Menjadi Seniman Tua dan Tidak Terkenal Itu Menyedihkan

Kamis, 16 Agustus 2018 12:50:55
Reporter : Ribut Wijoto
Menjadi Seniman Tua dan Tidak Terkenal Itu Menyedihkan

Menjadi seniman tua dan tidak terkenal itu menyedihkan. Perasaan tersebut akhir-akhir ini cukup mengganggu saya. Saya seperti sedang berkubang dalam kesia-siaan. Dua puluh tahun lebih proses kreatif saya, seluruhnya terasa tanpa guna.

Ketika remaja dulu, saya sempat sangat gandrung ikut teater. Berperan sebagai aktor. Seminggu, saya lima hari latihan. Tiap hari Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Praktis hanya hari Senin dan Jumat, saya libur latihan teater.

Seorang dosen saya sempat cukup heran.  Katanya, saya tidak bisa bersuara pelan. Ketika ngobrol pun, suara saya terdengar berat dan keras. Ya mungkin itu imbas terlalu sering latihan olah vokal. Berbicara biasa seakan berdialog di atas panggung.

Namun kini saya menyadari, hari-hari latihan itu ternyata tidak terlalu berguna bagi diri sendiri maupun bagi kemaslahatan umat teater. Mengapa? Saya memang giat latihan, berulangkali pentas (mungkin lebih dari 15 kali pentas teater yang pernah saya ikuti, dimana saya berperan sebagai aktor), tetapi tidak ada satu pun pentas naskah standar. Misal naskah Kapai-Kapai karya Arifin C Noer atau Panembahan Reso karya WS Rendra. Artinya, keaktoran saya belum benar-benar teruji.

Tidak hanya belum teruji. Teknik keaktoran saya memang biasa-biasa saja. Mungkin saya kurang berbakat. Maka, misalkan ada list 1.000 aktor teater Indonesia yang patut diapreasiasi, nama saya sama sekali tidak masuk hitungan.

Saya pernah belajar menulis puisi dan cerpen (cerita pendek). Ada memang karya yang termuat di beberapa media massa nasional. Termasuk juga beberapa antologi puisi. Tetapi juga tidak terlalu istimewa. Tidak pernah puisi atau cerpen saya diperbincangkan dalam forum-forum sastra. Tidak pernah karya saya (yang proses penciptaannya kadang butuh waktu duapertiga malam dan menghabiskan berbatang-batang rokok) itu diapresiasi oleh kritikus mapan.

Oh iya, kritik sastra. Saya pernah sangat terobsesi menjadi kritikus sastra. Hampir seluruh media massa sempat memuat tulisan kritik sastra (sic!) saya. Pernah pula juara satu sayembara esai sastra tingkat nasional. Masuk dalam beberapa buku kumpulan esai bersama. Dua kali menerbitkan kumpulan esai sastra pribadi. Tapi sebatas itu.

Sebagai kritikus sastra, saya masih sangat jauh dengan levelnya Dami N Toda. Saya tidak mampu membuat pemetaan atau pemaparan seperti ketika Dami N Toda menganalisis puisi Sutardji Calzoum Bachri dan cerpen Iwan Simatupang.

Saya belum ada apa-apanya. Padahal usia saya sudah semakin tua.

Di luar bidang penulisan, saya pernah bercita-cita menjadi penggiat sastra yang tangguh. Seperti Umbu Landu Paranggi, misalnya. Ternyata juga nyaris mustahil. Padahal saya sebenarnya bukan tanpa usaha.

Saya terlibat dalam pendirian Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya. Terlibat dalam perubahan format dari Komunitas Gapus ke Teater Gapus Unair Surabaya. Sekitar 4 tahun membuat sekaligus mengordinir kegiatan Halte Sastra, Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Bersama Hanif Nashrullah membuat Sekolah Menulis Puisi (bertahan hanya 5 pertemuan). Dan tahun 2018 ini, saya bersama beberapa seniman/ sastrawan muda mengordinir kegiatan Bengkel Sastra, Bengkel Muda Surabaya (BMS).

Namun sekali lagi, kegiatan-kegiatan saya itu levelnya biasa-biasa saja. Tidak pernah fenomenal. Tidak pernah sangat mewarnai kesusastraan maupun kesenian nasional. Padahal usia saya sudah semakin tua, sudah 44 tahun.

Satu-satunya hiburan saya adalah datang ke Balai Pemuda Surabaya. Di pusat kesenian kota Surabaya itu, saya menemukan orang-orang yang senasib dengan saya. Bahkan lebih.

Lebih dari saya dalam pengertian usia dan pengalaman berkesenian. Ada yang secara usia 5 tahun di atas saya, 10 tahun lebih tua, ada yang lebih tua 15 tahun malahan. Meski tua, mayoritas nama-nama mereka tidak tercatat dalam list seniman level nasional.

Namun mereka tetap setia. Kesetiaan yang mendalam dalam ranah kesenian. Setia dan tabah.

Jika berbincang sembari menyeruput kopi dan menghisap rokok, mereka akan antusias menceritakan pengalaman bergaul dengan seniman-seniman besar yang pernah berproses atau pernah mampir di Balai Pemuda.

Pengalaman berteman dengan Gombloh, penyanyi legendaris itu. Pengalaman kumpul dengan Emha Ainun Nadjib, seniman sejuta jemaah. Pengalaman main bareng dengan Akhudiat, penulis naskah langganan juara nasional. Pengalaman bertemu Leo Kristi, pengalaman ngopi bareng Acep Zamzam Noor, pengalaman satu mobil dengan D Zawawi Imron, pengalaman ditraktir Cak Kadar, dan masih banyak lagi.

Seniman-seniman yang lebih tua dari saya itu selalu antusias dalam bercerita. Seakan pengalaman bersentuhan dengan seniman terkenal adalah bagian dari proses kreatif yang berharga. Menentukan ketokohan diri sendiri.

Satu hal saja, asal jangan ditanya tentang apa-apa karya mereka yang monumental. Pertanyaan tentang karya pribadi hanya akan membuat perbincangan menjadi asin. Suasana seperti karnaval mobil hias berubah jadi suasana berkabung.

Namun begitulah, bersama dengan mereka-mereka itu, saya merasa tidak sendirian. Merasa punya teman senasib sepenanggungan. Sama-sama sebagai seniman tua yang tidak terkenal. [but]

Tag : seni

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan