Liga 1 Pekan 22

Persebaya, Pelajaran Gelas Berisi Air di Jaka Baring

Rabu, 19 September 2018 06:51:50
Reporter : Oryza A. Wirawan
Persebaya, Pelajaran Gelas Berisi Air di Jaka Baring
foto: dokumen beritajatim.com

Pertandingan Persebaya Surabaya melawan Sriwijaya FC di Stadion Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (16/9/2018), berakhir imbang 3-3. Ini pertandingan pekan ke-22 dan pertandingan kedua di bawah penanganan pelatih Djajang Nurjaman. Mendadak hasil ini mengingatkan kita terhadap filosofi 'gelas dalam air': apakah akan menganggap hasil ini seperti gelas yang terisi separuh air atau gelas yang separuh kosong. Ini bakal menjadi perdebatan yang layak.

Datang sebagai tim terluka, pertandingan di Palembang harus dimenangi Persebaya. Pertama, ini kesempatan untuk menjauh dari zona degradasi karena Sriwijaya tengah menghadapi krisis finansial. Sebelum pertandingan, Sriwijaya berada di peringkat 12, satu setrip di atas Persebaya. Jadi mengalahkan tim yang diasuh Subangkit itu adalah sebuah keharusan.

Kedua, Jaka Baring adalah stadion bersejarah di mana pertandingan tunda yang mendegradasikan paksa Persebaya pada 2010 digelar. Kala itu, Persebaya menolak datang setelah beberapa kali pertandingan tunda gagal digelar panpel Persik Kediri. Persebaya kalah WO 0-3 dan sejarah kemudian mencatat: inilah awal perlawanan arek-arek Surabaya terhadap PSSI yang berjalan bertahun-tahun kemudian. Kemenangan di Jaka Baring seperti mengusir 'hantu' masa lalu.

Namun Persebaya menghadapi problem yang berulang: tak bisa menurunkan starting line-up ideal, terutama di sektor pertahanan. Irfan Jaya sudah bisa bermain. Namun tiga pemain bertahan, Otavio Dutra, Fandry Imbiri, dan Ruben Sanadi tak bisa dimainkan karena cedera. Gelandang bertahan Nelson Alom juga diperkirakan bakal beristirahat lama. "Nelson pasti lama penyembuhannya. Menjelang akhir kompetisi, juga belum tentu dia bisa bermain," kata Djajang Nurjaman, pelatih Persebaya.

Djajang pun terpaksa menurunkan formasi pemain bertahan yang baru. Bek tengah diisi OK John dan Andri Muladi, bek kiri M. Irfvan, dan bek kanan Abu Rizal Maulana. Sebelumnya, Irvan baru tiga kali bermain sejak awal dan seluruhnya laga tandang: melawan Mitra Kukar (1-3), Madura United (2-2), dan Perseru Serui (1-3). Sementara Andri Muladi juga baru tiga kali masuk dalam susunan pemain awal: melawan PS Tira (4-1), melawan Mitra Kukar (1-3), dan melawan Bali United (1-0).

OK John baru dua kali bermain sebagai bek sejak menit awal, yakni saat melawan PSIS (0-1) dan PS Tira (0-2). Saat bertandang ke Banjarmasin melawan Barito Putra, OK John diposisikan sebagai gelandang bertahan.

Sementara di sektor gelandang, Djajang menurunkan M. Hidayat sebagai tukang angkut air dan Misbakus menjaga keseimbangan sebagai gelandang sentral yang punya kemampuan mengeksekusi bola-bola mati. Sementara Pugliara didorong lebih ofensif seperti biasanya. Komposisi trio ini juga baru. Sebelumnya, selama lima kali turun sejak sepak mula, Hidayat baru sekali berpasangan dengan Misbakus yakni saat melawan Persib Bandung di Surabaya dan diwarnai hujan gol berujung kekalahan 3-4.

Djajang tahu Pugliara tengah tidak fit. Namun dia tak punya banyak pilihan. "Dia sebenarnya tidak siap main dari menit awal, karena memang ada masalah. Saya paksa mudah-mudahan kamu bisa bermain 45 menit," katanya.

Di lini depan, David da Silva masih jadi ujung tombak dengan didampingi dua pemain sayap Osvaldo Haay dan Irfan Jaya. Ini juga komposisi baru. Selama ini, saat bermain bersama Da Silva, Irfan yang beroperasi di kanan mendapat partner Ferinando Pahabol di seberang. Dua kali trio Irfan-Da Silva-Pahabol diturunkan, dua kali pula Persebaya selalu pulang membawa poin, yakni saat melawan Madura United (2-2) dan PSMS Medan (2-0).

Hadirnya kembali Irfan sempat memunculkan harapan, setelah memberikan assist kesenangan Da Silva pada menit 2. Umpan yang memberikan ruang kepada penyerang berkepala pelontos itu untuk beradu lari dengan Goran Ganchev dan menaklukkan kiper Teja Paku Alam.

Tertinggal, Sriwijaya bermain nyaris 'gung-ho'. All out attack. Ini menimbulkan kepanikan di benteng pertahanan Persebaya. Mereka terfokus pada aliran bola, namun tidak melihat pergerakan pemain lawan. Padahal trio Alberto 'Beto' Goncalves da Costa, Manuchehr Jalilov, dan Estaban Vizcarra memiliki kecepatan dan pergerakan mobil. Mereka kerap bergerak membuka ruang dan berpindah posisi, yang membuat pemain lawan kebingungan mengawal.

Menit 18, setidaknya ada tiga pemain Sriwijaya yang berada di kotak penalti Persebaya dan tiga lainnya berada di dekatnya. Mereka berhadapan dengan tujuh pemain Persebaya dan Miswar Saputra yang memilih tidak menjauh dari gawangnya. Para pemain Persebaya memilih mengeblok bola yang bergulir dari tengah namun tidak mengawasi Vizcara yang berada di ujung kanan kotak penalti.

Pemain Persebaya pertama yang mencoba mengganggu Vizcarra bukanlah seorang bek, melainkan Irfan Jaya yang turun jauh ke belakang untuk membantu pertahanan. Dalam pertandingan kali ini, Irfan maupun Da Silva memang layak dipuji, karena besarnya peran defensif mereka menghadapi gempuran Sriwijaya.

Vizcarra bebas menerima umpan, menggiringnya, dan mengirimkan bola ke gawang Miswar dari luar kotak penalti layaknya seorang sniper ulung. M. Hidayat mencoba mengganggu setelah Irfan gagal. Namun berikutnya kita tahu: 1-1.

Sejak menit awal, Sriwijaya memilih mengambil inisiatif mendominasi pertandingan, langsung mengirim bola ke depan, dan membiarkan trio pemain depan mereka bergerak cair mengacak-acak pertahanan Persebaya. Taktik Subangkit cukup berhasil. Para pemain Persebaya memang kedodoran. Mereka memilih melakukan blok zona defensif dan tak melakukan man-to-man marking. Ini membuat beberapa kali pula trisula Sriwijaya tak terbendung.

Sebenarnya, kendati gagal menguasai bola selama mungkin selayaknya filosofi possesion football, pemain Persebaya bermain cukup efektif saat menyerang. Tidak hadirnya Ruben Sanadi memang terasa, karena suplai bola udara dari sayap kiri sangat tereduksi. Abu Rizal pun tak terlalu rajin melakukan manuver ke depan dan lebih banyak menyerahkan pergerakan sayap kepada Irfan Jaya.

Namun para pemain Persebaya lebih banyak langsung mengirimkan bola ke depan melalui umpan daerah, yang memaksa para pemain bertahan Sriwijaya beradu lari dengan Da Silva yang sering bertarung sendirian. Djajang tahu, pertahanan Sriwijaya tidak sebagus lini depan mereka. Hingga pekan ke-21, Teja Paku Alam sudah 31 kali memungut bola dari gawang. Umpan-umpan terobosan memberikan kesempatan kepada Da Silva maupun Irfan beradu cepat dan membuat pemain bertahan melakukan kesalahan sendiri.

Lemahnya para pemain bertahan Sriwijaya terlihat saat gol kedua Persebaya. Menit 20, bola tendangan sudut Misbakus Solikhin berhasil ditanduk OK John dan masuk ke gawang Teja Paku Alam. Bek tengah Sriwijaya, Goran Ganchev, melakukan dosa keduanya malam itu. Setelah kalah beradu lari dengan Da Silva, kini dia dikalahkan bek Persebaya yang bertubuh seperti petinju, OK John, di udara. "Dia sangar layaknya petinju profesional," puji Valentino Simanjuntak, komentator televisi.

Kelemahan pemain Sriwijaya terlihat dari skema gol ketiga Persebaya pada menit 52. Bola panjang dari Abu Rizal Maulana sebenarnya jatuh di kaki bek Sriwijaya Achmad Faris. Namun sapuan yang tak sempurna, membuat bola justru diterima Osvaldo Haay, yang berlari dan mengirimkannya kepada Da Silva yang muncul dari belakang tanpa kawalan.Ganchev kembali melakukan kesalahan. Sebagai bek berposisi terdekat dengan Da Silva, justru dia terbetot aksi dribling  Haay dan membiarkan Da Silva menemukan ruang kosong nan nyaman dalam kotak penalti Sriwijaya.

Unggul 3-1 ternyata tak menggaransi tiga angka. Soliditas Persebaya sebenarnya mulai melemah, setelah Pugliara keluar lapangan. Seperti perkiraan Djajang, Pugliara hanya bertahan di lapangan pada babak pertama. Menit 41, dia harus meninggalkan lapangan karena cedera dan digantikan Rendi Irwan. Rendi seorang pemain ofensif dan tangguh dalam duel. Namun dia berbeda dengan Pugliara yang memiliki kelebihan dalam membaca pertandingan yang malam itu dibutuhkan untuk mencari celah kelemahan Sriwijaya di tengah taktik ofensif Subangkit.

Rendi beberapa kali 'hilang' dalam pertandingan, terutama setelah pemain Sriwijaya bermain sangat ofensif dan rajin melakukan pressing. Sementara itu, pemain-pemain Persebaya justru mengendorkan tekanan. Pemain-pemain yang rajin melakukan pressing, selain Hidayat, justru pemain depan seperti Irfan Jaya. Begitu kena serang, pemain Persebaya memilih buru-buru mundur melakukan 'blocking' di tengah daerah pertahanan, dan mengabaikan aliran serangan dari sayap.

Dua gol balasan Sriwijaya dalam tempo tujuh menit menunjukkan dua hal: kepanikan dan tak adanya sosok pemimpin yang memberikan ketenangan dan komando di lini belakang. Menit 54, bola dari tendangan sudut Yu Hyun Koo diterima dengan kepala oleh Gorsan Ganchev. Tak ada yang mengganggu Ganchev, sehingga dengan mengoperkan bola dengan kepala kepada Jalilov yang juga tak terkawal.

Abu Rizal, Misbakus, dan Moch. Irvan Febrianto seperti terkena gendam menyaksikan Jalilov yang memutar badan, berhadapan langsung dengan Miswar. Kiper kelahiran Aceh itu sudah berusaha sebisa mungkin maju dan merentangkan badan untuk mencegah bola masuk. Namun itu tak cukup untuk menahan aksi Jalilov.

Djajang hanya bisa geleng kepala. Menit 61, giliran Alberto 'Beto' Goncalves yang memperdaya barisan pertahanan Persebaya. Kini berawal dari Jalilov yang menggocek bola dan menyedot pemain Persebaya berkumpul ke tengah untuk melakukan 'blocking' dan silap memantau pergerakan Beto, yang bergerak dari tengah ke kanan, membuka ruang kosong. Bola dioperkan. Tak ada kawalan. OK John mencoba mengejar, namun terlambat. Beto mengulang kembali golnya ke gawang Persebaya sebagaimana pada putaran pertama di Surabaya.

Djajang melihat kurangnya jam terbang membuat pemain-pemain muda Persebaya mudah terpancing pergerakan pemain depan lawan. Ia memang tak menginstruksikan khusus kepada salah satu atau dua pemain bertahan untuk mengawal trisula Sriwijaya. Namun, Djajang menyebut Beto seharusnya dikawal Irvan Febrianto, saat pemain naturalisasi itu bergerak ke kanan. "Tapi Ambon (sapaan Irvan) malah terpancing ke tengah (melakukan blocking)," katanya.

Jadi, bagaimanakah pendukung Persebaya menerima hasil ini? Memandangnya seperti gelas yang separuh terisi atau gelas yang separuh kosong? Optimistis atau pesimistis? Terkena 'epic comeback' memang menyakitkan. Bonek bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Milanisti dan pemain AC Milan pada 2005, setelah terkena 'epic comeback' saat melawan Liverpool. Hal terberat adalah melupakan pertandingan 'nyaris menang', karena terasa lebih berat daripada kalah dengan skor meyakinkan.

Formasi 4-3-3 memang menjanjikan ketajaman. Saat ini dengan torehan 34 gol, Persebaya sama tajamnya dengan Persib Bandung yang kini di puncak klasemen. Lini serang Green Force lebih baik daripada 13 tim lain dan hanya kalah selisih satu gol dengan Barito Putra dan Persela Lamongan. Namun, ketajaman tak ada gunanya jika tembok pertahanan mudah dijebol. Hingga pekan 22, lini belakang Persebaya terburuk keempat setelah PS Tira (kebobolan 44 gol), PSMS (40 gol), dan Mitra Kukar (36 gol).

Tak ada yang salah dengan filosofi 4-3-3 ofensif, karena dengan komposisi pemain depan dan tengah Persebaya, formasi ini memungkinkan permainan lebih mengalir dan cair dengan memanfaatkan lebar lapangan. Namun dalam hal bertahan, formasi ini juga mengharuskan pertahanan dimulai dari semua lini, terutama untuk mengantisipasi serangan balik lawan. Pressing adalah tanggung jawab semua pemain. Itulah sebabnya kenapa Irfan Jaya dan Rendi seringkali mengejar bola hingga jauh dari posisi awal. Kecepatan mereka tak hanya menguntungkan saat Persebaya melakukan serangan, tapi juga saat menghadapi serangan balik.

Pressing inilah yang akhir-akhir ini hilang. Para pemain Persebaya rajin membangun serangan dari bawah, namun kurang disiplin melakukan pressing di semua lini. Itulah sebabnya para pemain depan lawan mudah sekali menusuk ke jantung pertahanan, karena aliran bola minim gangguan.

Masalah lainnya adalah banyak pemain belakang yang tumbang karena cedera. Ini merepotkan Djajang, mengingat selama ditangani Alfredo Vera, lini belakang paling jarang diutak-atik dibandingkan lini depan dan tengah. Dari semua pemain yang paling banyak diturunkan sejak awal, pemain belakang memiliki frekuensi tertinggi: Ruben Sanadi (15 dari 22 pertandingan), Dutra (11 pertandingan), Fandry Imbiri (15), dan Abu Rizal (21 kali). Bahkan gelandang bertahan Nelson Alom sudah lama tak bermain. Terakhir pemain asal Papua ini bermain di tim inti saat Persebaya bertandang di Makassar melawan PSM.

Stok Djajang terbatas. Setelah Nelson cedera, gelandang bertahan ideal adalah M. Hidayat. Namun Pemain bernomor punggung 96 itu sudah lama beristirahat karena cedera. Belum pulihnya fisik Hidayat terlihat saat harus diganti di pertengahan babak kedua saat melawan Sriwijaya.

Opsi lainnya, menurut Djajang, adalah mendorong OK John memainkan peran tersebut. Namun dengan belum pulihnya dua bek tengah, Dutra dan Fandry Imbiri, opsi itu agak berisiko, karena praktis hanya akan menyisakan Andri Muladi dan Syaifuddin di lini belakang.

Djajang belum mengevaluasi faktor penyebab sering cederanya sejumlah pemain Persebaya. "Perlu saya pelajari dulu. Saya baru beberapa hari di sini," katanya.

Namun Djajang percaya diri dengan pemain-pemain muda Persebaya di lini belakang. "Lini belakang memang belum solid, terutama ada beberapa pemain yang boleh dikatakan jarang dimainkan sebagai starting eleven. Pemain kami masih belum berpengalaman, jam kerja kurang. Anak-anakl ini perlu ditambah lagi jam terbangnya. Untuk menjadi matang, perlu dikasih kesempatan. Makin sering tampil, semakin matang," katanya. [wir/suf]

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan