Pekan 16 Liga 1

Lahirnya 'The Beast' Idola Baru Bonek

Sabtu, 21 Juli 2018 09:19:47
Reporter : Oryza A. Wirawan
Lahirnya 'The Beast' Idola Baru Bonek
OK Jhon sedang berlatih dengan pemain Persebaya

Onorionde Koghegbe John masuk pada menit 71 menggantikan Fandry Imbiri. Tubuhnya bak raksasa mengingatkan orang pada sosok Saheed Adebayo Akinfenwa, ujung tombak klub Inggris AFC Wimbledon. Keduanya layak dijuluki 'The Beast' atau hewan buas.

Dan John, orang Nigeria yang baru tahun ini jadi warga negara Indonesia itu, memang layak dijuluki demikian di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (19/7/2018) malam. Mantan pemain Madura United ini menjadi tembok ideal bagi Persebaya, terutama saat para pemain PSMS Medan kelelahan dan tak berlari segesit babak pertama.

Cara John menyapu bola maupun melakukan recovery dengan menekel pemain lawan membuat ribuan Bonek bersorak gembira. Akhirnya Persebaya punya pemain bertahan dengan gaya tukang pukul jalanan. Sangar, bikin pemain lawan gamang. Gaya mainnya berkebalikan dengan bek tengah asal Brasil, Otavio Dutra, yang lebih kalem dan stylish.

Pertandingan Persebaya melawan PSMS adalah kelanjutan duel klasik dua mantam perserikatan sejak Liga 2. Dalam final Liga 2, Persebaya membekuk PSMS 3-2. PSMS membalasnya dengan kemenangan via adu penalti dalam Piala Presiden.

Bentrok kedua tim selalu menarik, karena pertandingan berjalan terbuka. Ini pertarungan 'Satu Nyali Wani' vs 'Ribak Sude'. Tak heran jika sejauh ini tak ada hasil kacamata dalam pertemuan keduanya, termasuk malam itu.

Tak biasanya, Persebaya memainkan empat pemain ofensifnya bersamaan: Ferinando Pahabol, Irfan Jaya, Oktafianus Fernando, dan David da Silva. Dengan empat pemain ofensif, di lapangan Alfrefo Vera memainkan 4-2-3-1.

Da Silva diletakkan sebagai lone striker. Irfan dan Oktafianus menyuplai bola-bola silang dari sayap atau berlari mengiris masuk ke kotak penalti sebelum melakukan cut back. Sementara itu Pahabol dimainkan di belakang Da Silva.

Vera tidak menurunkan Nelson Alom, gelandang tukang angkut air andalan Persebaya yang mengalami cedera. Barisan gelandang diserahkan pada duet Robertino Pugliara dan Muhammad Hidayat.

Dengan menurunkan Pahabol, Persebaya akhirnya memainkan 'direct football'. Kecepatan Pahabol-Irfan-Oktafianus dieksploitasi maksimal. Tak ada lagi 'build up' serangan melalui operan-operan pendek dari bawah. Vera agaknya mengandalkan kemampuan Da Silva bertarung di udara.

Bermain dengan cara mengalirkan bola cepat ke depan membuat counter-attack Persebaya terlihat menyeramkan. Begitu bola dikuasai dan dioper kembali ke area pertahanan PSMS, ada lima sampai enam pemain Persebaya yang berlari di paruh lapangan lawan.

Taktik tak berjalan sesempurna dibayangkan. Pahabol memang punya kecepatan mengejar bola-bola daerah. Tapi kelemahannya tetap: dia tak akurat memberikan operan 'sedap' untuk Da Silva maupun menusuk sendiri ke jantung pertahanan PSMS. Selain itu, Pahabol lemah dalam membantu pertahanan. Da Silva jauh lebih baik dalam merebut bola atau memangkas alur serangan lawan.

Pelatih PSMS Peter Butler cukup cerdik membaca ini. Ia berpengalaman menghadapi Persebaya saat melatih Persipura Jayapura akhir Mei 2018 lalu.

Tanpa Alom, barisan pertahanan Persebaya berkali-kali terusik langsung tanpa tembok pelindung pertama. Selain itu, PSMS memilih menyerang dari sayap melalui Erwin Ramdhani. Berkali-kali barisan pertahanan Persebaya terkoyak dari sayap.

Persebaya beruntung tak ada Fritz Butuan di PSMS. Ini pemain punya kecepatan dan kematangan penyelesaian akhir. Persebaya juga layak bersyukur ujung tombak Wilfreid Yessoh tak tampil bagus. Dia jarang memperoleh peluang matang. Satu-satunya peluang matang di babak pertama dalam situasi 'one on one' berhasil digagalkan kiper Persebaya Miswar Saputra.

Cara bermain Persebaya mulai berubah setelah Pugliara digantikan Misbakus Solikin, Pahabol digantikan Raphael Maitimo, dan Fandry digantikan OK John. Persebaya memainkan bola-bola dari bawah melalui operan-operan pendek dan pergerakan pemain.

Maitimo tampil langsung 'nyetel' dengan tim. Beberapa kali ia memberikan operan bagus, salah satunya assist untuk Da Silva.

Da Silva menunjukkan kelasnya. Gol kedua Persebaya yang dicetak Da Silva pada menit 90 menunjukkan bagaimana kelirunya anggapan banyak orang. Da Silva bernasib seperti striker tim nasional Inggris, Leicester, dan Liverpool, Emile Heskey. Tubuh keduanya sama-sama tinggi besar dan berotot. Mereka diremehkan alias 'underrated'.  Namun sebenarnya dibutuhkan tim karena memiliki 'work rate' bagus. Tak hanya mencetak gol. Saat paceklik pun, dia bisa menjadi pemantul bola dan membantu barisan defensif.

Saat awal direkrut Persebaya dari Bhayangkara FC, banyak yang meragukannya, termasuk saya. Apalagi sempat ada kabar dia agak rabun. Namun caranya menggiring dan melindungi bola dengan solid, sehingga sulit direbut pemain lawan. Ketajamannya memanfaatkan peluang dalam sudut sesempit apapun membuat Bonek tenang.

Kemenangan 2-0 atas PSMS menunjukkan tren positif setelah kemenangan 1-0 atas Bali United dan 3-3 melawan Bhayangkara. Ini kali pertama Vera menang atas tim yang dilatih pelatih asing. Tren ini menjadi modal penting untuk menyapu enam angka menghadapi PSIS dan Persib Bandung. (wir/ted)

Tag : persebaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan