Pertandingan Tunda Pekan 9 Liga 1

Mentalitas Wani Persebaya dan Inferioritas Alfredo Vera

Jum'at, 27 Juli 2018 19:27:00
Reporter : Oryza A. Wirawan
Mentalitas Wani Persebaya dan Inferioritas Alfredo Vera

Jika ada yang layak disebut sebagai pertandingan terbaik selama putaran pertama Liga 1 2018, saya akan menunjuk pertandingan Persebaya melawan Persib Bandung, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Kamis (26/7/2018). Ini pertandingan tunda pekan ke sembilan. Seharusnya pertandingan klasik ini digelar Mei silam. Namun aksi teror bom yang mengguncang Surabaya membuat pertandingan batal digelar.

Pertandingan ini layak disebut klasik dari aspek mana pun: digelar di depan 50 ribu penonton, keduanya tim legendaris eks perserikatan, permainan terbuka, tujuh gol tercipta. Persebaya menunjukkan mentalitas 'wani' (berani) yang senantiasa ditunjukkan jika bertemu Persib: bermain ofensif dan pantang menyerah walau tertinggal tiga gol.

Simak angka statistik di Statoskop Jawa Pos untuk menggambarkan betapa terbukanya pertandingan ini: Persebaya melesakkan 18 tembakan (7 akurat) berbanding 16 tembakan Persib (9 akurat); Persebaya mendapat 8 tendangan sudut berbanding 9 tendangan sudut Persib; 11 tekel sukses Persebaya berbanding 12 milik Persib; 8 pelanggaran Persebaya berbanding 18 pelanggaran. Hebatnya, hanya ada satu kartu kuning untuk Persebaya.

Sayang, Persebaya kalah 3-4. Kekalahan ini semakin menunjukkan betapa pelatih Persebaya asal Argentina, Alfredo Angel Vera, inferior jika berhadapan dengan pelatih impor. Dari 17 pertandingan, lima kekalahan Persebaya dialami dari tim yang dilatih 'gaffer' asing: 1-2 dari Jacksen Tiago (Barito Putra), 1-3 dari Rafael Berges (Mitra Kukar), 0-1 dari Robert Rene Albert (PSM), 0-1 dari Vincenzo Alberto Annese (PSIS), dan 3-4 Mario Gomez ((Persib).

Satu-satunya kemenangan atas tim yang dilatih pelatih asing dinikmati saat menjamu PSMS Medan. Saat itu tim Ayam Kinantan yang dinahkodai Peter Butler kalah 0-2 di Gelora Bung Tomo. Sementara itu lima dari tujuh hasil imbang Persebaya juga diperoleh dari tim yang dilatih pelatih asing: 2-2 dengan Dejan Antonic (Borneo FC), 2-2 dengan Milo Seslija (Madura United), 1-1 dengan Peter Butler (Persipura), 1-1 dengan Stefano Cugurra (Persija), dan 3-3 dengan Simon McMenemy (Bhayangkara).           

Pertandingan melawan Persib kembali menunjukkan bagaimana perombakan formasi menjadi perjudian yang gagal, sebagaimana saat melawan PSIS Semarang. Setelah kalah 0-1 di Magelang, kini Persebaya merasakan kekalahan lagi. Ini kekalahan kedua di kandang sendiri, setelah sebelumnya Barito putra menggulung Green Force 2-1.

Bermain dengan formasi 4-3-3, Vera memilih merombak skuat dan menurunkan pemain yang berbeda dengan komposisi saat melawan PSIS dan PSMS. Dengan alasan faktor cedera, ia tak menurunkan Otavio Dutra atau Rachmat Irianto sejak awal. OK John tak bisa dimainkan karena regulasi. Ia akhirnya memilih Izaac Wanggai untuk beroperasi di bek tengah bersama Fandry Imbiri. Sementara di bek kanan ada Aburizal Maulana dan bek kiri ada Ruben Sanadi.

Di posisi gelandang, Vera mengistirahatkan Robertino Pugliara dengan alasan kelelahan. Raphael Maitimo yang dipinjam dari Madura United juga tak bisa dimainkan karena regulasi. Muhammad Hidayat diturunkan sebagai gelandang bertahan bersama Misbakus Solikhin dan gelandang 'box to box' Rendi Irwan. Sementara di lini depan, David da Silva ditemani Ricky Kayame dan Fandi Eko Utomo. Irfan Jaya absen, karena harus memenuhi panggilan tim nasional.

Begitu wasit Aprisman Aranda meniup peluit sepak mula, permainan ofensif Persebaya terlihat menjanjikan. Dalam tempo di bawah satu menit, Da Silva membuat kejutan dengan melakukan solo run melewati bek Persib Bojan Malisic dan melepaskan tembakan ke gawang M. Natshir Fadhil Mahbuby. Bola melenceng tipis di sisi kanan. Da Silva juga kembali mengancam pada menit ketiga setelah mendapat bola pantul dari Fandi Eko. Sayang tembakannya melayang di atas mistar.

Berbeda dengan pertandingan sebelumnya yang cenderung memainkan 'direct football', Persebaya membangun serangan dari bawah dengan operan-operan pendek cepat. Namun Persib justru bisa mencuri dua gol lebih dulu dari sisi kanan Persebaya dengan skema yang nyaris sama.

Aburizal, yang malam itu kurang disiplin mengawal daerahnya, tak berdaya dan dilewati penyerang Persib Ezechiel Ndouasel. Pemain berkulit hitam itu mengirimkan umpan silang kepada Supardi Nasir yang tak terjaga dan menyundul bola masuk ke gawang Miswar Saputra pada menit 5.

Menit 22, giliran Ardi Idrus mengirimkan umpan panjang kepada Ghozali Siregar yang dengan kencang berlari memasuki kotak penalti Persebaya, setelah sebelumnya membuat Fandry Imbiri dan Aburizal bertabrakan. Tak ada lagi yang menutup Ghozali. Lubang menganga. Bahkan di dalam kotak penalti hanya ada Izaac Wanggai dan Ruben Sanadi yang berhadapan dengan Ghozali, Ezechiel, dan Supardi Nasir. Antisipasi Miswar sia-sia. Bola ditendang Ezechiel kena tiang gawang kiri, namun memantul dan berhasil disepak dengan mulus oleh Supardi.

Persebaya mencoba membalas dengan meningkatkan serangan dari sayap, terutama kiri. Ruben Sanadi tampil spartan dengan mengirimkan umpan-umpan dari sayap. Namun Da Silva, Ricky Kayame, maupun Fandi Eko tak bisa memanfaatkan dengan baik. Sayap kanan Persebaya benar-benar kehilangan akselerasi eksplosif Irfan Jaya. David da Silva juga beberapa kali justru berperan sebagai pengumpan bola silang untuk Fandi dan Kayame. Namun penyelesaian akhir para pemain depan Persebaya jauh dari sempurna.

Awal babak kedua, kondisi Persebaya belum membaik. Serangan-serangan sayap tak banyak menghasilkan. Ghozali Siregar menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Persebaya. Sebelumnya, tendangan jarak jauhnya membuat Miswar bekerja keras menepis bola pada menit 50. Namun pada menit 53, Ghozali sudah tak tertahan lagi. Sendirian, ia menembak keras bola, diblok Fandry Imbiri. Bola kembali ke kakinya, dan Ghozali menerabas empat pemain Persebaya sebelum akhirnya menaklukkan Miswar.

Skor 3-0 untuk Persib. Persebaya terancam dipermalukan habis-habisan di kandang sendiri. Vera melakukan pergantian krusial: Rendi digantikan Robertino Pugliara dan Wanggai digantikan Rachmat Irianto. Hasilnya sangat terasa. Pugliara menunjukkan kelasnya sebagai game changer. Dua menit setelah masuk, Pugliara membuat assist untuk gol Ricky Kayame pada menit 57 setelah menerima umpan tumit dari Da Silva.

Hadirnya Pugliara membuat pergerakan Fandi dan Da Silva di lini depan lebih mengalir. Fandi dan Da Silva berganti-ganti posisi antara pengumpan dan target man. Menit 64, Pugliara berlari menyisir sisi kanan pertahanan Persib, masuk kotak penalti dan memberikan bola lambung yang diselesaikan dengan kepala oleh Fandi Eko.

Skor 3-2 untuk Persib. Namun Bonek sudah membayangkan: bakal terjadi keajaiban dan comeback. Persebaya punya sejarah comeback bagus pada Liga Indonesia 2010 saat melawan Persiwa Wamena di Gelora 10 Nopember Tambaksari. Anak-anak Bajul Ijo sempat tertinggal 0-2 dan 2-4 sebelum akhirnya menang 5-4.

Skenario ini sepertinya bakal terulang kali ini. Ghozali memang kembali mempertebal keunggulan 4-2, setelah mencetak gol dari jarak jauh pada menit 81. Gol ini berasal dari skema bola mati lemparan ke dalam. Bola hasil sapuan kepala Fandri jatuh ke kaki Ghozali di luar kotak penalti, yang tanpa ada tekanan langsung melakukan tembakan yang gagal ditahan Miswar.

Namun pada menit 88, David da Silva mempertipis ketertinggalan 3-4 setelah menjebol gawang Persib melalui tandukan kepala dalam skema tendangan sudut. Anak-anak Persebaya menunjukkan bahwa mereka tak akan menyerah dengan mudah. Tambahan waktu lima menit menjadi badai bagi pertahanan Persib. Percobaan demi percobaan dilakukan. Namun kekalahan adalah takdir Persebaya di kandangnya.

Kekalahan ini menyesakkan, terutama setelah manajemen dan para pemain Persebaya justru memilih melewatkan tradisi 'Song for Pride' di akhir laga. Botol-botol beterbangan dari tribun VIP bagai misil ke arah tim Persebaya yang hendak masuk ke dalam ruang ganti. Salah satunya dengan telak mengenai kepala manajer Choirul Basalamah dan videonya menjadi viral di media sosial.

Kondisi Persebaya bikin cemas Bonek. Satu hal yang sulit dipahami adalah betapa seringnya Alfredo Vera merombak posisi starting line-up di setiap pertandingan. Alasan cedera dan pemain tidak fit selalu dikedepankan Vera, termasuk saat tak menurunkan Pugliara dan Rachmat Hidayat sejak menit awal. Namun nyatanya, di babak kedua, kehadiran mereka justru membuat permainan Persebaya lebih baik dan solid.

Alasan cedera menjadi sangat aneh, terutama setelah formasi ganjil saat menurunkan Oktavianus Fernando sebagai pemain bek sayap kanan. Padahal di tengah absennya Abu Rizal, masih ada Arthur Irawan yang sama sekali belum diturunkan sejak menit awal sepanjang Liga 1. Arthur belakangan akhirnya keluar dari Persebaya setelah tak mendapat kesempatan bermain.

Pemain Persebaya juga begitu mudah cedera. Tanpa pelatih fisik khusus, pemain tak mendapat menu latihan khusus untuk memainkan pola sepak bola tempo tinggi yang diinginkan Vera. Alhasil, cedera mudah terjadi. Padahal kompetisi masih panjang.

Dengan kekalahan ini, maka Persebaya berada di peringkat 13 dari 18 peserta pada putaran pertama. Green Force terpaut tiga angka dengan PSIS Semarang yang berada pada peringkat 16 atau zona degradasi dan tujuh angka dengan Persib Bandung dengan berada di pemuncak klasemen. Dengan penampilan tak stabil Persebaya dan inferiornya Vera, Bonek tak perlu bermimpi muluk bisa menjadi juara liga. Target realistis adalah mencapai angka 40 sebagai angka aman dari degradasi. Ini artinya, Persebaya masih butuh 18 angka atau enam kemenangan untuk aman.

Bonek sudah berteriak agar manajemen memecat Vera. Belum ada tanda-tanda manajemen akan mengabulkan tuntutan itu. Selain sulit mendapatkan pelatih berkualitas super di tengah musim kompetisi, pergantian memang tidak menjamin ada perbaikan. Namun itu bukan berarti kursi Vera sudah aman. Ini kursi panas.

Ada sembilan laga kandang pada putaran kedua, yakni melawan Persela Lamongan, PS Tira, Mitra Kukar, Borneo FC, Madura United, Persija, PSM, Bhayangkara FC, dan PSIS Semarang. Tak ada pertandingan mudah. Semua pertandingan adalah final, terutama di kandang. Uji coba pertama adalah saat menghadapi Perseru di Serui dan Persela Lamongan di Surabaya pekan depan. [wir]

 

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan