Jalan Panjang Khofifah di Pilgub Jatim

Rabu, 27 Juni 2018 17:23:25
Reporter : Ribut Wijoto
Jalan Panjang Khofifah di Pilgub Jatim

COBLOSAN PEMILIHAN Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) tahun 2018 telah usai. Hasil hitung cepat atau quick count Syaiful Muzani Reseach and Consulting (SMRC), pada pukul 16.20 WIB atau ketika data masuk telah 94 persen, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak (Khofifah - Emil) meraup suara 52,39 persen dan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri (Gus Ipul - Puti) mendapatkan suara 47,61 persen.

Jika hasil quick count selaras dengan rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara oleh KPUD Jatim, Khofifah bisa dipastikan bakal menjadi Gubernur Jawa Timur periode 2018 – 2023 menggantikan Soekarwo.

Momentum yang patut dicatat adalah jalan panjang Khofifah dalam mengikuti Pilgub Jatim. Sebuah perjuangan yang tidak kenal lelah. Khofifah tiga kali ikut Pilgub, dengan tiga kali ganti partai utama, tiga kali pula berganti pasangan.

Dalam dua Pilgub Jatim sebelumnya, Khofifah selalu nyaris menang. Pertarungan melekat sejak di Tempat Pemungutan Suara (TPS), rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), hingga pertarungan di level pusat, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebuah pertarungan ketat dimana Khofifah selalu kalah. Dua kali Soekarwo (Pakde Karwo) ikut Pilgub Jatim dan dua kali pula mengalahkan Khofifah. Pada Pilgub Jatim 2008, Pakde Karwo berpasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dengan singkatan Karsa mengalahkan Khofifah yang berpasangan dengan Mudjiono. Lima tahun berikutnya, tahun 2013, Karsa jilid II mengalahkan Khofifah yang berpasangan dengan Herman Surjadi Sumawiredja.

Bukan kemenangan yang gampang bagi Pakde Karwo. Tahun 2008, sesaat setelah coblosan, mayoritas quick count memenangkan Khofifah. Bahkan ketika itu, Pakde Karwo sudah sempat mengeluarkan ucapan selamat kepada Khofifah. Sebaliknya, tim Khofifah sempat pula sujud syukur merayakan kemenangan.

Tapi ternyata situasinya berbalik, rekapitulasi KPUD Jatim memenangkan Pakde Karwo dengan selisih yang sangat tipis. Khofifah pun menggugat. Melaporkan adanya kecurangan terstruktur dan masif. Gugatan diterima. Pilgub terpaksa diulang untuk sebagian wilayah Madura. Hasilnya, Khofifah tetap kalah.

Jalan terjal menghadang Khofifah di Pilgub 2013 justru sejak sebelum coblosan. Pendaftaran Khofifah dinilai tidak sah karena problem dukungan dari partai pengusung. Khofifah pun mencari keadilan melalui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Hasilnya, Khofifah diperbolehkan maju untuk mengikuti Pilgub.

Usai coblosan, rekapitulasi KPUD Jatim lagi-lagi memenangkan Pakde Karwo dan menempatkan Khofifah di urutan kedua. Lagi-lagi pula Khofifah menggugat. Melaporkan adanya dugaan kecurangan terstruktur dan masif. MK menolak gugatan Khofifah dan menyepakati hasil rekapitulasi KPUD Jatim.

Keputusan MK ini sempat pula berbalut polemik. Beberapa hari menjelang pembacaan keputusan, publik gempar, Ketua MK Akil Mochtar ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Terkait putusan MK yang memenangkan Pakde Karwo, dari dalam penjara, Akil Mochtar buka suara. Dia merasa heran karena putusan MK yang sebenarnya adalah memenangkan Khofifah.

Tahun 2017 lalu, Khofifah memastikan maju lagi di Pilgub Jatim 2018. Lawannya bukan lagi Pakde Karwo. Justru Khofifah dan Pakde Karwo mempertunjukkan realisasi pepatah bahwa tidak ada musuh abadi dalam politik. Akrobat politik yang beberapa tahun sebelumnya susah untuk dibayangkan. Kali ini, Khofifah dan Pakde Karwo bersatu. Pakde Karwo melalui Partai Demokrat mendeklarasikan dukungan pencalonan Khofifah – Emil Dardak. Sehingga, Pakde Karwo bakal berjibaku untuk memenangkan Khofifah menuju kursi gubernuran, menggantikan dirinya.

Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya, Khofifah kali ini juga tampak lebih cermat dalam memilih pendamping. Dibentuk Tim 9 yang terdiri dari para kiai. Tim 9 bertugas menjaring tokoh-tokoh yang tepat untuk mendampingi Khofifah maju dalam Pilgub Jatim 2018. Selain mencari yang memiliki sifat amanah, tokoh diprioritaskan berasal dari wilayah Mataraman. Lalu satu lagi syarat yang diusulkan oleh Pakde Karwo, calon pendamping Khofifah harus kader Partai Demokrat atau setidaknya tokoh yang bersedia menjadi kader Demokrat.

Syarat Mataraman disorongkan karena tokoh tersebut diharapkan mampu menutupi kelemahan area jangkauan Khofifah. Merujuk perolehan suara Pilgub Jatim 2013, perolehan suara Khofifah terpuruk di 18 wilayah Mataraman.

Ketika itu, Khofifah kalah di Kota Surabaya, Kota Mojokerto, Kota Malang, Kabupten Malang, Batu, Magetan, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Bojonegoro, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, dan Kota Blitar. Khofifah hanya mampu mendominasi perolehan suara di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Blitar.

Akhirnya pilihan jatuh ke Bupati Trenggalek Emil Dardak. Tokoh muda, enerjik, populer (apalagi punya istri artis ternama), pintar (lulusan luar negeri), dan merepresentasikan kultur Mataraman. Satu lagi, Emil Dardak tidak keberatan mendapat kartu tanda anggota (KTA) Partai Demokrat.

Strategi Khofifah kali ini berhasil. Quick count SMRC membuktikan itu.

Sepertinya pesona Emil mampu mendongkrak suara Khofifah di daerah-daerah seperti Madiun Kota, Madiun Kabupaten, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Tulungagung, Kediri Kota dan Kabupaten, Blitar Kota dan Kabupaten, bahkan Malang Raya. Sebagai tokoh muda dan dekat dengan dunia selebriti, Emil Dardak juga mendulang suara dari kalangan muda. Para pemilih pemula yang mewakili ‘zaman now’ dan bersifat milenial.

Kemenangan Khofifah bisa jadi berkat dukungan resmi dari Pakde Karwo pula. Tidak bisa dipungkiri, Pakde Karwo telah dua kali memenangi ajang Pilgub Jatim, tahun 2008 dan tahun 2013. Itu artinya, Pakde Karwo terbukti paham strategi pemenangan. Pakde Karwo hapal kantong-kantong suara di Jawa Timur. Modalitas ini sangat berharga untuk bisa mengantarkan Khofifah ke kursi Jatim 1.

Terakhir, kekuatan utama Khofifah adalah anggota Muslimat NU. Khofifah empat periode menjabat Ketua Umum Muslimat NU (Nahdlatul Ulama). Selama dipimpin Khofifah, roda organisasi Muslimat NU memang berkembang. Seluruh aspek berjalan lancar. Lembaga pendidikan Muslimat NU ada di mana-mana. Pengajian rutin digelar dari pusat kota sampai pelosok desa. Tidak hanya dari aspek sosial dan religi, aspek bisnis tergarap secara sukses. Maka tidak heran, anggota Muslimat NU begitu percaya pada Khofifah.

Bisa jadi, ketokohan yang mumpuni dari Khofifah membuat dia sebenarnya tidak terlalu mengandalkan mesin partai. Tampak pula, pendukungnya tidak mempermasalahkan ketika Khofifah berganti-ganti partai utama. Pilgub Jatim tahun 2008, partai utama pendukung Khofifah adalah PPP (Partai Persatuan Pembangunan).  Tahun 2013, PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) jadi leader koalisi. Dan kali ini, tahun 2018, partai utama pendukung Khofifah adalah PD (Partai Demokrat).

Kini, coblosan telah selesai. Meski begitu, Khofifah tentu saja masih harus bersabar. Quick count bukan penentu kemenangan. Masih ada tahapan yang harus dilalui. Yakni, rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara oleh KPUD Jatim. Tahap ini dijadwalkan 7-9 Juli 2018. Termasuk pula tahapan bila ternyata ada gugatan. Namun begitu, melihat jarak quick count yang berada di kisaran 5 sampai 9 persen, peluang Khofifah untuk dilantik menjadi Gubernur Jatim periode 2018 – 2023 sudah sangat besar. [but]

*) Beberapa bagian dalam tulisan ini pernah dimuat di beritajatim.com hari Senin, 27 Nopember 2017 lalu.

Tag : pilgub jatim

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan