Sorotan dan Prediksi Grup D Piala Dunia 2018

Semangat Prohibido di Antara Dokter Gigi, Patriot Kroasia, dan Elang Afrika

Jum'at, 08 Juni 2018 00:00:01
Reporter : Oryza A. Wirawan
Semangat Prohibido di Antara Dokter Gigi, Patriot Kroasia, dan Elang Afrika

Piala Dunia adalah mimpi indah Lionel Messi yang tak terwujud. Tahun 2014, gelar itu di depan mata. Argentina berhadapan dengan Jerman di final. Namun gol tunggal Mario Goetze memupuskan mimpi Messi. Sebuah luka yang Messi sendiri mengaku tak tahu apakah bisa disembuhkan.

Pemain Argentina yang pernah bermain untuk Real Madrid dan Manchester United, Angel Di Maria, menyebut Messi pemain terbaik yang pernah dilihatnya. "Menjuarai Piala Dunia akan memvalidasi status terbaik," katanya.

Pelatih Argentina Jorge Sampaoli tentu tahu betul bagaimana vitalnya peran kapten timnas tersebut. Dalam sebuah kesempatan, ia pernah menyatakan bahwa dunia sepak bola berutang sebuah trofi Piala Dunia kepada Messi. Rusia 2018 adalah saat untuk membayarnya, karena empat tahun lagi tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi kepada pemain kesayangan publik Katalan ini. Usianya mungkin sudah terlalu tua.

Tak ada alasan gagal bagi Argentina jika dilihat dari komposisi pemain. Jika pelatih lain kebingungan dengan kesemenjanaan stok pemain tim nasional, Sampaoli justru dipusingkan dengan berlimpahnya pemain yang bisa dipilih menjadi tim inti untuk menjalankan formasi 4-2-3-1. Di bawah mistar gawang, ada Sergio Romero. Di depannya ada dua bek tengah, Nicolas Otamendi dan Marcus Rojo. 

Lucas Biglia, pemain AC Milan, bisa mengisi posisi gelandang bertahan bersama gelandang tengah Sevilla, Ever Banega. Barisan tengah menentukan gaya permainan tim, dan Sampaoli membutuhkan pemain-pemain kreatif yang bisa menghancurkan pertahanan lawan dengan operan-operan tak terduga. Di Maria tentu saja bisa memenuhi keinginannya.  

Jika Higuain dan Aguero absen, Sampaoli masih punya ujung tombak Juventus, Paulo Dybala. Semuanya raja teror. Namun melihat perkembangan terakhir, Dybala bisa menjadi pilihan terdepan. Muda dan berbahaya.

Rusia adalah pembuktian bagi Sampaoli. Bersama Chile, ia memenangkan Copa America 2015. Semangat pemberontakan. Itulah inti spirit dan filosofi yang dibawa Sampaoli yang menjadi bagian penting dalam tim yang dilatihnya. Ada banyak pilihan dalam sepak bola. Namun seorang pemenang tak pernah menjadi pengekor. Dia belajar dari filosofi pelatih edan legendaris Marcelo Bielsa: mempertahankan bola sebisa mungkin, sehingga muncul kepercayaan diri untuk mendikte lawan.

Semangat pemberontakan itu yang dibawanya bersama Argentina. Sebagaimana kalimat yang ditatokan di lengan kirinya: lirik lagu Prohibido yang dinyanyikan kelompok musik Argentina Callejeros. "I don’t listen and follow, because a lot of what’s forbidden fills me with life."

Juara Grup D adalah posisi yang layak bagi Argentina. Perebutan posisi runner-up bakal berlangsung sengit. Islandia, Kroasia, Nigeria punya kekuatan relatif berimbang. Islandia punya mentalitas pemberani. Olafur Skulason, gelandang tim, menegaskan keinginan berjumpa dengan tim besar seperti Argentina. Mereka ingin menguji kemampuan hingga limit terakhir, dan itu artinya harus berhadapan dengan tim terbaik. Dua tahun sebelumnya mereka sudah menunjukkan bahwa tak ada yang tak mungkin, bahkan untuk negeri sekecil Islandia. Debut Piala Eropa di Prancis diwarnai aksi gemilang menganvaskan Inggris 2-1 di babak 16 Besar, sebelum akhirnya dikalahkan tuan rumah 2-5 di perempat final.

Seorang dokter gigi yang ditunjuk menjadi pelatih sejak 2013, Heimir Hallgrimson, harus bekerja keras mematenkan formasi klasik 4-4-2 agar maksimal. Sesekali ia memilih formasi 4-4-2 berlian. Namun tentu saja ketangguhan lawan membuat Hallgrimson harus luwes. Saat melawan tim yang lebih kuat, ia bisa mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 dengan menumpuk lima gelandang untuk memangkas aliran serangan lawan, sekaligus mengambil inisiatif menekan.

Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, Hallgrimson kini tak lagi didampingi partnernya Lars Lagerback, seorang mantan pemain yang sangat populer di negerinya. Tugasnya tak mudah. Salah satu tantangan adalah dalam hal kematangan tim. Namun Islandia punya keunggulan untuk menerapkan filosofi pressing football yang membutuhkan kecepatan dan stamina kuat. 

Gylfi Sigurdsson, gelandang serang yang saat ini bermain untuk klub Liga Inggris Everton, bakal menjadi jantung permainan Islandia sekaligus memberi kepercayaan diri kepada para pemain muda. Alfred Finnbogason, penyerang tengah Augsburg, menjadi pilihan tepat di lini depan. Selama ini dari 45 pertandingan timnas, dia sudah mencetak 11 gol. 

Di sayap kanan, Islandia punya Johann Berg Gudmundsson. Dia seorang inverted winger, karena kendati beroperasi di sisi kanan, kekuatan kakinya justru ada di sisi kiri. Bermain untuk tim nasional sejak 2008, dia sudah mencetak enam gol dalam 63 pertandingan. Aron Gunarsson akan berada di tengah mengatur tempo. Sementara duet bek tengah Ragnar Sigurdsson dan Sverrir Ingi Ingason menjadi opsi di area pertahanan bersama kiper Runar Alex Runarsson.

Sang protagonis, Sigurdsson, menyebut Islandia sudah jauh lebih berkembang dibandingkan lima tahun terakhir. "Kami ke Rusia dengan mentalitas yang sama dengan saat kami ke Prancis dua tahun lalu," katanya.

Tentu saja, Islandia tak akan menang dengan mudah, terutama saat berhadapan dengan Kroasia. "Saya percaya kebanggaan dan patriotisme yang ditunjukkan para pemain saat bertanding atas nama Kroasia sangat penting," kata Zlatko Dalic, sang pelatih.

Kroasia diisi sederet pemain berkualitas untuk memainkan formasi 4-2-3-1 yang disukainya. Di barisan depan, ada duet penyerang tengah yang saat ini tengah berkilau di Serie A Italia: Mario Mandzukic (Juventus) dan Nikola Kalinic (AC Milan). Sementara itu dari sektor sayap, ada pemain Inter Milan Ivan Perisic. Barisan tengah diisi dua gelandang kreatif, yakni Luka Modric yang kini bermain untuk Real Madrid dan Ivan Rakitic yang memperkuat Barcelona. Jika Modrid cedera, ada Mateo Kovacic, sesama pemain Real Madrid, yang bisa jadi opsi.

Milan Badelj akan berperan sebagai gelandang bertahan. Dia memangkas alur serangan lawan, sebelum masuk ke area pertahanan yang dikawal bek tengah asal Liverpool Dejan Lovren dan penjaga gawang Danijel Subasic.

Dalic sangat mencintai sepak bola menyerang yang sempurna. Dia tak takut meletakkan Modric lebih ofensif dan dua full-backs naik menggergaji sayap pertahanan lawan dengan kecepatan tinggi agar tetap bisa menekan. Intinya: hajar lewat dua sayap sampai lawan kelenger. Yunani sudah merasakan derita terkena taktik ofensif ini saat babak play-off dan kalah dengan agregat gol 1-4.

Modric adalah mata rantai taktik itu. Dia adalah pemain terbaik dan menjadi mesin serangan Kroasia. Modric menjadi teladan di dalam dan luar lapangan, dan itu yang memang dibutuhkan Dalic. Dalic memerlukan tim yang kuat dan saling memiliki keterkaitan batin satu dengan lainnya. Ia banyak berkomunikasi dengan pemain dan mendorong mereka menembus limit kemampuan semaksimal mungkin.

Sementara itu, Pelatih berkebangsaan Jerman, Gernot Rohr, membutuhkan lebih dari sekadar keajaiban untuk memainkan formasi 4-2-3-1 dan merebut angka demi angka di fase grup untuk meloloskan Nigeria. Barisan depan Nigeria cukup mengesankan. Selain Iheanacho di posisi penyerang tengah, mereka punya Ahmed Musa yang bermain untuk CSKA Moskwa. Di sayap kiri, ada pemain Arsenal berusia 21 tahun Alex Iwobi.

Victor Moses yang beroperasi di gelandang kanan, sebagaimana di Chelsea FC, akan banyak bergerak maju untuk menyuplai bola matang dan bahkan mencetak gol sendiri. Keseimbangan antara bertahan dan menyerang akan dijaga oleh gelandang bertahan klub mantan juara Liga Inggris Leicester City, Wilfred Ndidi.

Di barisan pertahanan, Nigeria tidak memiliki pemain dengan nama besar. Namun Chidozie Awaziem dan Leon Balogun bisa diturunkan sebagai bek tengah yang beroperasi di depan kiper Daniel Akpeyi atau Ikechukwu Ezenwa. Nigeria juga punya kiper berbakat berusia 19 tahun yang kini memperkuat klub Spanyol Deportivo la Coruna, Francis Uzoho.

Kendati menyukai 4-2-3-1, Rohr menunjukkan fleksibilitas saat berujicoba menghadapi Argentina di Krasnodar sebelum Piala Dunia berlangsung. Ia memainkan formasi 3-5-2, dan berhasil memotivasi anak-anak asuhnya membalik situasi ketertinggalan 0-2. Mentalitas pejuang khas tim Jerman ini berhasil ditanamkan oleh Rohr. Dengan kata lain, Nigeria tak bakal takut dengan tim mana pun.[wir]

Tag : piala dunia

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan