Jurus Pamungkas Pilgub Jatim 2018

Sabtu, 23 Juni 2018 00:03:31
Reporter : Ribut Wijoto
Jurus Pamungkas Pilgub Jatim 2018

Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim), 27 Juni tahun 2018, tinggal beberapa hari lagi, tidak sampai seminggu malahan. Sampai saat ini pun, kekuatan cenderung berimbang. Tidak ada pihak yang berani memastikan kemenangan salah satu calon. Maka, di hari-hari jelang coblosan seperti saat sekarang, jurus pamungkas sangat mungkin bakal keluar.

Pantauan melalui rilis lembaga-lembaga survei yang telah mapan, selisih elektabilitas antara pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak (nomor urut 1) dan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri (nomor urut 2) masih bersaing ketat. Beberapa menunjukkan Khofifah-Emil mengungguli Gus Ipul – Puti, beberapa yang lain merilis angka yang sebaliknya. Baik keunggulan Gus Ipul – Puti maupun Khofifah – Emil selalu dalam rentang margin error. Artinya, lembaga survei tidak memastikan kemenangan salah satu pasangan.

Kicauan netizen di media sosial tidak kalah ketatnya. Jumlah share pemberitaan maupun jumlah komentar masing-masing simpatisan relatif seimbang. Kalaulah ada komentar yang mendukung Khofifah maka di bawahnya bakal segera disusul komentar yang memberi apresiasi positif bagi Gus Ipul. Begitu sebaliknya.

Masing-masing pasangan calon juga seperti bergiliran mendatangi ruang publik. Tempat para pemilih berkumpul atau berserikat. Semisal yang terjadi di pabrik Maspion, Sidoarjo. Khofifah datang dan ribuan buruh Maspion mengacungkan 1 jari (nomor urut Khofifah). Beberapa minggu berikutnya, Gus Ipul datang ke Maspion dan para buruhnya berganti mengangkat tangan mengacungkan 2 jari (nomor urut Gus Ipul). Kedatangan kedua calon juga tampak sama-sama disambut suka cita oleh Presiden Direktur Maspion, Alim Markus.

Entah mana yang benar-benar secara tulus mendukung Gus Ipul, mana yang sejujurnya simpatisan Khofifah. Hanya masing-masing buruh yang tahu.

Secara formal, ada dua agenda besar yang disediakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jatim bagi para calon untuk meraup dukungan luas. Melalui kampanye akbar dan debat publik. Tapi sungguh, keduanya sama-sama tidak terlalu signifikan.

Baik kubu Khofifah maupun Gus Ipul pastinya menampilkan tokoh nasional dalam kampanye akbar. Tokoh-tokoh partai di level ketua umum atau sekjen. Tapi makna kehadiran itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Sebab selama ini, mereka telah beberapa kali datang ke Jatim. Berulangkali mengeluarkan statemen.

Semisal Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk Khofifah dan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri untuk Gus Ipul. Begitu pula dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar di kubu Gus Ipul dan Ketum PAN Zulkifli Hasan di pihak Khofifah, dua-duanya beberapa kali telah menyambangi Jatim.

Peluang tambahan daya dobrak justru dari tokoh yang selama ini terkesan irit bicara terkait Pilgub Jatim. Yakni instruksi terbuka dari Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk mencoblos Gus Ipul atau ajakan gamblang mensuport Khofifah dari Ketum NasDem Surya Paloh. Selama ini, kedua tokoh itu tidak terlihat cukup agresif bergerak. Setidaknya dibandingkan SBY dan Megawati.

Debat publik terakhir, bakal digelar nanti malam (Sabtu, 23/6/2018) dengan dipandu presenter Brigita Manohara, berpeluang menyedot perhatian pemilik suara, baik warga yang masih gamang maupun warga yang sama sekali  belum menentukan pilihan.

Fenomena dalam dua kali debat publik, situasinya lumayan menegangkan. Tidak saja berupaya menyosialisasikan program, masing-masing pasangan tampak pula memasang jebakan untuk menjatuhkan lawan. Baik menjatuhkan mental maupun data kompetitor.

Penting dicatat, mayoritas warga Jawa Timur tinggal atau berasal dari pedesaan. Mereka adalah orang-orang yang masih memegang adat ketimuran. Adat sopan santun. Tidak terbiasa berbicara terbuka soal cacat orang lain. Apalagi di muka umum. Jika ada orang yang terang-terangan menjebak atau merendahkan lawan bicara, bisa jadi, orang tersebut tidak mendapatkan simpati. Sebaliknya, orang yang suka pamer kecerdasan untuk merendahkan lawan bicara justru dinilai kurang sopan dan tidak njawani. Adat ketimuran mengajarkan untuk menghargai orang lain.

Jadi jika dalam debat nanti malam ada Cagup atau Cawagub yang sinis atau berhasil merendahkan lawan bicara, belum tentu, dia mendapat simpati pemilik suara. Bisa jadi yang tampil kalem malahan panen pujian.

Apapun kendala dan tantangannya, 4 hari menjelang coblosan ini, menarik disaksikan jurus-jurus pamungkas yang bakal diperagakan dari masing-masing pasangan. Jurus pamungkas yang diyakini bisa memastikan kemenangan.

Oleh sebab bernama jurus pamungkas alias jurus terakhir, kerap kali, sifatnya kejutan. Mengejutkan bagi lawan maupun  para pemilik suara. Nah, mengantisipasi jurus pamungkas lawan itulah yang utama untuk disiapkan.

Tim pemenangan, baik Khofifah maupun Gus Ipul, mungkin perlu memutar ulang rekaman final Liga Champions bulan lalu. Laga antara Real Madrid vs Liverpool FC.

Sejak menit awal Liverpool lebih dominan. Pergerakan tiga gelandang dan tiga penyerangnya lebih menguasai permainan.  Peluang beberapa kali didapatkan. Namun semuanya berubah ketika momen mengejutkan terjadi. Mohamad Salah cedera akibat insiden dengan Sergio Ramos. Permainan Liverpool langsung drop. Terlihat dengan kentara, Liverpool tidak mempersiapkan rencana alternatif. Sebuah rencana mengantisipasi bila Mo Salah cedera. Akibatnya fatal, kendali lantas dipegang oleh Real Madrid. Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Real Madrid.

Cara Real Madrid mengalahkan Liverpool FC itu tampaknya perlu diadopsi oleh tim pemenangan dan tim sukses. Bahwa, untuk memastikan kemenangan, tim harus memahami setiap detail potensi diri dan potensi lawan. Termasuk pula mengantisipasi insiden-insiden yang bersifat kejutan.

Terkait Pilgub Jatim 2018, secara kasat mata, basis massa antara pasangan Gus Ipul – Puti dan Khofifah – Emil telah sama-sama dikenali. Tokoh-tokoh masyarakat dan kiai di belakangnya juga bukan rahasia lagi. Jika situasi tetap normal dan tanpa kejutan signifikan, semacam cederanya Mo Salah, siapapun yang menang, yang pasti, adalah kemenangan tipis.

Kalkulasi kemenangan tipis tentu saja sangat rawan. Bergeser sedikit saja, situasi berbalik arah. Paling aman harus memastikan kemenangan dalam jumlah lumayan besar.

Maka usaha paling minimal adalah menjaga basis massa sekaligus tokoh-tokoh kunci yang telah dimiliki. Jangan sampai sesaat jelang coblosan, basis massa diacak-acak oleh tim pemenangan lawan. Jangan sampai ada tokoh kunci yang berbelok arah di depan garis finish.

Sebaliknya, usaha yang perlu dilakukan yakni mengambil suara dari basis massa lawan. Mendekati tokoh-tokoh kunci milik kubu lawan. Tentu saja usaha-usaha dalam koridor aturan. Bukan usaha gelap mata.

Survei terakhir dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), selisih elektabilitas antar pasangan Pilgub Jatim hanya 8 persen. Dari selisih 8 persen itu, ada sekitar 10 persen responden yang tidak mau mengungkapkan pilihannya. Bahkan, ada sekitar 30 persen pemilih yang mengaku siap mengubah pilihan. Nah, massa mengambang ini wajib pula ditembak dengan peluru terakhir.

Tidak kalah penting adalah serangan kampanye hitam (black campaign). Dalam beberapa kasus pilkada, serangan kampanye hitam efektif untuk menggerus kekuatan lawan. Tidak perlu jauh-jauh, Bupati Banyuwangi Azwar Anas sebelumnya telah mengantongi rekomendasi dari PDI Perjuangan untuk maju sebagai cawagub. Toh akibat muncul foto-foto asusila yang diduga dirinya, salah satu kepala daerah terbaik Indonesia ini terpaksa mengundurkan diri.

Sejauh ini, kehidupan pribadi empat tokoh yang bertarung di Pilgub Jatim relatif bebas gosip dan fitnah besar. Tapi jangan lengah. Waktunya masih empat hari lagi. Segala kemungkinan terbuka lebar. Untuk itu, tokoh-tokoh tertentu penting disiapkan untuk memberi klarifikasi bila sewaktu-waktu ada serangan fitnah. Sehingga serangan fitnah bisa cepat diredam dan tidak sempat mempengaruhi opini publik.

Pergerakan lain yang patut diwaspadai adalah aksi bandar judi atau kelompok di luar tim pemenangan. Mereka bisa saja menjalankan aksi ilegal yang mengacaukan peta dukungan.

Kadang kala dilakukan secara tersamar. Semisal dengan cara serangan fajar, bagi-bagi uang kepada pemilih loyal atau pemilih mengambang. Kadang serangan fajar bukan untuk mempengaruhi pilihan pemilik suara. Sebaliknya, serangan fajar dilakukan secara vulgar agar citra tim pemenangan tercoreng.

Detail-detail seperti di atas penting dicermati oleh tim pemenangan. Dicermati sekaligus diantisipasi. Sebab, pihak yang lebih detail membaca permainanlah yang paling berpeluang meraup kemenangan. Detail pula yang menentukan efektivitas pengaruh jurus pamungkas. Tanpa perhatian pada detail, jurus pamungkas terancam sia-sia. [but]

Tag : pilgub jatim

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan