Khofifah atau Gus Ipul yang Menang, Nyaris Tidak Beda

Rabu, 27 Juni 2018 09:20:34
Reporter : Ribut Wijoto
Khofifah atau Gus Ipul yang Menang, Nyaris Tidak Beda

ADA BEBERAPA ungkapan kembar yang diungkapkan  Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul – Puti) atau Khofifah Indar Parawansa – Emil Elestianto Dardak (Khofifah – Emil) dalam tiga kali debat publik Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018. Dalam banyak segi, Khofifah – Emil dengan Gus Ipul – Puti memang saja saja.

Gus Ipul dalam debat terakhir, Sabtu (23/6/2018) menyatakan, “apa yang paparkan oleh Bu Khofifah itu telah dilaksanakan oleh Pakde Karwo dan saya. Hanya saja memang perlu beberapa pembenahan”. Begitu juga sebaliknya dengan Khofifah, progam-progam yang ditawarkan Gus Ipul sudah termatub dalam rencana dia. Hanya saja, Khofifah mengaku akan memberi penajaman agar lebih tepat.

Mengapa Khofifah – Emil dan Gus Ipul – Puti sama saja?

Gus Ipul dan Khofifah memiliki latar belakang yang sama, yaitu Nahdliyin. Keduanya adalah tokoh-tokoh penting dalam jajaran elit Nahdlatul Ulama. Selain sama-sama Nahdliyin, keduanya juga telah kenyang asam garam dunia politik dan birokrasi.

Kepiawaian Gus Ipul dalam ranah politik sudah tidak perlu diragukan lagi. Wakil Gubernur Jatim ini tercatat pernah berkiprah di PDI Perjuangan maupun PKB. Di masa pemerintahan Gus Dur –Megawati, Gus Ipul memangku posisi anggota DPR dari PDI Perjuangan. Masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Ipul dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal sejak Oktober 2004 hingga Mei 2007.

Pria kelahiran Pasuruan (28 Agustus 1964) ini sekarang menjabat posisi Wakil Ketua PBNU. Menjelang Pilgub Jatim 2018, beberapa waktu lalu, keturunan pendiri pondok pesantren Denanyar Jombang ini mendapat dukungan dari 21 kiai sepuh.

Kiprah Khofifah di dunia politik tidak kalah keren dari Gus Ipul. Menteri Sosial ini dikenal sebagai politikus yang ulet, visioner, pantang menyerah, dan bersifat amanah. Sejak era Reformasi, Khofifah lekat dengan sebutan tokoh pembaharuan.

Selama bertahun-tahun, Khofifah dipercaya memimpin Muslimat NU. Badan Otonom (Banom) NU ini sukses mengelola sekolah, universitas, maupun beragam kegiatan di sektor ekonomi dan kesehatan. Pengajian Muslimat NU juga berjalan lancar dari tingkat pusat sampai di pelosok desa terpencil.

Berlatar belakang Santri, baik Khofifah maupun Gus Ipul memilih pasangan yang merepresentasikan Abangan (Mataraman). Khofifah memilih Emil Dardak yang saat ini menjabat sebagai Bupati Trenggalek. Sedangkan Gus Ipul memilih cucu Soekarno, yaitu Puti Guntur.

Kombinasi Santi – Abangan ini diharapkan mewakili mayoritas kultur (budaya) masyarakat Jawa Timur. Keduanya, mungkin saja, belajar dari persebaran perolehan suara dalam Pilgub Jatim 2013.

Pada coblosan 5 tahun lalu, kekuatan Gus Ipul dan Khofifah cukup imbang di wilayah yang lekat dengan kultur santri atau Nahdliyin. Sebaliknya, Gus Ipul unggul telak di wilayah mataraman.

Waktu itu, Gus Ipul yang mendampingi Soekarwo (Pakde Karwo) menang telak dengan menguasai 18 wilayah yang lekat dengan kultur Mataraman. Terdiri dari perolehan suara di Surabaya, Kota Mojokerto, Kota Malang, Kabupten Malang, Batu, Magetan, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Bojonegoro, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, dan Kota Blitar. Adapun Khofifah hanya mampu mendominasi perolehan suara di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Blitar.

Bisa jadi, keunggulan Gus Ipul di Mataraman disebabkan faktor Pakde Karwo. Artinya, penentu kemenangan Gus Ipul dengan Khofifah dalam Pilgub Jatim 2013 ditentukan oleh pertarungan antara Pakde Karwo melawan Herman Surjadi. Pakde Karwo lebih bisa merepresentasikan aspirasi warga Mataraman dibandingkan Herman Surjadi (wakil Khofifah waktu itu). Sedangkan saat ini, pasangan Khofifah dan Gus Ipul sama-sama terkait erat dengan Mataraman.

Uniknya lagi adalah hubungan keduanya dengan Pakde Karwo. Saat ini, partai utama pengusung Khofifah adalah Partai Demokrat. Pakde Karwo sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, dia turut merancang strategi pemenangan Khofifah. Sehingga, Khofifah beberapa kali mengungkapkan bahwa dia akan meneruskan program-program Pakde Karwo.

Gus Ipul juga sama. Dia secara terbuka mengakui akan meneruskan program-program Pakde Karwo. Mengapa demikian? Sebab, selama 10 tahun menjadi Wakil Gubernur Jatim mendampingi Pakde Karwo, Gus Ipul merasa telah menjalankan jabatan secara amanah. Maka, keberhasilan Pakde Karwo pun diklaim sebagai keberhasilan dia.

Hal unik lain dari kesamaan Khofifah dan Gus Ipul adalah terkait dengan kepentingan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019.

Pada Pilpres 2014 lalu, Khofifah didaulat menjadi Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi – Jusuf Kalla (Jokowi – JK). Sebagai Ketua Muslimat NU, Khofifah dinilai berjasa turut menyumbangkan suara besar terhadap Jokowi. Tak heran, begitu Jokowi ditetapkan sebagai Presiden RI, Khofifah diberi tempat sebagai Menteri Sosial.

Pasangan Khofifah, yaitu Emil Dardak, juga bukan orang yang jauh dari lingkaran PDI Perjuangan (partai utama pengusung Jokowi – JK). Ketika maju dalam Pemilihan Bupati Trenggalek, PDI Perjuangan adalah salah satu pengusungnya. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri memiliki hubungan erat dengan kakek Emil Dardak. Hubungan itu diungkapkan Megawati saat Emil Dardak dipanggil secara khusus oleh Megawati di kediamannya, tahun lalu.

Bagaimana dengan Gus Ipul – Puti Guntur. Keterkaitan keduanya dengan Jokowi tidak perlu diragukan lagi.

Pendukung utama pasangan Gus Ipul – Puti Guntur dalam Pilgub Jatim adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Di tingkat pusat, kedua partai ini merupakan pendukung utama Pemerintahan Jokowi.

Dua partai ini pula yang pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 yang menjadi leader berjibaku memperjuangkan pasangan Jokowi – Jusuf Kalla mengalahkan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Maka tidak heran, politisi PKB dan PDI Perjuangan mengisi beberapa pos strategis dalam komposisi kabinet Jokowi.

Tapi ini adalah dunia politik. Sebuah dunia yang kerap jungkir balik, kadang tidak bisa ditebak. Artinya, tidak ada jaminan mutlak jika Gus Ipul atau Khofifah menjadi Gubernur Jatim, mereka akan merapat ke Jokowi pada Pilpres tahun depan. Faktanya, dalam politik Indonesia, tidak sedikit politisi yang berpindah partai. Tidak sedikit politisi yang berbelok arah jelang coblosan.

Terlepas dari kepentingan Pilpres, untuk saat ini, latar belakang Gus Ipul dan Khofifah tidaklah berbeda jauh. Siapapun yang memenangi Pilgub Jatim 2018 ini, warga Jawa Timur insya Allah mendapatkan pemimpin terbaik. [but]

Tag : pilgub jatim

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan