Saya Pilih Siapa

Rabu, 27 Juni 2018 09:22:40
Reporter : Oryza A. Wirawan
Saya Pilih Siapa

'Saya pilih siapa' adalah pertanyaan yang paling filosofis dan romantis dalam demokrasi. Di dalamnya terkandung ketegangan, ketidakpastian, sekaligus harapan terhadap opsi-opsi pada surat suara. Kita tak bisa menerka masa depan, oleh karenanya kita bergantung pada harapan: semoga tak keliru menjatuhkan pilihan.

Ada kalanya pemilu tak ubahnya perangkap laba-laba dan pemilih adalah lalatnya. Benang jaring laba-laba begitu halus, tak terlihat, persis seperti citra yang ditebar politisi untuk menarik minat pemilih. Maka terperangkap di dalamnya adalah sebuah kesialan.

Hari ini pemungutan suara dalam 18 pemilihan kepala daerah dan pemilihan gubernur di Jawa Timur. Sebagian kandidat adalah petahana, sebagian wajah baru, dan sisanya adalah wajah lama yang mencoba peruntungan kembali. Kita sudah mengambil sikap dan menentukan pilihan untuk menjadikan demokrasi sebagai jalan bersama. Kebebasan adalah anugerah sekaligus kutukan yang kita tanggung bersama-sama, karena dalam setiap kebebasan selalu ada konsekuensi terhadap opsi-opsi dan kemungkinan-kemungkinan yang kita pilih.

Kandidat petahana memberikan opsi stabilitas dalam pemerintahan, karena melanjutkan apa yang sudah dilakukan selama periode sebelumnya adalah keniscayaan. Program-program baru hanya akan memperkuat apa yang sudah dibangun. Problemnya, tak semua petahana cukup bagus mengelola pemerintahan, dan sebaik apapun petahana, sulit bagi publik untuk mengharapkan perubahan radikal terhadap apa yang sudah berjalan. Lubang di sana-sini memang akan ditambal. Mungkin. Tapi stabilitas dan kejumudan berada dalam garis tipis.

Wajah baru dan wajah lama yang mencoba peruntungan kembali adalah dua jenis kandidat yang menjanjikan perubahan, yang kemungkinan lebih progresif dibandingkan petahana. Mereka sudah mengukur dan mengkalkulasi semua celah dalam bangunan pemerintahan yang lama. Ada harapan yang dikonstruksi dari janji. Namun problemnya: tak semua wajah baru dan mereka yang mencoba peruntungan kembali bisa menjamin bahwa janji itu adalah formula tepat untuk memperbaiki apa yang lemah pada masa lampau.

Pemilih dikutuk untuk bebas menentukan opsi tanpa bisa mematok kemungkinan-kemungkinan. Pada akhirnya, harapan dibangun di atas itikad baik semua kandidat untuk berikhtiar memenuhi janji. Dalam perjalanan lima tahun ke depan, barulah kita memastikan: apakah mereka tengah membangun rumah kartu dengan janji-janji itu dan pemilih adalah lalat yang terperangkap dalam sarang laba-laba atau tidak.

Selama mencoblos. [wir]    

Tag : pilkada

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan