Sorotan dan Prediksi Grup G Piala Dunia 2018

Saat Tiga Singa Bertemu Setan Merah

Selasa, 12 Juni 2018 14:41:43
Reporter : Oryza A. Wirawan
Saat Tiga Singa Bertemu Setan Merah

Juara grup: Belgia

Runner-up grup: Inggris

Saat Tiga Singa Inggris bertemu dengan Setan Merah Belgia, sesungguhnya ini tak ubahnya 'The Clash of Premier League'. Mayoritas pemain Inggris dan Belgia bermain dalam satu klub di Liga Primer Inggris. Dari 23 pemain tim nasional Belgia yang didaftarkan ke Piala Dunia, 11 orang di antaranya bermain di Liga Inggris. Pelatih Belgia, Roberto Martinez, pernah melatih di sejumlah klub Liga Inggris. Terakhir ia melatih Everton, salah satu klub tradisional tapi medioker.

Jadi tentu saja, kita bisa berharap pertandingan menarik jika dua negara bertemu di Grup G. Bagi Inggris, inilah saatnya merestorasi kebanggaan yang remuk dalam Piala Dunia 2014 saat mereka tersisih di fase penyisihan grup. Era Steven Gerrard dan Frank Lampard sudah kelar. Kini mereka ikon dan kapten baru bernama Harry Kane, penyerang Tottenham Hotspur, yang sudah mencetak 13 gol dalam 24 pertandingan bersama timnas.

Jordan Pickford, penjaga gawang Everton, masih menjadi opsi orang nomor satu di zona pertahanan. Para bek seperti Kyle Walker, Gary Cahill, Ashley Young yang menguasai caps terbanyak di barisan pertahanan dikombinasikan dengan pemain muda seperti John Stones dan sang debutan Trent-Alexander Arnold yang masih berusia 19 tahun. 

Posisi gelandang timnas Inggris dipenuhi pemain-pemain berkualitas: Eric Dier (gelandang bertahan), Jordan Henderson (gelandang sentral), Dele Alli, dan Jesse Lingard. Alli adalah bagian dari trisula Tottenham Hotspur yang rajin memasok assist di Liga Primer. Southgate bisa bernapas lega ada Raheem Sterling. Sterling bermain apik di Manchester City dalam formasi 4-3-3 yang diterapkan Pep Guardiola. Sementara Jamie Vardi, striker gaek Leicester City, masih bisa diharapkan bertandem atau bergantian dengan Kane.

Problem semua pelatih tim nasional Inggris sebenarnya bukan minimnya kualitas pemain, melainkan jadwal kompetisi yang terlampau padat. Dalam satu musim kompetisi, klub elite Inggris bisa turun di tiga ajang domestik (liga, Piala Liga, Piala FA) dan Eropa (Liga Champions atau Liga Eropa). Mereka juga tidak mengenal jeda musim dingin sebagaimana kompetisi lain di Eropa.

Manajer Liverpool asal Jerman, Jurgen Klopp, pernah menyindir, bahwa saat libur Natal dan Tahun baru, pemain dan manajer klub liga negara Eropa lainnya duduk di sofa, bersantai, menyaksikan siaran langsung klub-klub Inggris. Pelatih Jerman tersebut juga mengkritik ketatnya jadwal yang membuat sebuah klub bisa memainkan dua pertandingan dalam waktu kurang dari 48 jam. Ini membuat performa pemain Inggris selalu gagal mencapai puncak saat dibutuhkan tim nasional dalam turnamen resmi seperti Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Martinez meminta kepada anak-anak asuhnya untuk fokus dan tidak membiarkan masa lalu mengganggu. Tidak mudah melupakan kegagalan, namun dia berhasil. Cara pemain Belgia merayakan kemenangan atas Bosnia dalam babak kualifikasi grup menunjukkan bahwa luka di Prancis mulai kering.

Kini generasi emas itu hadir di Rusia. Apa yang bisa diharapkan dari mereka? Berada satu grup dengan Inggris, Panama, dan Rusia lolos ke fase berikutnya seharusnya bukan hal sulit. Martinez punya cukup kualitas untuk membawa Setan Merah melangkah lebih jauh. Dia berpengalaman melatih tiga klub Liga Inggris: Swansea, Wigan, dan Everton. Bersama Wigan, dia menjadi juara Piala FA musim 2012-2013. 

Martinez merasa beruntung telah menghabiskan waktu 21 tahun di Inggris, sehingga mengenal betul kompetitor utama Belgia di fase grup tersebut. Sebagian besar pemain Belgia juga bermain untuk klub Inggris. “Fantastis kami bisa berhadapan dengan Inggris,” katanya.

Kendati menyebut Inggris sebagai pesaing utama, Martinez menghormati Panama. “Mereka berhasil menggagalkan Amerika Serikat ke Rusia,” katanya. Sementara tu Tunisia disebutnya memiliki kemungkinan mengejutkan, karena memiliki pola dan filosofi bermain yang berbeda dengan tim-tim Eropa.

Sementara itu, Martinez mengingatkan kepada para pemain Belgia, bahwa bakat saja tak cukup untuk menggapai keberhasilan. Belgia harus mencari keseimbangan yang tepat dan membangun mentalitas juara. 

Martinez menyukai sepak bola menyerang dalam formasi 3-4-2-1. Sepak bola ofensif itu sudah tampak selama babak kualifikasi. Belgia memuncaki Grup H Zona Eropa dengan mencetak 43 gol dan hanya kebobolan enam gol. Hanya Jerman yang memiliki gol sama banyaknya selama babak kualifikasi.

Formasi tiga bek tidak sulit dijalankan oleh pemain-pemain Belgia. Para bek tengah seperti Toby Alderweireld, Jan Vertonghen (Tottenham Hotspur), dan Vincent Kompany (Man City) tidak asing dengan formasi tersebut. Spurs di bawah Pochettino biasa memainkannya. Sejak kedatangan Antonio Conte ke Chelsea, formasi tiga bek mendadak sangat populer di Liga Inggris. Bahkan Arsene Wenger menggunakannya untuk Arsenal. Ini tentu saja membuat proses adaptasi berjalan cepat.

Sementara di barisan gelandang sentral, mereka punya Marouane Fellaini dan Kevin De Bruyne. Mereka masing-masing sudah mencetak 16 dan 13 gol untuk tim nasional. Eden Hazard akan menjadi salah satu otak serangan. Dia sudah mencetak 21 gol untuk timnas. .

Di barisan serang, Romelu Lukaku akan memimpin dan saat ini sudah mencetak gol untuk tim nasional 31 gol. Belum lagi Dries Mertens (Napoli) yang sudah mencetak 13 gol. Keberadaan ujung tombak tajam membuat Belgia tidak perlu memainkan pola false nine sebagaimana diperankan Eden Hazard di Chelsea.

Martinez hanya perlu meyakini kehebatan para pemainnya dan tidak terlampau bereksperimen, sebagaimana saat beruji coba melawan Meksiko, medio November lalu. Hasil akhir 3-3. Namun Meksiko menguasai bola 56 persen. Martinez memainkan formasi 5-3-2. Ini bikin cemas seorang pemain yang biasa bermain dengan formasi ofensif di Manchester City seperti De Bruyne. Jika Martinez memainkan pola pragmatis seperti Jose Mourinho di Manchester United musim 2017-2018, bermain defensif dengan sekelompok pemain ofensif, Belgia berpotensi gagal di Piala Dunia.

Apalagi Tunisia di bawah komando Nabil Maaloul punya potensi untuk mengejutkan. Mereka punya beberapa pemain Ligue 1 Prancis, seperti Wahbi Khazri, pemain klub Liga Inggris Sunderland yang dipinjamkan ke Stade Rennes. Dia sudah mencetak 12 gol untuk tim nasional dalam 35 pertandingan. Di sayap kiri, ada Naïm Sliti yang bermain di klub Liga Prancis Dijon. Gelandang bertahan berusia 22 tahun yang bermain untuk Montpellier Ellyes Skhiri bisa menjadi andalan.

Maaloul menyukai formasi 4-2-3-1. Namun ia bisa mengubah formasi menjadi 4-3-3 untuk melukai lawan, atau 5-3-2 untuk menangani lawan yang lebih kuat. Besar kemungkinan Maaaloul akan lebih banyak berganti formasi untuk beradaptasi saat menghadapi Inggris dan Belgia. Dia tentu tak akan berharap bermain terbuka menghadapi dua tim yang memiliki kelas lebih bagus. Namun dia bakal ofensif saat menghadapi Panama.

Faktor pengalaman akan menjadi penentu. Sebagian besar pemain Tunisia tidak pernah bertanding dalam level tinggi. Ini tentu bisa menyulitkan. Peran Khazri menjadi penting, karena bisa menularkan pengalamannya kepada kawan-kawan satu tim sekaligus memberikan ketenangan. “Kami tidak takut dengan siapapun. Kami hormat kepada Inggris dan tim lainnya. Tapi kami juga ingin membuat bangsa kami bangga,” kata Ali Maaloul, bek kiri.

Selama babak kualifikasi Zona Afrika, Tunisia tidak terkalahkan. Hanya Republik Demokratik Kongo dan Libya yang berhasil menahan imbang mereka. Mereka lolos sebagai juara Grup A. Hasil ini yang membuat Maaloul meyakini anak-anak asuhnya telah berkembang.

Tim terakhir yang tak masuk hitungan di grup ini adalah Panama. Situs Transfermarkt juga mencatat, jika diuangkan, nilai skuat Panama paling murah di antara semua tim yang berpartisipasi: 409 ribu euro. Bandingkan dengan Prancis yang memiliki skuat seharga 1,05 miliar euro.

Mayoritas pemain Panama bermain di liga sepak bola domestik setempat dan Amerika Serikat. Hanya ada Jaime Penedo, penjaga gawang yang bermain untuk Dinamo Bucharest (Rumania), gelandang Jose Luis Rodriguez yang bermain untuk Gent (Belgia), dan Erick Davis, gelandang di klub Slowakia Dunajska Streda.

Pencetak gol terbanyak tim nasional Panama, Luis Tejada sudah berusia 36 tahun dan bermain untuk klub Peru Torneo Verano. Berposisi sebagai penyerang tengah, ia sudah menyetor 43 gol dalam 105 pertandingan. Blas Perez, penyerang tengah lainnya yang tak kalah tajam dengan 43 gol dalam 117 pertandingan, sudah berusia 37 tahun. Ia bermain untuk klub Municipal, Guatemala.

Hernán Dario Gomez, pelatih berkebangsaan Kolombia, memang tak memiliki banyak opsi istimewa dalam skuatnya untuk memainkan formasi 4-4-2. Ini sejarah pertama Panama ke Piala Dunia. dan para pemain Panama punya karakter yang dibutuhkan agar bisa bertahan dan berkiprah lebih jauh. "Kami akan berusaha sebaik mungkin," katanya. [wir]

Tag : piala dunia

Berita Terkait

Kanal Sorotan