Sorotan dan Prediksi Grup F Piala Dunia

Sasaran Tembak Bernama Jerman

Minggu, 10 Juni 2018 15:16:14
Reporter : Oryza A. Wirawan
Sasaran Tembak Bernama Jerman

Juara grup: Jerman
Runner-up grup:
Swedia

Selama fase Kualifikasi Zona Eropa Grup C, Jerman mencatatkan hasil sempurna: 10 pertandingan, 10 kemenangan. Mencetak 43 gol, kebobolan hanya empat gol. Tidak ada tim lain yang mencatatkan hasil sedahsyat itu. Produktivitasnya hanya bisa disamai Belgia yang juga mencetak 43 gol, namun tidak mencatatkan kemenangan sempurna sepanjang kompetisi.

Materi pemain Jerman memang terbilang komplet di semua lini untuk formasi 4-2-3-1. Saat ini mereka menempati peringkat pertama FIFA. Di bawah mistar gawang, kiper yang sempat cedera panjang, Manuel Neuer, masih dipertahankan bersama Marc-Andre Ter Stegen dan Kevin Trapp. Di zona defensif, Low punya Mats Hummels, Jerome Boateng, maupun Antonio Rudiger. Tugas bek kiri ada di pundak Jonas Hector dan di bek kanan ada Joshua Kimmich.

Barisan gelandang lebih mengerikan: Toni Kroos, Leon Goretzka, Mesut Ozil, Julian Drexler, dan Julian Brandt. Di barisan depan, setelah Miroslav Klose pensiun, dua nama cukup dominan: Thomas Muller dan Mario Gomez. Mereka masing-masing sudah mencetak 37 dan 31 gol untuk tim nasional. Muller dikenal sebagai Sang Penerjemah Ruang.  Raumdeuter.

Julukan ini dilansir Muller sendiri saat ditanya wartawan soal posisinya dalam sebuah tim sepak bola. Dia bukan striker utama. Namun kemampuan membaca arah bola membuatnya bisa memanfaatkan momentum tak terduga untuk mencetak gol. Sebagai pelapis, ada anak muda berusia 22 tahun, Timo Werner. Dalam tujuh penampilan untuk timnas, lima gol tercipta.

Low adalah sosok jenius di balik capaian Jerman selama ini. Dia tak segan mengadaptasi taktik lawan, dan dia mengagumi keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2012 di bawah Vicente del Bosque. Spanyol saat itu memainkan taktik false nine, yakni tidak menempatkan penyerang tengah bertipe klasik sebagai pencetak gol utama, melainkan gelandang serang.
 
False nine membuka opsi lebih luas bagi Low untuk tak terlalu mengandalkan ujung tombak bertipe klasik seperti Gerd Mullers, Uwe Seelers, Jurgen Klinsmann, atau Rudi Voller yang dimiliki timnas Jerman pada masa lalu. Awalnya banyak yang meragukan. Sejumlah mantan pemain nasional Jerman menyebut tim tersebut tak akan punya daya pukul yang mematikan tanpa ujung tombak bertipe klasik. Namun Piala Dunia 2014 membuktikan bahwa taktik Low berjalan baik. Tujuh gol saat melawan Brazil di semifinal sebagian dicetak oleh gelandang serang: Kroos mencetak dua gol, Sami Khedira satu gol. Di babak final, gol tunggal Jerman ke gawang Argentina dicetak Gotze.

Low berhasil membawa Der Panzer merebut dua trofi bergengsi: Piala Dunia 2014 (tim Eropa pertama yang sukses jadi juara di daratan Amerika Selatan) dan Piala Konfederasi 2017. Ia menyadari tantangan mempertahankan Jerman di level terbaik tak akan mudah, karena semua tim kini berkembang dan setiap saat muncul bakat-bakat muda yang masuk ke skuat nasional semua negara.

Target Low jelas: menjadi juara Piala Dunia berturut-turut. Kerja keras dan perhatian terhadap detail dan harmoni dalam mempersiapkan tim adalah kunci suksesnya. Dia mengenyahkan friksi dua faksi di tubuh timnas: faksi pemain Borussia Dortmund dan Bayern Munchen. Low jarang mengubah susunan pemain inti. Dia percaya, tanpa pemain-pemain inti yang bisa diandalkan, taktik apapun akan percuma.

Ini tahun kesebelas Low mengomandani Jerman. Dia pelatih terlama yang menangani tim nasional di Piala Dunia. "Saya sudah di sini dalam jangka waktu lama dan saya berharap bakal muncul lebih banyak keberhasilan."

Tentu saja keberhasilan tak pernah mudah dicapai. Orang kini menanti bagaimana improvisasi Low agar taktik false nine dalam skema 4-2-3-1 (yang berubah jadi 4-6-0) lebih variatif di Rusia. Korea Selatan, Meksiko, dan Swedia di Grup F akan menjadi batu ujian pertama. "Setiap orang kini ingin mengalahkan kami," kata Low.

Tim seperti Swedia punya kepercayaan diri untuk melakukannya. "Kami tim yang bagus, dan kami bekerja keras bersama. Kami juga cerdas secara taktik dan kami harus tetap seperti itu, tak peduli siapapun lawannya. Bersama, kami kuat," kata Janne Andersson, sang pelatih.

Andersson sudah membuktikan ucapannya dalam babak play-off kualifikasi dengan menyingkirkan Italia. Kini mereka sedang bertransformasi dari 'Zlatan Team' menjadi tim yang mengandalkan kolektivitas. Zlatan Ibrahimovic, pemain terhebat dalam sejarah Swedia sekaligus prajurit bayaran pemburu kejayaan sudah pensiun.

Apa yang tersisa dari Swedia hari ini bukanlah tim dengan nama besar. Bahkan Ibrahimovic dalam sebuah wawancara sempat menyebut tim tersebut tidak sebagus saat dia masih bermain. Tim Swedia bermain tanpa tekanan. Sekarang mereka punya pelatih baru, kurang berpengalaman dengan pemain-pemain baru, mereka memulai dari awal lagi, katanya.

Andersson meminta agar para pemain melupakan Ibrahimovic dan membuka awalan baru. Dia menjamin setiap pemain memiliki kesempatan yang sama untuk masuk dalam tim inti. Sepak bola adalah sebuah permainan tim dan saya ingin semua pemain mengambil tanggung jawab untuk membawa tim ini maju. Mereka memahami itu dan meresponnya dengan bagus, katanya.

Menurut Andersson tak ada yang perlu dicemaskan. Swedia telah menghadapi lawan berat sejak babak kualifikasi Zona Eropa Grup A. Penggemar sepak bola di mana pun memperkirakan Prancis dan Belanda yang akan menempati dua besar, dan salah satunya lolos ke Rusia melalui playoff. Namun ternyata Belanda justru terpuruk di belakang Swedia yang menempati posisi runner-up. Jika kami dapat bermain pada level itu, kami akan mengalahkan tim mana pun di dunia, katanya.

Cenderung suka memainkan formasi 4-4-2, Andersson memiliki stok pemain yang tidak terlalu buruk. Karl-Johan Johnsson dan Robin Olsen akan bersaing menjadi orang nomor satu di area pertahanan. Victor Lindelof yang saat ini bermain untuk Manchester United menjadi palang pintu di depan gawang bersama bek tengah Andreas Granqvist. Ini perpaduan tua-muda. Granqvist akan memberikan ketenangan sekaligus pemompa motivasi. Di posisi bek kiri, ada pemain berusia 23 tahun: Ludwig Augustinsson. Dia bisa menjadi opsi selain Martin Olsson. Sementara di bek kanan, Mikael Lustig yang sudah 62 kali memperkuat tim nasional tak perlu dicemaskan.

Emil Forsberg ditempatkan sebagai ancaman bagi lawan saat ditempatkan sebagai gelandang kiri. Ini pemain bagus yang sudah mencetak enam gol dalam 31 penampilan bersama timnas. Sementara itu posisi pasukan serbu diserahkan kepada penyerang tengah John Guidetti, Ola Toivonen, dan Marcus Berg. Berg memang tidak sehebat Zlatan. Namun dia mencatat rekor empat gol saat Swedia melumat Luksemburg 8-0. Dia adalah pemain pertama yang mencetak empat gol bagi tim nasional dalam satu pertandingan sejak Ibrahimovic melakukannya dalam pertandingan melawan Inggris pada 2012.

Ancaman muncul dari Korea Selatan. Pelatih Tae-Yong Shin adalah penganut formasi 4-2-3-1 yang membebaskan para pemain untuk berkreasi. Dia meyakini pemain tidak akan bisa berkembang jika terus-menerus didikte pelatih. Mereka tidak bisa ditekan terus-menerus, karena situasi yang intimidatif justru akan membuat para pemain gagal mengeluarkan kemampuan terbaik dalam situasi-situasi krusial. Saya ingin menanamkan kepercayaan diri kepada para pemain, katanya.

Kepercayaan diri memang jadi kunci. Dari aspek kualitas, pemain-pemain Korsel berpotensi menggebuk Meksiko dan Swedia sekaligus merepotkan Jerman. Shin beruntung, beberapa pemain muda ditempa di sejumlah liga domestik Eropa: Sung-Yong Ki (gelandang bertahan di Swansea, Inggris), Heung-Min Son (sayap kiri di Tottenham Hotspur, Inggris), dan Hee-Chan Hwang (penyerang tengah di  Red Bull Salzburg, Austria).

Heung-Min Son sedang bersinar bersama Tottenham Hotspur di Liga Primer Inggris musim 2017-2018. Perannya tak tergantikan sebagai bagian dari trisula Spurs bersama Harry Kane dan Dele Alli. Kaki kiri dan kanannya sama-sama bagus. Usia Son baru 25 tahun. Dia berpotensi menginspirasi pasukan merah Korea sebagaimana dilakukan Ahn Jung-Hwan pada 2002 silam. Son sudah mencetak 20 gol dalam 61 pertandingan tim nasional.

Shin berjanji tampil ofensif. "Saya suka memainkan sepak bola menyerang," katanya. Namun Son mengingatkan, gol akan muspro tanpa clean sheet, maupun pertahanan yang tangguh. Itulah yang kini bikin pusing: stabilitas sisi pertahanan.

Saat putaran kedua kualifikasi Zona Asia Grup G, Korsel memimpin klasemen dengan 27 gol dan sama sekali tidak pernah kemasukan. Mereka menyapu bersih delapan pertandingan melawan Lebanon, Kuwait, Myanmar, Laos.

Namun pada putaran ketiga, sebagai runner-up Grup A, catatan defensif Korsel lebih buruk daripada Suriah dan Uzbekistan yang berada di posisi klasemen lebih rendah. Mereka kebobolan 10 gol dalam 10 pertandingan dan mencetak sebelas gol. Tae-Yong Shin tentu harus memikirkan betul bagaimana agar tembok pertahanannya tak mudah dijebol.

Stabilitas dan konsistensi juga jadi pekerjaan rumah Juan Carlos Osorio bersama Meksiko. "Sebagai sebuah tim, kami memerlukan konsistensi semua pemain untuk bermain di level puncak," katanya.

Osorio adalah sosok pemikir dan perfeksionis. Selama bekerja di Manchester City mendampingi manajer Kevin Keegan pada 2001-2005, ia mempelajari taktik sepak bola dari buku dan video. Dia membuat bagan persentase statistik permainan, jauh sebelum orang mengenal dan menggunakannya. Dia memiliki ambisi untuk belajar banyak dari klub lain.
 
Osorio pernah mengintip latihan tim utama Liverpool di Melwood, saat kuliah di kota itu. Dia menjadi asisten Keegan, seorang pemain depan legendaris Liverpool dan Inggris. Ini membuatnya memahami benar bahwa sepak bola adalah menyerang dan bertahan dengan benar. Tak heran jika dia condong menggunakan formasi 4-3-3 yang ofensif.

Rotasi adalah filosofi Osorio. Dia meyakini pemain akan merasa menjadi bagian dari tim jika dimainkan dan tak hanya menjadi penghangat bangku cadangan. Toh tim nasional hanya memanggil pemain yang memang berkualitas dan siap diturunkan. Filosofi ini dipelajarinya dari Manajer Manchester United Alex Ferguson. "Yang terpenting bagi setiap pemain adalah mendapatkan kesempatan bermain. Uang urusan nomor dua bagi mereka," kata Ferguson.

Kebijakan rotasi ini bukannya tanpa kritik. Kebijakan rotasi hanya cocok digunakan untuk level klub yang menghadapi pertandingan padat, ketat, dan frekuensi tinggi. Sementara tim nasional hanya bermain sesekali waktu, saat menghadapi turnamen besar dan resmi. Rotasi yang berlebihan justru akan mengganggu fondasi tim.

Namun Javier Chicharito, penyerang tengah Meksiko yang bermain untuk West Ham United, menilai kebijakan rotasi justru memberikan kesempatan kepada para pemain untuk bersinar. Ini juga membuat mereka terfokus pada persaingan merebut posisi starting lineup. Tak ada anak emas. Semua dinilai berdasarkan capaian mereka di lapangan. Apalagi Osorio memiliki pola pendekatan yang baik dengan pemain.

Osorio mampu memotivasi mereka agar mengeluarkan kemampuan terbaik. Tim nasional Meksiko saat ini diisi sejumlah pemain yang dianugerahi bakat untuk bisa memukau dunia. Mereka punya Miguel Layn yang saat ini bermain untuk klub Spanyol Sevilla sudah mencetak empat gol untuk tim nasional.
Gelandang bertahan klub Spanyol Real Betis, Andres Guardado, selama ini telah memainkan 144 pertandingan dan mencetak 25 gol.

Pemain klub PSV Eindhoven yang berusia 22 tahun, Hirving Lozano, mendapat tugas mengacak-acak pertahanan lawan dari sektor sayap kiri dengan kecepatannya. Sementara itu sayap kanan, Jess Corona adalah harapan untuk membongkar zona defensif lawan tanpa ampun. Sementara di depan, Osorio memiliki Chicharito (penyerang tengah yang sudah mencetak 49 gol timnas), Raul Jimenez (pencetak 13 gol dalam 61 pertandingan), dan ujung tombak tua Oribe Peralta yang sudah mencetak 26 gol. [wir]

Tag : piala dunia

Berita Terkait

Kanal Sorotan