Mbak Puti dan Mas Emil, Jawa Timur Bukan Hanya Santri dan Abangan

Rabu, 04 April 2018 01:31:48
Reporter : Ribut Wijoto
Mbak Puti dan Mas Emil, Jawa Timur Bukan Hanya Santri dan Abangan

Prolog

 Mbak Puti dan Mas Emil, Anda berdua dipahami banyak orang sebagai representasi kaum Abangan dalam ajang Pemilihan Gubernur Jawa Timur tahun 2018. Melengkapi dua tokoh yang merepresentasikan kaum Santri, yakni Gus Ipul dan Khofifah. Pemahaman orang-orang itu tidak salah, sebab ada dasarnya.

Clifford Geertz pada buku The Religion of Java memang membagi dua kaum besar dalam masyarakat Jawa (termasuk Jawa Timur), yakni Santri dan Abangan. Dalam ajang Pilgub, kombinasi keduanya seakan wajib terwakili. Sama seperti pemenang Pilgub Jatim dua periode sebelumnya, Soekarwo (Abangan) – Gus Ipul (Santri).

Maka, ketika KPU Jatim menetapkan dua pasangan Pilgub Jatim yang terdiri dari Saifullah Yusuf (Gus Ipul) - Puti Guntur Soekarno Putri dengan Khofifah Indar Parawansa - Emil Elistanto Dardak, banyak orang mengacungi jempol. Kedua pasangan dinilai sama-sama sempurna, yaitu kombinasi antara Santri – Abangan.

Tetapi Mbak Puti dan Mas Emil perlu juga melihat kebudayaan Jawa Timur lebih mendalam. Masyarakat Jawa Timur terdiri dari berbagai sub kebudayaan. Bahwa, Jawa Timur tidak hanya Santri dan Abangan seperti yang ditulis oleh Clifford Geertz.

Pemahaman sub kebudayaan di Jawa Timur ini, saya pikir, penting diketengahkan. Sebab Mbak Puti lahir dan besar di Jakarta lalu menjadi anggota DPR RI mewakili Dapil di Jawa Barat. Sedangkan Mas Emil, meski telah dua tahun di Trenggalek, lahir dan besar di Jakarta. Bisa dibilang, di Jawa Timur, Anda berdua adalah pendatang.

Mbak Puti dan Mas Emil, mendiang Ayu Sutarto, budayawan asal Universitas Negeri Jember dalam penelitiannya membagi Jawa Timur dalam 10 wilayah sub kebudayaan (Studi Pemetaan Kebudayaan Jawa Timur, 2006). Terdiri dari Jawa Mataraman, Jawa Panaragan, Samin (Sedulur Sikep), Tengger, Osing, Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Arek. Berikut pemaparannya:

Jawa Mataraman

Budaya Mataraman secara verbal mengejawantah di masyarakat Pacitan, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri (sebagian), dan Blitar. Rata-rata masyarakat ini menganut agama Islam yang dipadukan dengan tradisi Jawa.

Namun dalam kadar yang paling longgar, budaya Jawa Mataraman menyebar luas di seluruh wilayah Jawa Timur. Bisa dikata, mendominasi cara pandang dan tata nilai masyarakat. Budaya Jawa Mataraman ini menyusup sampai wilayah tapal kuda, Surabaya, Pesisiran, begitu pula Madura. Sebab budaya ini bersumber dari Kerajaan Mataram-Islam.

Bentuk seni masyarakat berbudaya Mataraman tidak jauh berbeda dengan hasil kesenian yang ada dari budaya aslinya, yakni di Yogyakarta dan Surakarta. Semisal ketoprak, wayang, tari-tarian bedaya, maupun sastra (babad dan serat) yang mengagungkan tradisi Jawa-Islam.

Tapi ada beberapa berbedaan mendasar dari bentuk seni budaya Mataraman di Jawa Timur dengan di Yogyakarta-Surakarta. Perbedaan terjadi karena posisi Yogyakarta-Surakarta sebagai pusat kerajaan dan Jawa Timur sebagai  pinggiran. Tidak hanya soal pusat-pinggiran, keterbedaan muncul karena seni merupakan daya cipta masyarakat yang bersandar juga pada kondisi geografis. Artinya, kondisi geografis yang berbeda membutuhkan adaptasi yang berbeda pula. Maka, bentuk seni yang diciptakan kerap kali tidak sama. Misalnya wayang Yogyakarta-Surakarta dikenal memakai bahasa yang lebih halus dibanding wayang Jawa Timuran. Detail ritual larung sesaji di Tulungagung (pantai Popoh) juga berbeda dengan yang dijalani oleh keraton Yogyakarta.

Tidak hanya berbeda, ada pula bentuk-bentuk seni yang muncul dari wilayah Mataraman Jawa Timur yang tidak ada di Yogyakarta. Semisal jaranan kendang yang berkembang di Tulungagung. Bentuk kesenian ini tidak ada di Yogyakarta. Begitu pula dangan tradisi cerita Panji. Justru mitos Panji bersumber dari Jawa Timur. Ini terjadi karena mitos Panji berasal dari Kerajaan Daha dan Majapahit. Dua kerajaan besar yang lebih tua dibanding Kerajaan Mataram.

Jawa Panaragan

Pola perilaku masyarakat Ponorogo memang sama dengan masyarakat yang berbudaya Jawa Mataraman. Namun begitu, masyarakat Ponorogo memiliki keistimewaan dan ciri khas tertentu yang tidak dimiliki masyarakat lain. Keterbedaan inilah yang dijadikan alasan pengukuhan masyarakat Ponorogo sebagai penganut budaya tersendiri, yakni budaya Jawa Panaragan.

Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo. Reog sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis. Satu group Reog biasanya terdiri dari seorang warok tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya.

Menurut legenda, Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna.

Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya. Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu.

Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya.

Samin (Sadulur Sikep)

Keberadaan budaya Samin menyebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meliputi wilayah Kabupaten Blora, Kudus, Pati, Rembang, Bojonegoro, dan Ngawi. Nama Samin berasal dari pelopornya, yakni Samin Surosentiko. Dia kelahiran 1859 di Desa Ploso, Kediren, Kabupaten Blora. Samin sejak kecil dijejali oleh pandangan figuratif pewayangan yang mengagungkan tapa brata, gemar prihatin, suka mengalah, dan mencintai keadilan.

Pada usia ke-31 tahun, Samin Suronsentiko mulai menyebarkan ajarannya. Dia mengaku mendapat wahyu Kalimasada. Berdasarkan wahyu ini, Samin mengajak masyarakat untuk menjalani tapa brata. Sesama orang yang menganut ajaran Samin dianggap sebagai sedulur (saudara). Ajaran ini secara cepat menyebar sampai ke berbagai pelosok. Sampai tahun 1907, pengikut Samin telah berjumlah 3.000 orang.

Meski menyebar ke berbagai kabupaten, pengikut Samin tidak merasa terikat dengan aturan-aturan setempat. Mereka menjalani aturan-aturan hidup tersendiri. Semisal cara pernikahannya dengan tidak memakai mahar, penolakan terhadap perdagangan (dagang dianggap bagian dari penipuan), penolakan terhadap setiap bentuk sumbangan.

Meski begitu, ajaran Samin tidak hanya berkutat dalam wilayah sosial-religius. Samin juga melakukan aksi politik. Berupa beberapa penolakan terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Penolakan ini diwujudkan dengan cara membandel tidak mau menyetor padi, menentang pamong desa, dan terutama membandel atau menolak untuk membayar pajak.

Kini, pola hidup masyarakat Samin telah banyak berubah. Mereka kian beradaptasi dengan kehidupan masyarakat sekitar. Hanya saja, beberapa ajaran Samin Surosentiko tetap dipertahankan. Semisal ajaran untuk berbudi luhur dan ketulusan dalam menyenangkan orang lain.

Perihal daya cipta kesenian, para penganut Samin cenderung pasif. Daripada berkesenian, mereka lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mengurusi sawah dan ladang. Dan memang, soal bertani, orang Samin tergolong pekerja yang rajin dan ulet.

Tengger

Masyarakat Tengger tinggal di sekitar Gunung Bromo. Menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lumajang. Mereka dikenal taat dengan aturan dan ajaran agama Hindu. Bahkan, mereka meyakini sebagai keturunan langsung Majapahit. Nama Tengger berdasar dari legenda Rara Anteng dan Joko Seger.

Setahun sekali, masyarakat Tengger menggelar upacara Yadnya Kasada. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Selain Kasada, masyarakat Tengger memiliki upacara lain berupa Karo, Unan-unan, Entas-Entas, dan beragam tradisi yang sampai kini masih dijalani.

Salah satu ajaran yang masih mewarnai perilaku budaya dan kehidupan sehari-hari adalah tradisi patuh terhadap empat macam guru atau bekti marang guru papat. Pertama, Guru Sing Kuwasa alias Tuhan Yang Maha Kuasa. Kedua, Guru Wong Tuwa alias orang tua kandung. Ketiga, Guru Pemerintah atau penguasa yang memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat. Keempat, Guru Pasinaon atau orang yang memberi ilmu pengetahuan.

Osing

Masyarakat Osing bertempat di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Utamanya di Kecamatan Rogojampi dan Kecamatan Glagah. Selain masyarakat Osing, Kabupaten Banyuwangi juga dihuni oleh masyarakat beretnis Jawa, Madura, Bali, Mandar, Arab, dan Cina. Meski begitu, masyarakat Osing diyakini sebagai penduduk asli Banyuwangi. Sebagai keturunan langsung tokoh-tokoh Kerajaan Blambangan.

Berbeda dengan masyarakat Jawa yang dikenal halus dan sopan, masyarakat Osing dikenal bersifat aclak, ladak, bingkak. Aclak berarti sok tahu, sok ingin memudahkan orang lain dan tidak takut merepoti diri sendiri. Ladak berarti sombong. Bingkak memiliki acuh tak acuh, tidak mau tahu urusan orang lain. Di antara ketiga sikap itu, aclak merupakan sifat yang paling dominan.

Lepas dari sifatnya yang kurang baik, masyarakat Osing termasuk masyarakat sangat kreatif. Kreativitas ini tercermin dari perkembangan seni Hadrah Kuntulan. Seni ini berasal dari perpaduan seni budaya Islam, Jawa, dan Bali. Musik Kendang Kempul juga selalu berkembang dengan kreasi-kreasi baru. Walau berasal dari seni tradisional, Kendang Kempul tetap digandrungi kaum muda karena mampu beradaptasi dengan bentuk-bentuk seni modern.

Di samping dua jenis musik itu, masyarakat Osing memiliki beragam upacara tradisional. Misalnya upacara Seblang (tarian dan nyanyian untuk menghindari malapetaka), upacara Kebo-keboan (ritual bersih desa), upacara Gitikan (saling cambuk untuk mendatangkan hujan), upacara Bintean (saling tendang kaki untuk memohon keselamatan warga), upacara Perang Bangkat (ritual perkawinan anak bungsu), upacara Tublek Ponjen-Ngosek Ponjen (kegiatan meminta-minta uang kepada saudara untuk disalurkan ke fakir miskin), upacara Ruwat (kegiatan melepas sial), Upacara Gredhoan (tradisi santri untuk mencari pasangan), dan lain-lain.

Masyarakat Osing dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang fanatik. Meski begitu, mereka sangat mempercayai kekuatan gaib atau magis seperti danyang, roh halus, ataupun santet.   

Pendalungan

Wilayah kebudayaan Pandalungan menyebar di kawasan pantai utara dan bagian timur Pulau Jawa. Secara administratif meliputi Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang. Mayoritas penduduknya berlatar belakang budaya Madura dan Jawa. Wilayah Pandalungan dikenal sebagai basis Islam kultural dan kaum abangan. Pendukung Islam kultural dimotori oleh para kiai dan ulama. Kaum abangan dimotori oleh tokoh-tokoh politik dan tokoh-tokoh yang tergabung dalam aliran kepercayaan.

Budaya Pandalungan terbentuk oleh kompromi dua kultur (Jawa dan Madura) yang selama bertahun-tahun membangun suatu bentuk percampuran yang bercitra multikultur. Selain itu, ada pula kontribusi dari masyarakat yang berasal dari etnik Osing, Sunda, Cina, Mandar, dan lainnya. Memang, baik masyarakat yang berlatar Jawa maupun Madura, keduanya tampak tidak saling berusaha untuk mempertahankan identitas partikulalistik tradisionalnya. Keduanya justru membuka diri terhadap budaya yang dibawa oleh masyarakat lain.

Oleh sebab terbentuk dari beragam latar budaya, masyarakat Pandalungan sangat bersifat terbuka dan mudah beradaptasi. Mereka juga bersifat ekspresif, cenderung keras, temperamental, dan tidak suka berbasa basi. Meski begitu, dalam banyak hal, masyarakat sangat mempercayai ucapan ataupun keputusan yang diambil oleh tokoh yang dijadikan panutan, semisal kiai.

Masyarakat Pandalungan memiliki beberapa bentuk kesenian. Mayoritas berasal dari kreasi atau adopsi kesenian budaya masyarakat Jawa ataupun Madura. Misalnya musik Patrol (diilhami dari tradisi ronda malam), Jaran Kencak (tarian kuda yang diiringi musik), Hadrah (musik yang bernafaskan Islam), Kentrung (pergelaran pantun Madura dengan iringan rebana), Singo Ulung (tarian peperangan antara dua tokoh), Janger (sandiwara mirip ketoprak Jawa tetapi bernafaskan budaya Madura dan Bali), dan lainnya.

Madura Pulau

Sesungguhnya, separuh lebih penduduk Madura bermukim di luar pulau. Mayoritas menempati wilayah tapal kuda dan berbudaya Pandalungan. Data BPS Jawa Timur, tahun 2000, penduduk Madura pulau sebanyak 3.230.300 jiwa. Padahal jumlah suku Madura seluruh Indonesia sebanyak 6.771.727 jiwa dan jumlah etnik Madura se-Jawa Timur sebanyak 6.281.058 jiwa. Data itu belum termasuk orang Madura yang merantau ke luar negeri.

Suatu fakta sosiologis yang tidak terbantahkan, hampir seluruh penduduk Madura menganut agama Islam yang taat. Ketaatan inilah yang menjadi salah satu jatidiri warga. Kiai atau ulama memiliki wibawa tinggi di masyarakat. Ada sebuah ungkapan, sejahat-jahatnya orang Madura, dia masih gemar memakai sarung (salah satu indentitas Islam).

Orang Madura juga dikenal berwatak keras. Apalagi kalau sudah menyangkut harga diri. Mereka memiliki pepatah ango’an poteya tolang atembang poteya mata. Pepatah ini berarti “lebih baik mati berkalang tanah daripada harus hidup menanggung malu”. Soal pertaruhan harga diri inilah yang memang kerap memicu bentrok antarwarga sampai berujung pada kematian.

Di wilayah sastra, Madura merupakan sumber sastrawan yang tidak pernah habis. Madura tidak pernah kehabisan stok sastrawan muda. Padahal sastrawan seniornya juga tetap berkibar. Saat ini saja, ada nama-nama seperti Abdul Hadi WM, D Zawawi Imron, Jamal D Rahman, Edi AH Iyubenu, Faizi, M Fauzi, Lukman Hakim, dan lain-lain. Ada banyak komunitas sastra yang berkembang di Madura. Keberadaan pondok pesantren pun turut memberi kontribusi.

Di bidang teater, Madura mempunyai Sanggar Lentera yang kerap diundang ke Surabaya. Beberapa kalangan menilai, drama produksi Sanggar Lentera berhasil merepresentasikan bentuk eksperimental-absurd. Sedangkan di bidang kesenian tradisional, Karapan Sapi adalah bentuk seni yang tidak pernah luntur keistimewaannya.

Saat ini, banyak orang cemas, pembangunan jembatan Suramadu akan mengikis budaya Madura. Kecemasan ini tidak beralasan. Sebab orang Madura sudah teruji mampu mempertahankan tradisi walau berada di wilayah kultur lain. Terbukti, orang-orang Madura tetap terjaga kemaduraannya ketika berada di Surabaya, Pasuruan, Lumajang, maupun Jember.

Madura Bawean

Budaya Madura Bawean sangat dekat dengan budaya Madura Pulau meski secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gresik. Meski begitu, ada banyak perbedaan antara budaya Bawean dengan budaya Madura. Bahasa sehari-hari orang Bawean memakai bahasa Bawean sendiri. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Madura. Kalaulah ada orang Bawean yang berbahasa Madura, mereka memang pendatang yang berasal dari pulau Madura.

Walau begitu, terbentuknya budaya Bawean merupakan hasil percampuran budaya Madura dengan budaya Jawa. Hanya saja, budaya ini berbeda dengan Pandalungan. Budaya Bawean juga dipengaruhi oleh budaya Bugis dan Mandailing.

Ditilik dari sejarahnya, masyarakat Bawean bersal dari sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit. Sekitar tahun 1350, para pelaut ini terjebak badai Laut Jawa. Saat matahari terbit, mereka terdampar di pulau kosong. Itulah sebabnya, pulau itu lantas dinamakan “Bawean” (bahasa Sansekerta) yang artinya “sinar matahari”.

Agama Islam masuk ke Pulau Bawean pada awal abad 16. Penyebarnya seorang ulama bernama Maulana Umar Mas’ud. Sampai saat ini, makam ulama ini masih kerap jadi tujuan ziarah dari warga lokal maupun warga luar Bawean.

Madura Kangean

Budaya Madura Kangean menyebar di gugusan pula yang terletak di sebelah ujung timur Pulau Madura, Laut Jawa. Di situ ada sekitar 60 pulau. Wilayah Madura Kangean seluas 487 km2. Pulau terbesar adalah Pulau Kangean, seluas 188 km2. Selain itu ada pulau yang lebih kecil seperti Paliat dan Sapanjang.

Selain berbahasa Madura, orang kepulauan Kangean juga berbahasa Bajo, Mandar, Makassar, dan beberapa bahasa lain yang berasal dari Sulawesi. Penduduk Kangean memang banyak yang berasal dari pelaut-pelaut Sulawesi. Akhirnya terbentuk percampuran budaya antara Sulawesi dengan Madura. Percampuran ini menghasilkan bahasa yang dialeknya telah berbeda dengan asalnya.

Oleh sebab berlatar dari beragam etnik, orang kepulauan Kangean sangat menghormati perbedaan. Mereka sopan, ramah, dan taat beragama. Hanya saja, secara umum, kehidupan masyarakat Kangean masih terbelakang. Memang banyak remaja yang melanjutkan sekolah atau kuliah di Madura, Jawa, Bali, ataupun Sumatra, tapi setelah tamat, hanya sedikit yang mau pulang kembali ke kepulauan Kangean.

Arek

Budaya Arek meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, dan Malang, sebagian Kediri, dan sebagian Blitar. Mayoritas budaya Arek menempati sisi timur Kali Brantas. Masyarakat berbudaya Arek dikenal mempunyai semangat juang tinggi, terbuka terhadap perubahan, dan mudah beradaptasi.

Ditilik dari sejarahnya, budaya Arek mendapat kontribusi besar dari pola hidup dari Kerajaan Majapahit. Tradisi ini mengejawantah melalui tiga hal. Pertama, bahasa tunggal yang tidak memiliki tingkatan. Kedua, pola kekuasaan yang dipimpin atau diserahkan pada warga lokal. Ketiga, wilayah budaya Arek merupakan jangkar bagi Majapahit untuk menguasai wilayah lainnya di Jawa Timur dan sekitarnya.

Budaya Arek menempatkan Surabaya sebagai pusatnya. Ini juga memiliki pengaruh besar, sebab Surabaya merupakan kota kedua terbesar di Indonesia. Surabaya juga merupakan kota metropolitan yang menampung berbagai komoditas, mobilitas sosial, dan pasar barang dan jasa dari kota-kota penyangga semisal Gresik, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Malang. Di samping itu Surabaya berperan sebagai pusat arus informasi, teknologi, perdagangan, dan industri dari luar Jawa Timur. Kondisi ini memungkinkan, dalam jangka panjang, budaya Arek semakin meluas dan menggerus budaya-budaya lain di Jawa Timur. Apalagi, mayoritas remaja Jawa Timur melanjutkan kuliah di Surabaya dan Malang.

Kota Surabaya, sebagai pusat budaya Arek, relatif terbuka dan heterogen. Masyarakatnya bisa menerima berbagai model dan jenis kesenian apa pun yang masuk ke wilayah ini. Berbagai kesenian tradisional hingga modern cepat berkembang di wilayah ini.

Kesenian tradisional yang paling berkembang adalah Ludruk, Srimulat, Wayang Purwa Jawa Timuran, Wayang Potehi (berasal dari Cina), Tayub, Tari Jaranan, dan berbagai kesenian bercorak Islam seperti Dibaan, Terbangan, dan lainnya. Perkembangan lebih pesat terjadi pada seni modern. Mulai dari seni lukis, teater, tari, musik, maupun film.

Sayangnya, secara personal, banyak seniman atau sastrawan Jawa Timur yang tidak menjadikan Surabaya sebagai pusat budaya. Perihal kesenian misalnya, mereka cenderung belajar langsung atau berkomunitas di Yogyakarta maupun Jakarta. Lihat saja, rata-rata sastrawan yang berasal dari Lamongan dan Sumenep. Mereka lebih akrab dengan situasi kesenian Yogyakarta daripada dengan situasi kesenian di Surabaya. Kondisi ini diperparah dengan sedikitnya penerbit buku yang ada di Surabaya. Kalah jauh dibanding jumlah penerbit di Yogyakarta dan Jakarta.

Epilog

Mbak Puti dan Mas Emil, begitulah, Jawa Timur terbelah-belah dalam beragam budaya. Memiliki beragam cara berperilaku, keyakinan hidup, dan daya cipta kesenian yang berbeda-beda. Bisa dikata, Jawa Timur tidak memiliki dunia simbolik. Simbol yang bisa diterima atau melandasi aksi dan kreasi menyeluruh bagi masyarakatnya. Dunia simbolik (symbolik universe) yang menurut pengertian Peter Berger dan Thomas Luckman dalam buku The Social Contruction of Reality “badan-badan atau bagian tradisi secara teoretis yang membakukan berbagai makna provinsi dan meliputi tatanan institusional dalam suatu totalitas simbolik” tidak terpenuhi di Jawa Timur.

Perihal dunia simbolik ini, kondisi Jawa Timur amat berbeda dengan propinsi Jawa Barat (Sunda), Yogyakarta (Jawa), maupun Bali. Di Yogyakarta misalnya, dunia simbolik muncul dari kraton. Posisi Yogyakarta sebagai “daerah istimewa” di bawah kekuasaan HB X membuat mereka mempunyai kemudahan membangun persepsi yang sama. 

Tapi apakah ketiadaan dunia simbolik ini merupakan suatu cacat budaya? Jawabnya sangat personal. Tergantung cara Mbak Puti dan Mas Emil dalam menyikapi.

Yang jelas, jika Mbak Puti dan Mas Emil nanti menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur, alangkah baiknya bila kebijakan yang dikeluarkan dengan serta merta mempertimbangkan aspek budaya. Bahwa, satu kebijakan tidak bisa diterapkan secara global di masyarakat Jawa Timur. Sebab tradisi di Ponorogo berbeda dengan di Bangkalan, tradisi di Banyuwangi berbeda dengan di Jombang, berbeda pula dengan di Gresik. [but]

 

Tag : pilgub jatim

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan