Bejo Sugiantoro, Ryan Giggs, Bandung Bondowoso

Sabtu, 04 Agustus 2018 14:40:38
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bejo Sugiantoro, Ryan Giggs, Bandung Bondowoso

Setelah lima kemenangan, tujuh hasil seri, dan enam kekalahan, pelatih asal Argentina, Alfredo Angel Vera, mengundurkan diri dari Persebaya Surabaya. Keputusan mengundurkan diri merupakan yang terbaik dari opsi terburuk: pemecatan. Dengan mengundurkan diri, hubungan dan nama baik dua pihak, termasuk dengan fans, tetap terpelihara.

Bonek patut berterima kasih kepada Vera, karena telah berhasil mengakhiri masa perjuangan Persebaya untuk mendapatkan pengakuan kembali dari PSSI dengan gelar juara Liga 2. Apalagi di tengah masa kompetisi, ia harus kehilangan putra tercintanya. Dedikasinya untuk Persebaya dan sepak bola layak diapresiasi.

Namun hidup harus berlanjut. Kita tidak bisa hidup dengan romantisme masa silam belaka. Maka ketika Persebaya mengalami tiga kekalahan beruntun dan terancam terisap 'lubang hitam' degradasi, hal terpenting adalah menyelamatkan klub. Romantisme dibuang, tak ada yang lebih besar daripada Persebaya, termasuk pelatih dan pemain.

Keputusan Presiden Persebaya Azrul Ananda menunjuk 'Bejo' Sugiantoro menjadi pelatih sementara (caretaker) tim patut diapresiasi. Sekali lagi, tak ada yang bisa menjamin Persebaya bakal sukses dalam waktu singkat dengan keputusan ini. Toh, Bejo bukanlah Bandung Bondowoso yang sanggup membuat seribu patung candi dalam semalam. Apalagi dia hanya dibatasi mendampingi Persebaya untuk empat pertandingan.

Tugas Bejo tak ringan. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah menyuntikkan motivasi dan mengembalikan kepercayaan diri para pemain. Terpuruk di papan bawah dan hanya terpaut dua angka lebih banyak dari zona degradasi bukanlah posisi ideal bagi sebuah tim dengan reputasi seperti Persebaya.

Para pemain harus diingatkan kembali untuk siapa mereka bermain, dan untuk itu dibutuhkan seorang pelatih yang berbicara dengan reputasi selama bermain untuk Persebaya, bukan sekadar dengan mulut. Reputasi sebagai mantan kapten tim nasional dan ikut berjasa memberikan dua gelar Liga Indonesia pada 1997 dan 2004 untuk Persebaya membuatnya layak disegani.

Pendekatan awal Bejo cukup bagus. Kepada pemain, ia meminta agar tak hanya dianggap sebagai pelatih, tapi juga seorang teman dan kakak. Dengan demikian tidak ada hambatan untuk berbicara dari hati ke hati. Inilah yang pernah saya sebut sebagai udara segar dan suasana baru saat terjadi pergantian pelatih. Suasana baru yang diperlukan untuk mereparasi mental pemain yang jeblok.

Bejo mendapat dukungan dari Bonek. Sejumlah perwakilan Bonek mendatangi para pemain usai berlatih dan meminta maaf atas insiden 'lempar telur' dan persekusi saat para pemain pulang dari Serui. Dengan para suporter di belakang tim ini, Bejo bisa berharap Gelora Bung Tomo menjadi benteng yang tak bisa ditembus oleh tim-tim lawan. Membangun benteng itu tak cukup dengan membangun mental, tapi juga taktik permainan.

Selama ini, Vera lebih cenderung memainkan formasi 4-3-3 ofensif dengan mengandalkan trisula yang memiliki kecepatan di atas rata-rata. Selain 4-2-3-1, formasi 4-3-3 adalah formasi yang paling disukai tim-tim sepak bola saat ini. Selama Piala Dunia kemarin, sejumlah tim yang sempat menggunakan formasi ini adalah Spanyol, Denmark, Brasil, Korea Selatan, Tunisia, Senegal, Argentina, dan Meksiko. Sejumlah tim kuat di liga terkemuka juga menggunakan formasi ini: Liverpool, Manchester City, dan Barcelona.

Menarik untuk dinanti apakah Bejo akan mengganti sistem yang selama ini dipakai Vera. Saat memperkuat tim juara Persebaya di bawah asuhan Rusdi Bahalwan dan Jacksen F. Tiago, ia lebih banyak bermain dalam formasi 3-5-2 dan 4-4-2. Namun tentu saja, pilihan formasi harus disesuaikan dengan ketersediaan, kualitas, dan kapasitas pemain untuk beradaptasi. Dalam rentang waktu yang pendek (ditunjuk menjadi pelatih pada 1 Agustus 2018 dan harus menghadapi Persela di kandang pada 5 Agustus), tentu terlalu riskan baginya untuk merevolusi formasi.

Bejo menghadapi dua pekerjaan rumah besar: menghilangkan ketergantungan terhadap David Da Silva dan Irfan Jaya di lini depan dan memperkokoh lini belakang yang rapuh. Mencetak 26 gol dan kemasukan 26 gol selama 18 pekan tentu bukan rekor bagus. Apalagi produksi gol Persebaya tidak merata. Ada 13 pemain yang sudah mencetak gol. Da Silva sudah mencetak sembilan gol dan Irfan mencetak lima gol. Mereka menyumbangkan 53 persen gol Persebaya.

Problemnya, selama 18 pertandingan, Da Silva dan Irfan tak selalu diturunkan sebagai starting line-up. Da Silva hanya tujuh kali turun sejak babak pertama. Sementara Irfan sebelas kali bermain sejak peluit awal dibunyikan.

Yang menarik, kendati menjadi duet tertajam tim, keduanya minim sekali diturunkan bersama sejak menit awal sebagai bagian dari trisula Persebaya. Tercatat mereka hanya dua kali diturunkan bersama sejak menit awal, yakni saat Persebaya menghadapi Madura United dan PSMS Medan. Namun saat keduanya bermain bersama, Persebaya tak tersentuh kekalahan (menang 2-0 atas PSMS dan imbang 2-2 dengan Madura United).

Selama 18 pertandingan, Vera menurunkan 12 kombinasi trisula dalam starting line-up. Kombinasi Ferinando Pahabol - Rishadi Fauzi - Irfan Jaya paling banyak dimainkan, yakni tiga kali. Hasilnya: 2-2 lawan Borneo, 1-1 lawan Persija, dan 1-0 lawan Bali United.

Absennya Irfan Jaya dan Osvaldo Haay karena panggilan tim nasional, membuat opsi Bejo untuk mengisi trio lini depan makin terbatas. Dengan sebaran produksi gol yang merata di 10 pemain (masing-masing satu gol), selain berharap dari kondisi fit Da Silva, Bejo tentu berharap kepada pemain-pemain lini keduanya untuk membuat gol-gol kejutan.

Sementara di lini tengah, Robertino Pugliara masih diharapkan menjadi 'nomor 10' yang beroperasi di belakang trisula untuk membuat assist atau mencetak gol sendiri. Selama ini ia adalah gelandang yang paling sering diturunkan sebagai bagian dari starting line-up, yakni 15 pertandingan. Tersering ketiga, setelah Miswar Saputra (16 pertandingan) dan Abu Rizal Maulana (17 pertandingan).

Lima kemenangan Persebaya diperoleh saat Pugliara diturunkan sejak awal. Saat ia dimainkan sebagai starting line-up, persentase kemenangan Persebaya mencapai 33 persen dan 21 angka berhasil dikepul.

Tak ada gelandang Persebaya yang memiliki frekuensi diturunkan sebagai starting line-up sesering Pugliara. Sang kapten Rendi Irawan hanya delapan kali diturunkan sebagai pemain inti. Nelson Alom, Misbakus Solikhin, dan Fandi Eko Utomo masing-masing hanya enam kali dimainkan. Nama terakhir tak hanya dimainkan sebagai gelandang, tapi juga sesekali sebagai pemain depan.

Jika dalam 18 pertandingan, lini depan dan tengah Persebaya sering berganti formasi, hal serupa tak begitu tampak di lini belakang. Ada empat pemain di lini pertahanan yang paling sering dimainkan: kiper Miswar Saputra (16 pertandingan), Abu Rizal Maulana (17 pertandingan), Ruben Sanadi dan Fandry Imbiri (13 pertandingan).

Vera lebih jarang merombak lini belakang dibandingkan lini tengah dan lini serang. Namun, ironisnya, lini belakang Persebaya mudah dibobol lawan. Ada satu nama di lini belakang yang selama dimainkan sejak menit awal tak pernah mengecap kekalahan: Muhammad Syaifuddin. Dari tujuh kali pertandingan yang dijalaninya sebagai pemain inti, Persebaya menang dua kali dan seri lima kali. Syaifuddin adalah benteng pertahanan yang sulit ditaklukkan saat diberi kepercayaan Vera.

Dilihat dari statistik, 16 gol Persebaya dicetak di babak kedua dan delapan gol di antaranya terjadi pada menit 15 menit terakhir pertandingan. Empat gol di babak kedua dicetak oleh pemain pengganti. Di satu sisi, ini bisa ditafsirkan para pemain Persebaya memiliki semangat pantang menyerah, sebagaimana ditunjukkan saat melawan Persib Bandung dan Bhayangkara FC. Kita juga bisa memuji Vera yang memiliki kemampuan analisis yang bagus dalam melakukan pergantian pemain. Namun di sisi lain juga menunjukkan Persebaya bekerja seperti mesin diesel.

Di satu sisi, Bejo punya pekerjaan rumah memperbaiki konsentrasi pemain. Tercatat, Persebaya kebobolan 2 gol pada 15 menit awal babak pertama dan 8 gol pada 15 menit pertama babak kedua. Total Persebaya kebobolan 17 gol di babak kedua. Ini bisa dibaca: gol-gol lawan terjadi seiring meningkatnya intensitas serangan Persebaya yang bagai mesin diesel dan konsentrasi hilang karena faktor stamina yang kendor.

Dua batu ujian awal di depan mata: setelah menjamu Persela, Bejo akan memimpin Persebaya bertandang ke markas Barito Putra di Banjarmasin. Dia akan menghadapi dua mantan rekannya di Persebaya, Aji Santoso yang kini melatih Persela dan Jacksen F. Tiago yang melatih Barito. Ini pertarungan para legenda.

Posisi Bejo sedikit banyak mengingatkan kita pada Ryan Giggs, mantan pemain Manchester United, yang harus menjadi caretaker manajer untuk empat pertandingan menggantikan David Moyes. Di tangan Moyes, United terpuruk dan menjadi bahan tertawaan di Liga Inggris. Ia dipecat di tengah jalan, saat Liga Inggris 2013-2014 menyisakan empat pertandingan.

Giggs, salah satu dari Angkatan 1992 kesukaan Sir Alex Ferguson, tampil ke depan, memanggul beban. Dia berhasil mencetak 2 kemenangan, 1 hasil imbang, dan 1 kekalahan, dan menempatkan United di peringkat ketujuh.

Kini Bejo, salah satu dari Angkatan 1997 asuhan pelatih legendaris Persebaya Rusdi Bahalwan, tampil ke muka membawa beban sejarah dan harapan ribuan Bonek. Dia juga membangun jembatan transisi yang kokoh bagi pelatih tetap Persebaya berikutnya (siapapun pelatih itu). Dia bukan Ryan Giggs, dia bukan Bandung Bondowoso. Namun namanya akan dicatat sebagai ikhtiar penyelamatan Bajul Ijo dari sedotan lubang hitam degradasi. Sebelum terlambat. [wir/kun]

Tag : persebaya, manchester united

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan