lebih seperti itu. Kiper cadangan Persebaya Alfonsius Kelvan bakal lebih diingat daripada sebelas nama pemain tim Bajul Ijo yang berada di lapangan, atau bahkan pencetak gol kemenangan Arema. Bukan karena kepiawaiannya di atas lapangan, tapi karena keberaniannya berurusan dengan suporter lawan.

Kelvan bersama enam pemain cadangan Persebaya sedang melakukan pemanasan pada jeda pertandingan, saat dirijen Aremania Yuli 'Sumpil' Sugianto dan seorang rekannya turun ke lapangan menyodorkan beberapa lembar uang kertas. Robertino Pugliara, pemain tengah asal Argentina, memilih berlari keluar lapangan, menghindari mereka. Namun tidak demikian halnya dengan Kelvan.

Kelvan memilih berdiri di tempatnya menyaksikan ulah kedua orang itu, termasuk saat Yuli membanting uang ke tanah. Merasa ulah itu sudah mengganggu, ia mengusir kedua Aremania tersebut keluar lapangan. Namun kawan Yuli justru berlari mendekat dan menunjukkan gestur tantangan untuk berkelahi.

Kelvan bukan Cantona. Dia memilih berpikir panjang. "Kalau tak ingat sanksi bakal saya ladeni," katanya, sebagaimana dilansir emosijiwaku.com. Ia tak langsung menghajar suporter tersebut dan memilih mengambil ancang-ancang untuk membela diri. Adu fisik berhasil dicegah setelah seorang panitia pelaksana dan sejumlah pemain Persebaya memisah keduanya.

Beruntung tak ada pemain yang terluka, seperti saat pertandingan tim cadangan Ajax Amsterdam melawan Feyenoord. Robin van Persie dan Jorge Acuna terluka kena bogem mentah fans Ajax yang menyerbu lapangan pada Kami 15 April 2004. Rivalitas Ajax dan Feyenoord adalah salah satu rivalitas paling terkenal di dunia sepak bola.

Ini sebuah pertandingan yang ganjil di pekan ke-24 Liga 1. Persebaya dan Arema sama-sama berada di luar peringkat sepuluh besar klasemen. Namun Aremania memperlakukannya bagai sebuah partai final. Tensi tinggi muncul dari seluruh tribun di Kanjuruhan. Bahkan terlampau berlebihan. 

Prosesi mengheningkan cipta untuk korban bencana alam di Sulawesi Tengah dan Lombok gagal total. Bukannya sunyi, sekujur stadion justru riuh dengan nyanyian berlirik kebencian dan provokasi terhadap Bonek maupun Persebaya. sejumlah pelanggaran regulasi dilakukan penonton tuan rumah di depan mata Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha, Wakil Ketua Umum PSSI Iwan Budianto, dan anggota Komite Eksekutif Gusti Randa yang sedang menonton di tribun kehormatan: mulai dari spanduk-spanduk provokatif dan porno, menyalanya cerawat, lemparan benda-benda keras ke arah pemain Persebaya, perobekan spanduk dengan logo Persebaya, mengencingi gawang, hingga melakukan intimidasi.

Bahkan sebuah video amatir di media sosial menunjukkan adanya aksi pengeroyokan terhadap seseorang di tribun penonton. Berdasarkan pantauan Beritajatim.com di lapangan, nyaris di semua sektor tribun Stadion Kanjuruhan, terjadi insiden pengeroyokan: mulai dari tribun timur, tribun selatan, tribun utara bahkan tribun VIP sekalipun. Salah satu korban bahkan adalah Aremania sendiri.

Puncaknya, suporter menginvasi lapangan sesaat setelah peluit wasit berbunyi, merayakan kemenangan. Di Eropa, invasi suporter biasanya terjadi hanya ketika sebuah tim memastikan gelar juara liga. Ini kali kedua Aremania menginvasi lapangan, setelah sebelumnya itu terjadi saat pertandingan melawan Persib Bandung.

Di atas lapangan hijau, pertandingan yang disebut-sebut sebagai derbi Jawa Timur itu justru jauh dari aura emosional. Pelanggaran demi pelanggaran masih dalam kategori wajar, dan pemain kedua tim saling membantu jika ada pemain lawan yang terjatuh karena pelanggaran. Pertandingan itu terlalu sopan untuk disebut sebagai sebuah derbi.

Persebaya Surabaya yang biasanya sangat ofensif, sore itu memilih bermain penuh kesabaran dan menanti pemain Arema berbuat kesalahan sendiri saat menyerang, untuk dimanfaatkan menjadi serangan balik. Pelatih Persebaya Djajang Nurjaman memang memainkan formasi 4-3-3, dan menurunkan trisula David da Silva, Irfan Jaya, dan Osvaldo Haay. Sementara lini tengah diisi gelandang bertahan M. Hidayat, Misbakus Solikhin, dan Rendi Irwan. Di lini belakang, Otavio Dutra bisa diturunkan berduet dengan Andri Muliadi sebagai bek tengah, diapit Abu Rizal Maulana sebagai bek kanan dan Ruben Sanadi di sisi kiri.

Babak pertama, pemain Persebaya bermain disiplin dalam bertahan dan membangun serangan dengan kaki ke kaki dari belakang. Osvaldo Haay, Irfan, dan Da Silva berani bertarung membawa bola menerobos pertahanan Arema berkali-kali. Namun sepanjang pertandingan, tak satu pun ada tembakan akurat yang membuat kiper Arema Utam Rusdiana bekerja keras.

Pergerakan cepat pemain ofensif Arema Sunarto, Dendi Santoso, dan Dedik Setiawan yang lebih banyak memanfaatkan sisi kanan Persebaya, membuat Abu Rizal harus bekerja keras. Ia tak bisa banyak membantu serangan seperti Ruben yang masih bisa sesekali menusuk dari sayap kiri. 

Para pemain Arema menyadari kunci keganasan lini depan Persebaya adalah Da Silva. Maka saat memegang bola, striker asal Brasil itu tak dibiarkan bebas dan langsung ditempel dua pemain. Sementara itu lini tengah Persebaya kalah bertarung melawan lini tengah Arema yang dimotori Makan Konate. Misbakus terlihat bermain tak lepas. Tak ada satu pun pemain Persebaya yang bisa menahan bola dan mengatur tempo serangan. Dampak tidak bermainnya Pugliara sangat terasa.

Babak kedua, para pemain Arema meningkatkan intensitas serangan dan membuat para pemain Persebaya tidak nyaman memegang bola. Da Silva kini dibiarkan sendirian di depan dan berjarak cukup lebar dengan lini tengah. Irfan Jaya maupun Rendi tampak kelelahan karena harus ikut turun membantu pertahanan. Pugliara akhirnya diturunkan pada menit 64 menggantikan Rendi yang cedera.

Sepanjang pertandingan, pemain Persebaya berkali-kali melakukan pelanggaran di depan kotak penalti. Setidaknya 23 kali pelanggaran terjadi, dan sebagian besar memberikan peluang bagi Arema memainkan skema bola mati. Menit 66, Dedik Setiawan melakukan tendangan salto setelah mendapat operan tendangan bebas Makan Konate. Penjaga gawang Miswar Saputra bermain solid dan bisa mengamankannya.

Namun tembok pertahanan Miswar tak bisa bertahan lama. Menit 69, lagi-lagi Arema mendapat hadiah tendangan bebas dari wasit Dodi Setia Purnama. Hadiah tendangan bebas ini dianggap kontroversial, karena dalam tayangan lambat televisi, Abu Rizal terlihat sama sekali tak menyentuh tubuh Ahmad Nur Hardianto yang terjatuh saat menggiring bola. "Tendangan bebas yang saya kira tak perlu diberikan," keluh Djajang Nurjaman.

Eksekusi Makan Konate berhasil ditepis Miswar. Namun bola jatuh di kaki Ahmad Nur Hardianto, yang masuk pada menit 57 menggantikan Sunarto. Hardianto menghajar bola ke gawang Miswar. Para pemain belakang Persebaya terlambat bereaksi. Gol ini menjadi satu-satunya pembeda dalam pertandingan sore itu dan membuat pelatih Arema Petrovic Milan mengepalkan tangan. "Yes!" pekiknya.

Hasil ini membuat Persebaya bertukar posisi dengan Arema di klasemen sementara pekan ke-24. Tim Bajul Ijo kini berada di peringkat 13 dan Arema berada di peringkat 11. Dengan 29 angka, Persebaya belum aman. Mereka hanya terpaut dua angka lebih banyak dengan PSIS Semarang yang berada di peringkat 16 atau peringkat tertinggi zona degradasi. Jika ingin selamat, skenario sapu bersih semua partai kandang harus direalisasikan. Jika tidak, maka deja vu musim 2009-2010 akan terjadi.

Musim itu, Persebaya kalah 0-1 di Kanjuruhan setelah wasit Ole Hadi memberikan hadiah penalti jelang pertandingan berakhir. Kendati gagal mencuri angka, Persebaya disambut bak pahlawan oleh Bonek di Surabaya. Namun pada pengujung musim, pelatih Danurwindo harus melihat timnya terdegradasi, setelah melalui pertandingan ulang dengan Persik Kediri.

Sabtu malam kemarin, para pemain Persebaya juga mendapat sambutan luar biasa dari Bonek setiba di Surabaya. Mereka menilai para pemain sudah tampil dengan gagah berani, terutama Kelvan yang menghadapi intimidasi dari dua Aremania. Tentu tak ada Bonek yang ingin Persebaya saat ini menjejaki jalur yang sama dengan musim 2009-2010.

Komisi Disiplin PSSI juga kini di bawah sorotan. Saat putaran pertama, Persebaya dijatuhi denda Rp 300 juta karena lima tingkah laku buruk suporter, yakni melemparkan botol, menyalakan cerawat, menyalakan bom asap, maskot mengacungkan jari tengah kepada pemain Arema, dan membalik nama Arema FC di papan skor.

Persebaya juga mendapat tambahan denda Rp 100 juta karena dianggap gagal memberikan rasa aman kepada tim tamu, karena pemain Arema dilempari saat menuju lorong ruang ganti dan ada penonton yang mengencingi gawang serta memasuki sentel ban.

PSSI sudah berjanji akan menjatuhkan sanksi berat kepada tim dengan suporter yang menyanyikan lagu hujatan dan memasang atribut dukungan bernada provokatif. Bahkan ada wacana pertandingan akan dihentikan jika nyanyian penuh kebencian terdengar di stadion. Wacana itu tak terbukti. Kini publik menanti sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada Arema maupun Aremania dengan banyaknya jenis pelanggaran dalam pertandingan Sabtu sore itu. 

Dua puluh tiga tahun lalu, Matthew Simmons dihadapkan pada pengadilan Croydon Magistrates Court. Belakangan, ia terbukti melakukan pelecehan rasis kepada Cantona dengan mengatakan "Fuck off back to France you French bastard" dan menyebut ibunda Cantona pelacur.

Crystal Palace mencabut tiket musiman Simmons. Dia juga didenda membayat 500 pound (atau sekitar Rp 10 juta dengan kurs saat ini) dan tak boleh menyaksikan pertandingan di stadion mana pun di Inggris selama setahun.

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, Cantona mengaku tak pernah menyesal menghajar suporter Palace. "Orang semacam itu tak layak berada di pertandingan. Beberapa orang bermimpi menendang mereka. Jadi saya melakukannya untuk orang-orang itu," katanya.

Kita di Indonesia tentu tak perlu menanti ada pemain yang bertemperamen seperti Cantona untuk memberikan hukuman yang pantas untuk fans yang bertindak di luar batas. [wir]

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan