Liga 1 Pekan 23

Da Silva, Maafkanlah Bonek!

Senin, 24 September 2018 17:08:43
Reporter : Oryza A. Wirawan
Da Silva, Maafkanlah Bonek!

Air mata bahagia. Hat-trick. Gol ke-800. Pencetak gol terbanyak. Semua sudah cukup untuk menceritakan bagaimana David da Silva pada Sabtu malam (22/9/2018) di Gelora Bung Tomo, Surabaya. Tidak bisa tidak. Kemenangan 4-1 Persebaya atas Mitra Kutai Kartanegara adalah panggung kehebatan ujung tombak gundul dari Brasil itu.

Da Silva adalah striker yang tak diperhitungkan oleh Bonek, suporter Persebaya, sendiri. Awal direkrut dari Bhayangkara FC, suara-suara minor bermunculan di kalangan suporter Persebaya. Setelah sempat bermain 28 kali dan mencetak 11 gol untuk klub Al-Khor di Liga Qatar pada musim 2017-2018, ia sempat bermain sebentar di Bhayangkara selama pramusim sebelum akhirnya dilepas.

Dilepas oleh klub yang punya sejarah buruk dalam pembekuan Persebaya selama bertahun-tahun, bahkan sebelum kompetisi resmi dimulai, tentu bukan catatan manis bagi Da Silva di mata Bonek. Sebagian Bonek mempertanyakan keseriusan manajemen merekrut pemain berkualitas. Apalagi ada kabar, bahwa Da Silva punya masalah dengan pengelihatan yang tak sempurna.

Namun waktu membuktikan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Da Silva. Selama 23 pekan Liga 1 tahun ini, pemain kelahiran Sao Paulo 12 November 1989 ini sudah mencetak 16 gol dan nangkring di puncak daftar tukang gedor. Lebih hebat lagi, dia hanya sebelas kali bermain dalam 'starting line-up' selama ini.  

Ini catatan gol terbanyaknya selama bermain di berbagai liga di dunia. Sebelumnya, gol terbanyak dicetaknya saat bermain di Shelbourne, sebuah klub Divisi Pertama Liga Irlandia, pada 2011-2013 yakni 12 gol.

Da Silva juga tercatat sebagai pemain asing pertama yang berhasil mencetak dua kali hat-trick musim ini. Sebelumnya, hat-trick juga dicetak ke gawang PS Tira dalam putaran pertama di Jogjakarta.

Da Silva sangat sesuai dengan formasi 4-3-3 yang dipakai Alfredo Vera, Bejo Sugiantoro, dan, saat ini, Djajang Nurjaman. Dia tipikal penyerang modern yang memiliki 'work rate' bagus. Ruud Gullit dalam buku How to Watch Soccer pernah mengatakan, ujung tombak memiliki masa tersulit dalam beradaptasi dengan 4-3-3 zaman sekarang. Mereka kini tak hanya menanti operan dari sayap dan menyelesaikannya. Lebih dari itu, ujung tombak harus bisa membuka ruang untuk pemain sayap agar bergerak masuk ke zona pertahanan lawan.

"Normalnya, setidaknya 15-20 tahun silam, pemain yang berada pada posisi melebar diharapkan mendukung kinerja ujung tombak. Hari ini, jika tim kehilangan bola, pemain sayap praktis dipaksa memainkan peran bek kiri dan bek kanan sejak mereka mengejar langsung gelandang bertahan lawan," kata Gullit. Dengan kata lain, ujung tombak harus siap bekerja keras sendirian, dan itulah yang dilakukan Da Silva.

Da Silva bukan tipe striker manja. Tak hanya menanti bola di zona pertahanan lawan, Da Silva juga sering jauh ke belakang untuk ikut melakukan 'pressing' terhadap pemain lawan, berduel di udara, atau mencuri bola untuk dibawa lari dari lapangan tengah.

Kelebihan Da Silva ada pada kencangnya lari dan keseimbangan tubuh yang bagus. Dia berani melakukan 'drible' sendirian dan sulit dijatuhkan oleh tekel bersih pemain lawan. Dia juga tak segan bergerak melebar, jika diperlukan, dan memberikan assist untuk rekan-rekannya. Sebelum melawan Mitra Kukar, dia sudah membukukan dua assist dan sembilan operan kunci. Dia juga 36 kali sukses melakukan drible. Lebih baik daripada Fernando Rodriguez, striker Mitra Kukar, yang mencatat 15 gol dan 10 dible sukses, serta bertengger di puncak pencetak gol terbanyak hingga pekan 22.

Paket komplit Da Silva tersajikan malam itu. Dia tak harus selalu berada di depan gawang. Dia bisa menarik perhatian pemain lawan yang mengawalnya dengan menjauh sedikit dan memberikan ruang kepada pemain Persebaya lainnya untuk masuk. Ini terlihat pada menit keempat. Ruben Sanadi menusuk dari sayap kiri dan mengirimkan bola lambung ke tengah kotak penalti Mitra Kukar. Tiga pemain di depan gawang Yoo Jaehoon adalah Osvaldo Haay, Irfan Jaya, dan Rendi Irwan.

Da Silva mencetak gol pertama pada menit 30 setelah bola yang bergerak seperti 'pin ball' di kotak penalti Mitra Kukar. Ruben Sanadi lagi-lagi membuat kekacauan barisan pertahanan Mitra dengan mengirimkan bola lambung dari kiri yang ditanduk Osvaldo Haay dan dibuang dengan sundulan pula oleh barisan bek Mitra. Bola jatuh di kaki Irfan Jaya dan dilepaskan dengan tendangan keras mendatar. Bola terpental kena kaki para pemain Mitra yang bergerombol dan jatuh di kaki Misbakus Solikin.

Ada tujuh pemain Mitra di kotak penalti yang melindungi gawang Jaehoon. Di tengah keruwetan 'pin ball' itu, Da Silva menjauh dari kerumunan pemain Mitra yang lebih tersita oleh aliran liar bola daripada pergerakan pemain lawan. Danny Guthrie memang berhasil memblok tendangan jarak jauh Misbakus. Namun bola jatuh terpental ke kaki Da Silva yang tanpa ampun menghajarnya ke gawang Jaehoon. "Itu kalau gawang tidak ada jaringnya, bola bisa sampai parkiran," kata komentator televisi memuji kencangnya bola yang dilesakkan Da Silva.

Gol kedua pada menit 38 dicetak Da Silva melalui titik putih. Namun proses terjadinya penalti tak lepas dari peran defensifnya. Da Silva melakukan intersep di lapangan tengah dan beradu lari dengan bek tengah Mitra Kukar Mauricio Leal, sebelum akhirnya memberikan umpan daerah kepada Rendi Irawan yang muncul berlari kencang dari belakang.

Da Silva membetot perhatian tiga pemain lawan yang tak menyadari bahwa Rendi berlari menusuk, menyongsong bola yang bergulir di antara Saepulloh Maulana dan Rendi Siregar. Tak ada jalan lain bagi Siregar untuk menghentikan kecepatan Rendi Irawan kecuali dengan pelanggaran dalam kotak penalti. Da Silva mengeksekusi bola penalti dengan dingin.

Sepanjang pertandingan, trisula Persebaya tak selalu bergerak sejajar. Beberapa kali Irfan Jaya dan Osvaldo Haay mundur lebih ke tengah untuk melakukan pressing dan merebut bola, lalu melakukan skema serangan balik. Formasi cenderung menjadi 4-2-3-1 dengan Da Silva sebagai seorang penyerang tunggal. Menit 40, Irfan Jaya mengintersep serangan pemain Mitra Kukar dan mengirimkan bola langsung ke Da Silva yang berlari kencang sebelum menembakkannya ke gawang Jaehoon.

Namun malam itu, Da Silva bukan satu-satunya yang cemerlang. Hampir di semua lini Persebaya bermain trengginas dan pantang menyerah. Pressing tinggi yang hilang saat melawan PS Tira dan keteledoran lini belakang saat melawan Sriwijaya FC berhasil ditekan seminimal mungkin.

Miswar Saputra akhirnya bisa memenuhi harapan tentang sosok sweeper keeper yang mengawali serangan secara efektif, bukan hanya membangun serangan dengan operan pendek, tapi juga operan jauh. Menit 59, ia mengirimkan bola panjang jauh langsung menuju Da Silva di daerah pertahanan Mitra Kukar. Kali ini Da Silva membuat Saepulloh Maulana terjatuh saat beradu badan untuk merebut bola. Dia mencetak gol ketiganya sekaligus membenamkan Mitra Kukar 4-1.

Tiga gelandang Persebaya, Rendi Irwan, Misbakus Solikhin, dan M. Hidayat juga menunjukkan bagaimana pressing adalah kunci kemenangan sore itu. Setelah terlibat dalam gol pertama dan kedua, Rendi dan Irwan terlibat dalam gol ketiga pada menit 49. Umpan pendek Rendy Siregar kepada Bayu Pradana berhasil diintersep oleh Misbakus. Bola jatuh di kaki sang kapten Rendi yang kembali melepaskannya kepada Misbakus yang berlari menusuk ke kotak penalti. Jaehoon menjatuhkan diri. Namun bola berhasil melewati tubuhnya dan masuk ke gawang.

Tingginya tensi pertandingan sempat membuat bek tengah Fandry Imbiri bersitegang dengan Bayu Pradana, dan wasit Oki Dwi Putra Senjaya mengeluarkan kartu merah untuk pemain asal Papua itu pada menit 52. Dengan demikian Fandry akan absen saat melawan Arema dalam laga tandang di Malang pada pekan ke-24. Ini sebuah kerugian besar, karena tiga pertandingan sebelumnya Fandry juga absen karena cedera. Begitu Fandry keluar, Mitra mencetak gol ke gawang Miswar Saputra melalui kaki Hendra Adi Bayaw pada menit 55.

Catatan penting malam itu adalah bagaimana semua pemain Persebaya bermain dengan hati dan nyali. Mereka berlari mengejar bola ke mana saja. Jatuh bangun melakukan pressing dan tak memberikan ruang gerak kepada Fernando Rodriguez untuk menambah gol dalam daftar top scorer. Permainan dengan hati inilah yang diinginkan semua suporter di dunia terhadap para pemain yang berseragam klub mereka. Dan Bonek selayaknya malam itu juga meminta maaf kepada Da Silva karena telah meragukan nyali dan keteguhan hatinya untuk bermain bagi Persebaya. [wir]

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan