Semakin Banyak Pelukis Spesialis Objek

Rabu, 05 September 2018 12:13:19
Reporter : Ribut Wijoto
Semakin Banyak Pelukis Spesialis Objek

Meskipun bukan fenomena baru, entah mengapa, semakin banyak saja, pelukis yang memilih melukis objek-objek tertentu. Spesialis. Ada pelukis spesialis macan, ikan, pohon siwalan, ayam jago, maupun pelukis wanita bibir dower.

Mari kita simak satu per satu kebiasaan dan karakter para pelukis ini:

(1)



Dia adalah pelukis spesialis macan. Namanya Masruri Jayawangsa, kelahiran Brebes. Jika sudah melukis macan, seluruh daya imajinasi dan kepekaan dikerahkan. Antara Masruri dengan macan sudah seperti dua dalam satu, satu dalam peleburan.

Masruri tanpa menutup-nutupi mengaku sangat kagum dengan karakter macan. "Macan itu simbol kewibawaan, kekuasaan dan kekuatan. Macan itu gagah dan berani," tuturnya.

Hasilnya tidak tanggung-tanggung. Menurut orang-orang, dalam lukisan, Masruri berhasil mengkombinasikan kegagahan dan kelembutan karakter macan. Tatapan macan dalam lukisan Masruri memancarkan sinar tajam. Tajam dan penuh wibawa. Sebaliknya, bulu-bulu macan dalam lukisan Masruri tergarap dengan lembut. Lembut seperti sutera.

(2)



Ketika melukis pohon siwalan, Robert Santari sudah seperti menggambar anggota tubuh sendiri. Hapal luar kepala. Tidak hanya hapal, pohon siwalan dalam lukisan Santari seakan bernyawa. Hidup. Sebagaimana siwalan yang berdiri berjajar-jajar di daerah pesisir pantai Tuban.

Hijau helai daunnya yang tebal menunjuk ke atas langit. Serupa kipas. Sedang daun-daun yang lebih tua, berwarna hijau kecoklatan, tangkainya melengkung ke arah bawah. Dari kejauhan, gigir duri yang berujung dua masih samar-samar terlihat.

Daun-daun yang ditopang oleh kekokohan batang. Batang kehitaman yang memperlihatkan ketabahan ditempa puluhan tahun usia. Batang yang tampak berdiri tegas, keras, serta berat. Lukisan Robert Santari menempatkan pohon siwalan seolah menjadi pusat tumbuhan lain di sekitarnya. 

Begitulah, lukisan-lukisan pria kelahiran Tuban, 16 Februari 1972, ini seperti mengajak orang untuk berpetualang keliling desa-desa di pesisir utara pulau Jawa. Mengajak orang untuk lebih mengenal pohon siwalan atau kadang disebut lontar. Pohon yang batangnya, pelepahnya, daunnya, buahnya sanggup memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Bisa untuk kerajinan tangan, untuk perabotan rumah tangga, untuk legen yang segar itu, dan juga (dulu) untuk menulis babad-babad sejarah Jawa.

“Pohon siwalan ini memang sebagai pohon kehidupan,” tutur Robert Santari yang bulan Agustus 2018 ini barusan kelar berpameran di Jakarta, di mana hampir seluruh lukisannya sold out.

(3)



Sekilas, lukisan bambu Aries Maulana sangat mirip cetak foto. Bahkan lebih. Memakai akrilik yang cepat kering, Aries dengan tabah membikin sapuan-sapuan lembut. Gradasi dan blanding digarap dengan sangat sabar. Sebuah kerja kesabaran dan ketabahan  hasil dari pengalamannya selama 5 tahun merantau di Bali.

Begitulah, secara otodidak, Aries memang mempelajari teknik melukis dari banyak pelukis Bali. Tidak hanya teknik sebenarnya, Aries juga belajar tentang filosofi hidup. Belajar menyerap ilmu-ilmu dari alam sekitarnya. Dan, Aries terkesima pada bambu. Maka, Aries memilih untuk terus melukis bambu. Melukis sekaligus menyelaminya. Sebab dari bambu, dia mendapat beragam pelajaran hidup.

Dari bambu, pelukis asal Banyuwangi yang kini menetap di Blitar itu bisa mengetahui bahwa hidup tidak bisa sendirian. Hidup harus berkelompok, bersosial, saling membutuhkan. “Bambu adalah penyeimbang alam,” begitu katanya.

Ketika angin datang, bambu akan merunduk. Lalu kembali tegak begitu angin usai. “Ini laksana perjalanan hidup seorang manusia. Yang tidak pernah lepas dari cobaan dan rintangan,” imbuhnya.

(4)



Melihat lukisan-lukisan Edy Sugianto, atau biasa disapa Edot, sekilas saja orang teringat dengan ajang Jember Fashion Carnaval (Karnaval Busana Jember) atau sering disebut JFC. Ingatan itu merujuk pada busana dan aksesoris yang dipakai oleh tokoh-tokoh dalam lukisan Edot.

Ada tokoh wanita cantik berias (make up) tebal. Alis tebal, lipstik tebal, dan body painting (seni melukis tubuh) yang warna-warni. Riasan itu ditambah pula dengan mahkota berumbai-rumbai. Tubuh yang semarak serta selalu dilumuri senyuman.

Ajang JFC memang berhasil mengangkat nama Jember ke level nasional, bahkan manca negara. Jadi ikon Jember. Menginspirasi banyak orang. Karnaval serupa kini banyak ditemui di belahan kota manapun. Maka wajar saja, sebagai warga Jember, JFC turut menginspirasi Edot dalam melukis. Karakter tokoh-tokoh dalam JFC mendominasi karakter tokoh di lukisan Edot.

Tentu saja Edot tidak begitu saja memindahkan perwujudan wanita-wanita cantik yang melangkah menyusuri jalan utama kota Jember sepanjang 3,6 kilometer di ajang JFC. Sebagai seorang pelukis atawa kreator, Edot kerap mencipta sendiri karakter tokohnya. Artinya, spirit JFC diambil lantas diolah menjadi kreasi sehingga terciptalah karakter tersendiri dari lukisan-lukisan Edot. Sehingga yang terjadi kini justru sebaliknya, lukisan Edot menginspirasi untuk diwujudkan menjadi karakter tokoh JFC.

(5)



Ikan-ikan kerap kali membawa rasa teduh dan adem ketika dipandang. Rasa yang berpengaruh pada kenyamanan suasana hati. Kesan itulah ketika melihat lukisan dengan obyek ikan arwana dari M Nasruddin, pelukis asal Sidoarjo.

Terlebih, melalui lukisannya, M Nasruddin tidak sekadar mengejar keindahan. Dia mengusung pesan filosofi yang patut untuk direnungkan. Pesan bahwa manusia harus menjaga ekosistem. Salah satunya menjaga ikan-ikan tenang dalam habibatnya.

(6)



Keindahan tidak perlu dikejar terlalu jauh. Sebab, keindahan ada di mana-mana. Termasuk di sekitar kita. Prinsip keindahan ada di sekitar kita itulah yang tampaknya dipegang oleh Tamban Arif Maulana, pelukis asal Kota Batu.

Melalui lukisan, Tamban Arif menyuguhkan keindahan dari burung-burung yang biasa ditemui di sekitar kita. Empat burung gelatik yang bersijingkat di dahan, empat burung pipit yang tampak bercengkerama dengan akrab, lima burung perci kuning yang menggemaskan. Semua ditampilkan lewat sapuan yang halus. Sehingga terkesan elok dan sedap dipandang. Kehalusan yang tetap terjaga walau yang dilukis adalah elang jawa.

Tamban Arif menyatakan, keindahan alam (termasuk burung-burung) telah mulai tergantikan. "Burung elang itu dulu sering dijumpai di sekitar rumah. Sekarang entah pergi ke mana," katanya.

(7)



Tiga wanita itu, jika dilihat dari pakaiannya, mereka bukan dari kelas sosial menengah ke atas. Dengan sikap cukup berlebihan (baca: norak) mereka seperti terperangah oleh sesuatu, entah apa. Tapi yang jelas,  mereka kompak melihat ke arah yang sama, dengan ekspresi yang sama: norak.

Selain tatapannya yang sok kepo (rasa ingin tahu yang besar), ada satu kesamaan lain yang menonjol dari ketiga wanita itu, yaitu bibirnya. Adalah bibir-bibir yang dower. Bibir dower yang bikin gemas.

Lihat juga, begitu penasarannya mereka melihat (entah apa), sampai-sampai mereka mengabaikan bayi yang tengah disusui. Si wanita membiarkan payudaranya menggelantung bebas tanpa penutup sama sekali. Dan si bayi tampak dengan sangat nyaman tetap menyedot puting payudara ibunya.

Gambaran hidup dan ekspresi wanita-wanita kelas bawah yang mungkin kocak, jenaka, dan menggelikan sekaligus inspiratif itulah yang kerap kali ditampilkan Tedjo Konte melalui lukisan-lukisannya. Meskipun kocak, banyak unsur edukasi (pendidikan) dan kritik sosial-budaya melekat di situ.

(8)

Lalu mengapa pelukis memilih melakukan spesialisasi objek? Apakah karena alasan pendalaman tema, apakah untuk mengangkat ‘brand’ atawa image? Tentu masing-masing pelukis memiliki alasan tersendiri. [but]

Tag : seni

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan