Gerakan Seni Rupa Kejujuran Kawulo A-lit

Jum'at, 31 Agustus 2018 13:43:51
Reporter : Ribut Wijoto
Gerakan Seni Rupa Kejujuran Kawulo A-lit

Sebuah gerakan seni rupa anyar terlahir di Surabaya, 18 Mei 2018 lalu. Kawulo A-lit. Punggawanya adalah 5 perupa yang rata berusia di kisaran 30 tahun. Anin Naim, Alifiman Eratama, Adi Setiawan Ardo Rico, dan Khairul Suyanto.

“Kawulo A-lit adalah hamba-hamba yang berusaha menyajikan, sedikit, keindahan,” ujar Alifiman, mewakili teman-temannya.

Dipaparkan oleh Alifiman, kata ‘kawulo’ merujuk pada makna bahwa seluruh manusia adalah ‘hamba’ dari Tuhan Yang Maha Indah. Sedangkan kata atau pelafalan ‘a-lit’ merujuk pada beberapa makna. Dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai kecil atau ‘sedikit seni’, dalam bahasa Inggris bisa berarti ‘kecil’ atau ‘ringan’.



“Kita bukan siapa-siapa, yang mencoba berkesenian semampu kita. Menomor-satukan kejujuran. Kejujuran itu indah. Dan indah itu fitrah,” begitu Alifiman menandaskan semacam kredo Kawulo A-lit.

Kredo boleh sederhana, rendah hati, ataupun seakan dikesankan sebagai ‘sedikit seni’ tapi karya lukis 5 perupa yang tergabung dalam Kawulo A-lit ternyata menunjukkan gejala berbeda. Dilihat dari karyanya, lukisan kelima perupa menampakkan sebuah kegelisahan estetik maupun kegelisahan tematik.

Lukisan Alifiman bersifat sangat abstrak. Sekilas seperti tumpahan lumpur yang tidak beraturan. Apa maknanya? Entah. Mungkin, Alifiman mempersilakan orang yang melihat untuk memproduksi sendiri makna atas lukisan tersebut.

Lukisan Anin Naim menampakkan seorang lelaki yang menengadahkan kepala dengan tangan disatukan. Pose yang seperti orang berdoa atau mengharap pertolongan. Warna-warna yang mendominasi lukisan itu sangat kelam.



Lukisan Ardo berupa tokoh kartun dengan warna-warna ceria. Si tokoh juga melemparkan senyuman. Tapi di balik itu, tampaknya, ada kejanggalan yang ditampilkan oleh Ardo. Kaki tokoh kartun yang tersenyum itu terbelenggu. Di lengannya juga ada lebah yang siap menyengat. Ada juga siput, yang entah mengapa, dia mendongak.



Lukisan Khairul menampilkan tokoh dengan telanjang dada. Wajahnya menampakkan ketidak-puasan. Tangannya memegang senjata tajam. Psikologis ketidak-nyamanan sang tokoh dikontraskan oleh garis-garis miring yang justru memakai dominasi warna cerah, yakni biru muda.

Adapun lukisan Adi sekilas tampak sederhana. Mungkin itu sepasang suami istri di pedesaan. Warna kelam lagi-lagi dipilih oleh anggota Kawulo A-lit ini. Sehingga, secara pesan, lukisan Adi pun lebih dekat pada protes sosial.



Begitulah, dalam kredonya, Kawulo A-lit mengusung kejujuran dan ‘sedikit seni’ tetapi dalam karya, lukisan kelimanya menunjukkan adanya sebuah kegelisahan bahkan ketidak-nyamanan.

Bisa jadi, kejujuran yang dimaksud oleh Kawulo A-lit adalah justru kejujuran dalam melihat realitas secara apa adanya. Yakni, realitas itu tidak selalu nyaman. Kehidupan itu kerap kali pahit.

Tanggal 12 – 21 Oktober 2018 nanti, karya-karya lukis Kawulo A-lit bakal dipamerkan dalam ajang Indonesia Art Mart atau Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI), di JX International Surabaya. [but]

Tag : seni

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan