Pekan 17 Liga 1

Minggu Sore, Saat Oktavianus Fernando Menjadi Gerrard

Senin, 23 Juli 2018 13:36:51
Reporter : Oryza A. Wirawan
Minggu Sore, Saat Oktavianus Fernando Menjadi Gerrard
Oktavianus Fernando

Minggu sore (22/7/2018) yang bersejarah bagi Oktavianus Fernando. Dia ditunjuk menjadi kapten Persebaya dalam sebuah pertandingan klasik Liga 1 melawan PSIS Semarang di Magelang. Ini pertandingan yang harus dimenangkan Persebaya setelah serangkaian hasil positif dalam beberapa pekan terakhir. Dan penunjukan Oktavianus menjadi kapten hanyalah salah satu dari perubahan taktik pelatih Persebaya Alfredo Vera.

Sekali lagi, dalam pertandingan kali ini, Alfredo menunjukkan reputasi dan konsistensi sebagai pelatih yang tak punya formasi tetap. Kali ini dia menggunakan formasi 3-4-3 atau 3-4-2-1 dengan memasang tiga bek sejajar: OK John, Otavio Dutra, dan Ruben Sanadi. Empat pemain ofensif diturunkan bersamaan, yakni Irfan Jaya, Rishadi Fauzi, Oktavianus Fernando, dan Osvaldo Haay. 

Oktavianus mendapat tugas tambahan di barisan pertahanan dengan diposisikan sebagai bek sayap kanan. Ia harus lebih sering membantu pertahanan daripada biasanya. Kendati defensive rate-nya tidak buruk selama ini, tentu saja itu bukan tugas mudah. Dia lebih sering diperankan sebagai winger murni selama ini.

Ada empat pemain yang mengawali sepak mula saat menang atas PSMS pekan sebelumnya yang tidak diturunkan kali ini. Fandry Imbiri digantikan OK John, Aburizal digeser dan Raphael Maitimo masuk mengisi posisi gelandang kiri, Da Silva digantikan Rishadi Fauzi, dan Pahabol digantikan Osvaldo Haay.

Ketidakhadiran Imbiri sangat terasa. Saat melawan PSMS Medan, Fandry Imbiri adalah bek tengah pekerja keras yang bisa mengimbangi kecepatan pemain lawan. Dia juga beberapa kali menutup celah yang ditinggalkan Abu Rizal maupun Ruben Sanadi jika terlambat kembali. Fandry mengompensasi kelemahan Dutra yang lebih stylish dan lemah dalam kecepatan namun unggul di udara.

Pelatih PSIS Vincenzo Annese agaknya bisa membaca kelemahan barisan belakang Persebaya. Permainan berjalan cepat sejak menit awal. PSIS berusaha mencuri gol cepat. OK John memang berbadan besar dan keras dalam menghadang pemain lawan. Namun kelemahannya adalah tak berdaya menghadapi pemain-pemain depan yang punya kecepatan. Tiga pemain PSIS Aldair Makatindu, Komarudin, dan Hari Nur Yulianto punya modal untuk memerdayai John dan Dutra.

PSIS beberapa kali memainkan umpan terobosan yang membuat pemain-pemain bertahan Persebaya harus kepayahan beradu lari ketimbang melayangkan bola-bola silang dari sayap. Menit 8, Aldair menerabas masuk ke jantung penalti Persebaya setelah menerima bola terobosan dari Hari Nur Yulianto. Tak ada yang bisa mengantisipasinya. Kiper Miswar Saputra mencoba peruntungan dengan maju dan menutup pergerakan Aldair. Untung tak ada hukuman penalti, kendati Aldair terjatuh dan sepintas terlihat terganjal kaki Miswar.

Sementara itu, Persebaya seperti biasa mengandalkan Irfan dan Osvaldo di sayap untuk mengirimkan umpan-umpan lambung kepada Rishadi Fauzi. Namun bola-bola udara tandukan Rishadi tak akurat.

Tekanan PSIS yang bertubi-tubi membuat para pemain Persebaya cenderung bermain keras. Sepanjang pertandingan, wasit Fariq Hitaba dari Jogjakarta memberikan lebih banyak kartu kuning untuk pemain Persebaya, yakni OK John, Dutra, Muhammad Hidayat, dan Fandry Imbiri yang diturunkan di babak kedua. Sementara ada tiga pemain PSIS yang juga terpancing bermain keras yang mendapat kartu kuning, yakni Haudi Abdillah, Safrudin Tahar, dan Hafit Ibrahim.

Oktavianus Fernando dalam kondisi tertekan membuat dua kali pelanggaran keras, dan pada menit 40 harus mendapat kartu kuning kedua. Nasibnya seperti Steven Gerrard, kapten Liverpool yang mendapat kartu merah saat masuk ke lapangan sebagai kapten pada babak kedua, karena melanggar keras Anders Herrera, pemain Man United. Kebetulan keduanya sama-sama bernomor punggung 8.

Kehilangan satu pemain membuat pertahanan Persebaya semakin longgar. Gol PSIS pada menit 49 menunjukkan betapa bek tengah Persebaya mudah dieksploitasi. Komarudin lepas dari jebakan offside. Ia mendapat umpan dari Muhammad Yunus yang memanfaatkan bola muntah dari clearance dada tak sempurna oleh Ruben Sanadi. Tak ada satu pun bek Persebaya yang siap mengantisipasi, termasuk OK John yang terlalu lambat bereaksi.

Vera memasukkan David da Silva menggantikan Rishadi satu menit setelah kebobolan dan Rendi Irawan menggantikan Osvaldo. Sementara Imbiri masuk menggantikan OK John. Hasilnya jauh lebih baik. Serangan Persebaya menjadi lebih dominan melalui pergerakan Da Silva. Rendi pun bekerja keras merebut bola dan mengalirkannya ke depan.

Sayang, serangan Persebaya terlalu mudah terbaca. Irfan mendominasi serangan dari sisi sayap. Namun dia lebih banyak memilih memberikan umpan lambung kepada Da Silva. Begitu pula Ruben Sanadi. Umpan-umpan lambung dari dua sisi sayap bisa dibaca dengan mudah oleh kiper Jandia Eka Putra.

Kekalahan ini membuat Persebaya semakin susah merangsek ke papan atas klasemen Liga 1. Pertandingan terakhir putaran pertama melawan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Kamis (26/7/2018), mau tidak mau harus diakhiri dengan kemenangan. Pertahanan Persib tak mudah dijebol. Hanya kebobolan 13 gol dalam 16 pertandingan, Maung Bandung adalah tim dengan pertahanan tersolid saat ini.

Pertanyaan terpenting: formasi apalagi yang hendak dicoba Vera untuk menekuk Persib. Eksperimen melawan PSIS jelas eksperimen berujung kesalahan fatal. Dengan absennya Oktavianus, kini Persebaya kehilangan salah satu sayap yang padu sebagai trisula bersama Irfan Jaya maupun Da Silva atau Rishadi. Semua hanya karena kesalahan memerankan Oktavianus menjadi bek. Sayang sekali. [wir]

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan