Pekan 18 Liga 1

Sinyal Bahaya untuk Persebaya: Kapal Oleng, Kapten!

Rabu, 01 Agustus 2018 21:29:15
Reporter : Oryza A. Wirawan
Sinyal Bahaya untuk Persebaya: Kapal Oleng, Kapten!

Tiga kekalahan beruntun. Jika ini sebuah kapal yang berada di laut lepas dan dihantam gelombang, maka saatnya bagi kita berteriak: 'Kapal oleng, kapten!'

Setelah kalah 0-1 dari PSIS Semarang di Magelang dan 3-4 dari Persib Bandung di Surabaya, Persebaya ditaklukkan tuan rumah Perseru 1-3, di Stadion Marora, Serui, Papua, Selasa (31/7/2018). Tiga gol Perseru dicetak Osmar do Santos Filho (47), Silvio Escobar (57), dan Delvin Rumbino (90+3). Gol Persebaya dicetak sang kapten Rendi Irwan pada menit 83.

Hasil tersebut membuat Persebaya terbenam di peringkat 14 pada pekan ke-18 Liga 1 dengan nilai 22. Tim Bajul Ijo terpaut hanya dua angka dengan PSIS yang berada di peringkat 16 yang merupakan peringkat tertinggi dalam zona degradasi. Mereka terpaut 10 angka dengan pemuncak klasemen Persib Bandung.

Hanya membawa 16 pemain ke Serui, tanpa David da Silva yang sudah mencetak sembilan gol, pelatih Alfredo Vera memplot Ricky Kayame dan Rishadi Fauzi di depan. Dengan empat pemain tengah yang diturunkan, yakni Adam Maulana, Fandi Eko Utomo, Misbakus Solikin, dan Robertino Pugliara, kali ini agaknya Persebaya bermain dengan pola 4-4-2. Pugliara didorong agak ke depan dan beroperasi di belakang Kayame maupun Rishadi sebagai penyerang lubang sebagai penyuplai bola.

Vera juga memainkan Alfonsius Kelvan di bawah mistar gawang, menggantikan Miswar Saputra. Kelvan sebelumnya sama sekali belum pernah diturunkan sejak menit awal.

Siapapun tahu, bertandang ke Serui tidaklah mudah. Perseru adalah tim anomali. Berada di papan bawah, anak asuh I Putu Gede ini adalah tim yang paling sedikit kebobolan hingga pekan 17, yakni 16 gol. Persib hingga pekan 18 kebobolan 18 gol. Ini artinya barisan belakang Perseru solid bagai batu karang, walau lini depan mereka juga sangat tumpul: mencetak 9 gol hingga pekan 17. Maka paling realistis adalah mengharapkan hasil seri.

Babak pertama, Kelvan bermain cukup bagus. Menit 35, dia berhasil memblok tembakan MF Suruan yang sudah melesat masuk kotak penalti tanpa kawalan. Namun dia harus kebobolan melalui titik putih pada menit 47, setelah wasit meniup peluit tanda bola menyentuh tangan salah satu pemain Persebaya. Hadiah penalti ini sempat diprotes pemain Persebaya.

Gol kedua terjadi setelah Rachmat Irianto gagal mengantisipasi bola lambung ke daerah pertahanannya. Ia kalah beradu cepat lari dengan Escobar.

Vera menurunkan Ferinando Pahabol dan Rendi Irwan untuk mendobrak pertahanan Perseru dengan kecepatan. Hasilnya: umpan terobosan Pahabol dimanfaatkan Rendi untuk menempatkan bola ke sisi kiri gawang Anas Fitrianto. Rendi dengan tenang berhasil lolos dari jepitan MF Suruan dan K Wopi. Anas yang sudah salah langkah hanya bisa tersenyum setelah bola masuk.

Gol tersebut membuat semangat pemain Persebaya bangkit. Namun Delvin Rumbino mematikan harapan itu setelah mencetak gol ketiga.

Apa yang berbahaya dari sebuah tiga kekalahan beruntun? Jika dilihat dari ketatnya selisih angka di papan klasemen (peringkat 18 hanya terpaut 14 angka dengan pemuncak), apapun bisa terjadi. Ini bukan Bundesliga 2017-2018, yang antara peringkat 14 dengan dengan sang juara memiliki selisih angka 48 angka di pengujung musim.

Peluang Persebaya untuk juara sama besarnya dengan peluang untuk terdegradasi. Apalagi, pada putaran kedua ini, Persebaya memiliki jatah bermain di kandang sembilan kali. Dengan asumsi bisa memaksimalkan semua laga, maka Persebaya akan mendapat tambahan 27 angka menjadi 49 angka: lebih dari cukup untuk menjauhi zona degradasi.

Namun persoalannya adalah pada mental. Kekalahan tiga kali beruntun berpotensi meruntuhkan mental para pemain. Di sejumlah negara yang memiliki kompetisi ketat seperti Liga Inggris, kekalahan beruntun atau hasil buruk nir kemenangan bagaikan pasir hisap. Sekali Anda masuk maka sulit untuk keluar dan kembali ke performa normal.

Masalah mental ini yang harus menjadi perhatian manajemen Persebaya, wa bil khusus El Presidente Azrul Ananda. Apalagi beredar cuplikan video bagaimana sejumlah pemain yang tiba ke apartemen sepulang dari Serui mendapat teror mental dari sejumlah suporter. Tidak ada kekerasan memang, namun caci-maki diarahkan langsung ke wajah mereka.

Saya tidak tahu apakah manajemen menyediakan tim psikolog untuk mendongkrak moral pemain. Namun kunci pertama adalah pelatih dan manajer. Pertanyaan terbesar saat ini adalah: apakah para pemain masih mempercayai pelatih Alfredo Vera dan manajer Chairul Basalamah setelah tiga kekalahan beruntun.

Masalah 'trust' adalah masalah pelik dalam sebuah tim sepak bola, terutama jika tengah berada dalam posisi terpuruk. Kita tak berharap ini terjadi pada Persebaya. Namun manusiawi jika kemudian dalam situasi ini ada saling tuding atau menyalahkan, terang-terangan atau diam-diam, antara satu dengan yang lain. Tak ada yang menyangka Persebaya yang datang ke Liga 1 dengan perdikat juara Liga 2 akan terpuruk sejauh ini.

Dari tribun, ketidakpercayaan terhadap Vera dan Basalamah muncul. Para pendukung Persebaya terang-terangan menyebut mereka sebagai biang rontoknya Persebaya hingga saat ini. Setidaknya ada tiga hal negatif yang patut dicatat dari kinerja duet ini.

Pertama, strategi transfer pemain yang tak tepat. Sebagian kalangan menyebut, Persebaya tidak bisa berbuat banyak di Liga 1 karena tak memiliki pemain dengan kapasitas bagus. Klub dengan finansial sekuat Persebaya seharusnya bisa memperoleh pemain-pemain bintang, terutama pemain tim nasional. Namun yang datang justru sejumlah pemain berumur, seperi Izaac Wanggai (36), Ruben Sanadi (31), Robertino Pugliara (34), dan OK John (35).

Siapapun bisa saja menyebut kapasitas pemain Persebaya di luar ekspektasi. Namun yang perlu digarisbawahi, mereka didatangkan atas kebijakan pelatih dan manajer. Vera dan Basalamah bisa menentukan siapa yang hendak didatangkan atau tak perlu didatangkan, sebagaimana yang terjadi dalam saga transfer Andik Vermansah.   

"Intinya, kami ingin mendatangkan pemain yang dibutuhkan oleh pelatih. Sejauh ini, pelatih juga belum merekomendasikan Andik untuk masuk dalam rencananya," kata Basalamah sebagaimana dikutip dari Jawapos.com. Pernyataan ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa pemilihan pemain memang mutlak otoritas pelatih dan manajer, termasuk mendatangkan para mantan pemain Persipura Jayapura.

Bonek mengkritik hadirnya sembilan orang mantan Persipura di Persebaya. Pertama, kehadiran mereka menutup peluang bagi anak-anak muda hasil kompetisi internal untuk bergabung dengan tim inti. Kedua, kehadiran para pemain Persipura seharusnya mempermudah Vera untuk meracik komposisi dan taktik tim. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kehadiran para mantan pemain Persipura tak berdampak signifikan bagi tim.   

Strategi transfer yang memble terlihat jelas pada Arthur Irawan, pemain kelahiran Surabaya berusia 25 tahun. Dia satu-satunya pemain Persebaya yang berpengalaman bermain di Eropa: RCD Espanyol B (2011-2013) dan Malaga B (2013-2014). Namun tak sekalipun Vera memberikan kesempatan kepadanya untuk bermain sebagai starter di Liga 1, bahkan saat barisan pertahanan Persebaya dalam kondisi krisis.

Terakhir, Arthur malah didepak dari tim. Saya tidak pernah menemukan sebuah klub terkemuka di Eropa yang mendepak pemainnya sebelum dimainkan dengan frekuensi yang cukup di laga resmi. Hal ini tentu memunculkan spekulasi: kualitas Arthur diragukan, tim rekrutmen Persebaya bekerja tidak profesional. Hingga hari ini, Arthur Irawan adalah sebuah misteri di Persebaya.

Catatan kedua adalah kebijakan rotasi pemain dalam 'starting line-up' di setiap pertandingan. Vera tidak memiliki 'the winning team'. Kemenangan di pekan ini bukan menjadi jaminan untuk mempertahankan skuat awal di pekan berikutnya. Kebijakan rotasi berdampak dua hal, yakni tidak stabilnya penampilan Persebaya karena soliditas pemain minim dan berpotensi tergerusnya kepercayaan diri pemain maupun kepercayaan terhadap pelatih.

Saya berprasangka baik, bahwa Vera memiliki tim statistik untuk mencatat rinci perkembangan pemain dari berbagai aspek, sehingga taktik rotasi permanen itu memang memiliki landasan kuat. Namun dengan hasil jeblok Persebaya saat ini, rasanya tak salah jika sebagian kalangan meragukan bahwa taktik rotasi permanen Vera dilakukan berdasarkan data statistik yang komprehensif.

Vera beberapa kali beralasan rotasi tak terhindarkan karena pemain mengalami cedera. Ini pada akhirnya menjadi catatan ketiga buruknya kinerja Vera: fisik pemain. Badai cedera yang terjadi hingga paruh musim tentu memunculkan tanda tanya terhadap kapasitas dan kualitas metode pelatihan Vera.

Dengan filosofi taktik high pressing tempo, intensitas penguasaan bola, dan membangun serangan dari belakang, Vera seharusnya sudah memperhitungkan dan membaca kemampuan fisik pemain. Hal ini seharusnya terbaca sejak pramusim, dan itulah guna sebuah klub menjalani pertandingan-pertandingan pramusim: mengevaluasi pemain dan adaptasi mereka terhadap taktik.

Bagaimana jalan keluarnya? Kuncinya adalah keberanian Azrul Ananda mengevaluasi pelatih dan manajer Persebaya. Dengan ketatnya klasemen sementara dan masih tersisa 16 pertandingan lagi (sembilan di antaranya di kandang sendiri), putra Dahlan Iskan itu harus berani mengambil keputusan revolusioner: mengganti pelatih maupun manajer sebagaimana diminta Bonek.

Tak ada jaminan memang pergantian ini akan membuahkan hasil lebih baik, sebagaimana tak ada yang bisa menjamin kiamat tak akan datang esok hari. Namun setidaknya pergantian menjanjikan harapan baru, udara segar bagi tim, terutama pemain yang mengalami krisis kepercayaan diri. Hal terpenting adalah mengelola harapan tersebut sehingga mendongkrak motivasi tim untuk berjuang. Apalagi sejauh ini dari beberapa pertandingan, semangat khas arek Surabaya sebenarnya tampak pada diri pemain: pantang menyerah, terus berjuang hingga akhir. Tentu dibutuhkan pelatih dan manajer baru yang memahami semangat ini dan mengelolanya dengan baik.

Dalam surat terbukanya, Azrul mengibaratkan Persebaya sebuah kereta yang tak bisa menunggu satu orang penumpang bernama Andik Vermansah. Tentu kereta itu juga tak perlu menunggu Alfredo Vera sekarang. [wir]

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan