Lelaki Bernama David N'gog (dan Persebaya)

Minggu, 14 Januari 2018 10:36:49
Reporter : Oryza A. Wirawan
Lelaki Bernama David N'gog (dan Persebaya)
sumber foto: dailymail.co.uk

Orang tak lupa hari itu: Anfield, 25 Oktober 2009. Menit 81. David N'gog berjalan memasuki lapangan menggantikan Fernando Torres. Tepuk tangan riuh mengiringi Torres yang membongkar kebuntuan pada menit 65. Papan skor: Liverpool 1, Manchester United 0.

Ini sepuluh menit terakhir yang kritis. Fergie Time. Sudah jadi kebiasaan Manchester United untuk mencetak gol pada menit-menit menjelang akhir, saat Alex Ferguson, lelaki Skotlandia yang bercita-cita meruntuhkan Liverpool dari sarangnya itu, melirik arloji di tangannya berkali-kali. 

Wasit keempat memberikan tambahan enam menit untuk mengganti waktu yang hilang karena sejumlah insiden antara dua kubu: 33 kali pelanggaran sudah cukup menjelaskan situasi saat itu. Bola lebih banyak di kaki para pemain Setan Merah: 56 persen. Namun di bawah komando Rafael Benitez, Reds lebih rajin mememberondong gawang Edwin van der Sar: 16 kali, lima kali di antaranya tepat sasaran.

Tak banyak yang berharap dari N'gog. Dia hanya anak muda Prancis yang baru berumur 20 tahun dalam sebuah pertandingan sepak bola derbi klasik teragung di Liga Primer Inggris. Dia bukan legenda supersub David Fairclough yang mencetak 18 gol dari posisi pemain pengganti sepanjang karirnya di Livepool.

Menit 89, bek tengah United Nemanja Vidic terkena kartu kuning kedua. Para pendukung Liverpool bersorak. Namun menit 95, giliran gelandang bertahan pujaan mereka Javier Mascherano dikirim ke luar lapangan oleh wasit Andre Marriner.

Masih ada satu menit lagi, saat hampir semua pemain United berada di garis pertahanan lawan, Lucas Leiva, seorang anak muda dari Brasil, mengirimkan bola kepada N'gog. Pemain berkulit hitam itu melesat sendirian. Dua pemain bertahan United yang kelelahan, John O'Shea dan Patrice Evra tertinggal jauh. Van der Sar bergerak maju. Sia-sia. Game over.

Gol tersebut menjadi salah satu dari 19 gol yang dijaringkan N'gog dalam 94 pertandingan selama empat musim bersama Liverpool. Benitez pergi. Roy Hodgson dan Kenny Dalglish berturut-turut datang menduduki posisi manajer. N'gog tak terlalu cocok dengan skema mereka dan dijual ke klub Liga Primer lainnya, Bolton Wanderers, dengan harga empat juta pound. Mencetak 16 gol dalam 91 pertandingan, dia menjadi bagian dari sejarah terdegradasinya Bolton pada musim 2011-2012.

Bermain semusim di Swansea City (2013-2014) sebagai pemain pengganti dalam tiga pertandingan, sinar N'gog meredup. Dia kembali tanah kelahirannya Prancis dan memperkuat klub Ligue 1 Stade de Reims, sebelum berakhir di klub Yunani Panionios pada 2016.

Awal 2018, rumor beredar cepat. Persebaya akan merekrut anak muda kelahiran Gennevilliers, 1 April 1989. Dalam masa industri, rumor kerap dianggap sama gentingnya dengan sepak bola itu sendiri. Ini bagian dari kampanye, promosi, bagian dari upaya mengipasi gairah dan minat terhadap sebuah klub agar tak mati. Apa jadinya jika sebuah klub sebesar Persebaya hanya dianggap bisa merekrut pemain lokal berharga murah? Tentu buruk bagi kehumasan.

Dhion Prasetya, penulis buku 'Persebaya and Them', menyebut N'gog layak dicoba. Dengan usia yang masih 28 tahun, N'gog memang punya potensi besar untuk lebih hebat daripada Peter Odemwingie yang bermain untuk Madura United. "Di Liverpool, dia kalah bersaing dengan Torres," kata Dhion, memaklumi.

Saya tidak tahu berapa banderol N'gog. Manajer Liverpool Rafael Benitez harus menebusnya 1,5 juta pound dari Paris St Germain (atau sekitar Rp 30 miliar dengan kurs saat ini). Saat itu usianya 19 tahun. Kini pasar tentu membuat harga N'gog tak semahal itu (untuk ukuran kantong klub Indonesia). Namun perlukah?

Kehadiran N'gog (jika memang benar-benar tengah dipertimbangkan manajemen Persebaya) setidaknya patut dinilai dari perspektif teknis dan bisnis. Dalam sepak bola, ada pemain yang bisa membawa perubahan positif pada tim, dan oleh karenanya layak dihargai mahal. Di Liga Indonesia, Peter Odemwingie masuk dalam kategori ini. Dia memberikan banyak pengaruh bagus di dalam dan luar lapangan, dibandingkan sesama alumnus Liga Primer Inggris yang bermain di Persib Bandung, Carlton Cole.

Berposisi sebagai pemain sayap, N'gog punya kecepatan. Namun Andik Vermansyah juga demikian. Begitu pula Irfan Jaya. Komparasi statistik (kendati tidak selalu pas karena memperbandingkan kompetisi di Indonesia dengan Inggris) tentu akan membantu pembacaan teknis tentang bakal seberapa krusialnya kehadiran N'gog di Persebaya.

Tapi bagaimana dengan aspek psikologis? Tak semua pemain asing bisa beradaptasi dengan kondisi sepak bola Indonesia yang penuh kejutan non teknis. Carlton Cole pernah dengan emosional memburu pemain lawan karena tak tahan dikasari terus-menerus tanpa perlindungan wasit. Odemwingie hanya bisa mengeluh saat jadi sasaran empuk tekel ngawur berkali-kali.

Sepanjang sejarah Liga Indonesia, 71 orang pemain asing sudah bermain untuk Persebaya. "Hanya sekitar 16,9 persen yang bagus," kata Dhion.

Kebutuhan dari aspek bisnis justru lebih jelas daripada teknis. David N'gog adalah marquee player, megabintang, dalam sepak bola Indonesia jika benar-benar didatangkan. Wikipedia mendefinisikan marquee player sebagai pemain yang sangat masyhur dan memiliki kemampuan teknis di atas rata-rata.Ini kosakata khas industri sepak bola modern yang menempatkan popularitas bersanding dengan urusan kemampuan menggocek bola. Seseorang dengan kemampuan mengoper dan mencetak gol luar biasa bukanlah marquee player selama publik tak mengenal dan memburu tanda tangannya.

Marquee player tidak dikenal dalam khazanah sepak bola sebelum Liga Primer Inggris bergulir. Klub sepak bola pada masa lalu tak selalu memerlukan seorang megabintang yang mahal untuk menjadi juara. Sebagian pemain Liverpool yang belakangan dinobatkan sebagai bintang, semula pemain-pemain biasa saja yang direkrut dari klub medioker. Para manajer di Liverpool yang menatahnya menjadi protagonis.

Bill Shankly membeli Kevin Keegan dari Scunthorpe dengan harga hanya 33 ribu pound pada 1971. Keegan bermain enam musim dan mencetak 100 gol dalam 323 pertandingan. Liverpool kemudian menjualnya kepada SV Hamburg dengan harga 500 ribu pound yang menjadikannya pemain termahal di Bundesliga Jerman.

Manajer pengganti Shankly, Bob Paisley, mendapatkan tanda tangan Ian Rush pada 1 Mei 1980 dengan cukup membayar 300 ribu pound kepada klub divisi bawah Chester. Dia membukukan 207 gol dalam 331 pertandingan untuk Liverpool. Delapan tahun kemudian, Juventus membelinya dengan harga 2,7 juta pound.

Namun zaman bergeser. Klub sepak bola kini dikelola layaknya korporasi raksasa. Trofi bukan lagi tujuan utama. Hal terpenting adalah menjaga neraca keuangan berimbang dan uang mengalir deras ke kocek klub. Pemain sepak bola kini mendapat tugas ekstra: menjadi bintang iklan, mewakil klub dalam acara-acara amal, menjadikan diri mereka lebih tenar sehingga para penggemar fanatik rela antre membeli replika seragam klub resmi. Ringkas kata: memperbesar laba dan populasi penggemar di dunia, karena klub tak sekadar butuh suporter di stadion, tapi juga penonton dan fans yang jauh di negeri seberang. Dalam konsep ekonomi, fans adalah pasar.  

Konsep marquee player dikenal di Indonesia setelah PSSI melebur kompetisi Perserikatan dengan Liga Sepak Bola Utama (Galatama) pada 1994. Bintang tim nasional Kamerun pada Piala Dunia 1990 Roger Milla dan bintang tim nasional Argentina 1978 Mario Kempes menjadi pusat perhatian saat bermain untuk Pelita Jaya, klub milik keluarga Bakrie yang selama bertahun-tahun kesulitan menjaring penonton fanatik.

Liga Primer Indonesia, yang tak diakui PSSI, mendatangkan sejumlah marquee. Salah satunya Lee Hendrie, pemain alumnus Liga Inggris yang nyaris bangkrut. Belakangan, Hendrie pulang ke negaranya dan bercerita kepada Majalah Four Four Two bahwa bermain di Liga Primer Indonesia adalah pengalaman pahit. Itu pertaruhan yang gagal dalam hidupnya, setelah menjual harta benda yang tersisa untuk modal ke Indonesia.

Persebaya selama ini hanya memiliki satu marquee player, Amaral da Silva dari Brasil, yang didatangkan Konsorsium Liga Primer Indonesia pada 2012-2013. Dia pernah bermain di Serie A Italia. Dahlan Iskan saat menjadi Ketua Umum Persebaya pernah mendatangkan kiper muda asal RRC Zheng Cheng yang ganteng dan tinggi. Mendadak tribun VIP Gelora 10 Nopember dipenuhi gadis-gadis muda Tionghoa yang menjerit memanggil namanya. Kini Cheng adalah kiper tim nasional China.

Kehadiran N'gog di Persebaya memungkinkan perluasan penggemar sebagaimana Zheng Cheng, terutama dari komunitas fans Liverpool Indonesia yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Dia juga menjadi magnet bagi stasiun televisi ofisial untuk memperbanyak frekuensi siaran langsung Persebaya dan memperbesar proporsi kue pembagian hak siar. Dalam kompetisi Liga Indonesia 2009, Persebaya adalah klub dengan siaran langsung terbanyak dan rating tertinggi setelah Persib Bandung.

Kehadiran N'gog tak ubahnya 'statement' resmi tentang betapa kuatnya PT Persebaya Indonesia secara finansial. Pasar akan merespons bagus 'statement' ini dan kepercayaan (trust) terhadap Persebaya meningkat. Dalam situasi sepak bola Indonesia yang tak pasti, siapa bisa menampik pasar? [wir]

 

sumber foto: dailymail.co.uk

Tag : sepakbola

Berita Terkait

Kanal Sorotan