Setelah Surabaya Diteror

Rabu, 16 Mei 2018 16:26:17
Reporter : Oryza A. Wirawan
Setelah Surabaya Diteror
Oryza A Wirawan, wartawan beritajatim.com

Minggu pagi berdarah di Surabaya: 13 Mei 2018. Tiga gereja dibombardir oleh pelaku teror bunuh diri. Belasan orang meninggal dunia, puluhan lainnya terluka. Aksi teror ini disusul dengan aksi bom bunuh diri di markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. Jumlah korban bertambah.

Dan selama 48 jam kemudian, kita seperti menyaksikan adegan dalam film: sekian lokasi tempat terduga teroris bersembunyi digerebek polisi. Baku tembak terjadi. Ledakan terdengar.

Seingat saya, setelah Denpasar, Bali, belasan tahun silam, tidak ada kota selain Surabaya yang diserang secara masif di sejumlah titik oleh kelompok teroris. Mereka seperti sudah mempersiapkan diri untuk melakukan serangan bertubi-tubi di jantung kota terbesar kedua di Indonesia.

Motif spesifiknya tentu masih harus diselidiki aparat kepolisian. Namun kita semua tahu bahwa secara umum teror bertujuan memunculkan rasa takut.

Peradaban dari abad ke abad memang menunjukkan, sejarah penaklukkan, penghancuran, dan hasrat berkuasa selalu diawali dengan ikhtiar memunculkan rasa takut.

Kekerasan (represi) adalah alat untuk memunculkan rasa gentar. Tak ada manusia super di dunia ini yang tak memiliki rasa takut dan kecemasan.

Namun selama berabad-abad pula, mereka yang memanipulasi rasa takut senantiasa lupa dan tidak pernah belajar, bahwa manusia punya sisi terang bernama harapan. Teror dan kekerasan mungkin bisa memunculkan ketakutan, tapi tak pernah bisa menghancurkan harapan.

Oleh sebab itu, peradaban yang runtuh selalu dapat dibangun kembali, ketika penghancuran diakhiri dan ketakutan dienyahkan melalui sebuah perlawanan yang dipicu oleh harapan.

Dan itu yang kita lihat di Surabaya. Kota ini memiliki rekam jejak sejarah bagaimana menaklukkan rasa takut dan mengubah harapan menjadi sebuah perlawanan. Sebuah perang kota yang panjang pada November 1945 berakhir dengan kekalahan, tapi tidak pernah sepenuhnya menghancurkan rakyat Surabaya. Keberanian melawan adalah sebuah kemenangan orang-orang yang menjadi sasaran penaklukan.

Ketika ratusan orang antre di kantor Palang Merah Indonesia Kota Surabaya untuk mendonasikan darah beberapa jam setelah ledakan, kita tahu bahwa keberanian itu ada. Saat para Bonek, pendukung klub Persebaya, bergotong-royong membuat dan memasang spanduk berisi perlawanan terhadap terorisme di kampung-kampung, kita sadar bahwa keberanian itu di sana.

Kala seorang wali kota perempuan turun sendiri ke lapangan dalam situasi genting dan tidak mengatakan 'urusan keamanan itu urusan kepolisian', kita paham bagaimana keberanian dan harapan belum mati di kota ini. Saat seorang opsir polisi berjibaku menyelamatkan anak seorang pelaku teror yang masih hidup, kita tahu, heroisme dan kebajikan masih menjadi bagian dari kota ini.

Teror bom di satu sisi mencabut nyawa dan menghadirkan kesedihan bagi banyak orang. Kita tidak mengerti bagaimana ada sekelompok orang yang rela menebar maut sembari menghilangkan nyawanya sendiri dan nyawa keluarga mereka.

Di sisi lain, teror ini telah memunculkan segregasi tajam di media sosial dengan bermunculannya spekulasi dan tuduhan tanpa ampun: menciptakan histeria dan mendefinisikan 'liyan' sebagai musuh satu sama lain.

Tuduhan tentang motif politik, konspirasi kekuasaan, dan hal-hal sumir lainnya di media sosial tak membantu apapun dalam situasi seperti ini, selain mempertebal kecurigaan satu sama lain. Narasi syak-wasangka memunculkan persoalan-persoalan baru dilandasi ketidakpercayaan: tidak percaya terhadap aparat keamanan, tidak percaya terhadap pemerintah, tidak percaya terhadap sesama warga hanya karena bercadar dan berjenggot, tidak percaya terhadap institusi pendidikan, atau bahkan tidak percaya terhadap agama itu sendiri.

Ketidakpercayaan terhadap agama akan menjadi tragedi dan ironi, mengingat kota ini dipertahankan mati-matian di tengah hujan mortir, siraman peluru, dan dentum meriam oleh para martir yang digerakkan dengan Resolusi Jihad Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Kita tidak bisa membiarkan sekelompok orang sinting merebut pemaknaan jihad yang menjadi bagian penting dari kemerdekaan Indonesia, dan mereduksinya dengan aksi bom bunuh diri yang menghalalkan nyawa sekian orang tak berdosa.

Teror tidak akan mampu membunuh harapan hanya dengan menciptakan ketakutan. Tapi harapan akan terbunuh, ketika rasa saling percaya dihancurkan, ketika kita meragukan kebaikan orang lain. Karena negara dan bangsa ini dibangun di atas imajinasi bersama, bahwa kita bersaudara, terlahir untuk menyepakati Indonesia (dengan segala kelebihan dan kekurangannya) sebagai Tanah Air untuk semua.

Kepercayaan terbangun, saat kita memahami manusia yang lain secara utuh, tidak satu dimensi, tidak satu warna. Manusia dibentuk banyak faktor, latar belakang sosial, keimanan yang pasang-surut, dan banyak variabel kesejarahan dalam hidupnya.

Para teroris gagal memahami manusia yang lain sebagai kompleksitas, dan mereka hanya punya bahasa kekerasan dan penciptaan rasa takut untuk menghancurkan manusia yang berbeda berdasarkan tafsir mereka. Dan kita tentu saja tak ingin mengikuti jejak orang-orang ini.

Aksi teror telah memunculkan solidaritas dan soliditas kohesi sosial di Surabaya. Warga keluar dari bayang-bayang rasa takut, meningkatkan kewaspadaan, dan lebih mencermati lingkungan sekitarnya.

Tugas kita bersama untuk menjaganya tetap berada pada rel kewajaran dan tidak menjadikannya manifestasi kecurigaan berlebihan maupun permusuhan terhadap orang lain yang dianggap berbeda. [wir/air]

Tag : bom surabaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan