Renungan Awal Tahun Peziarah Tepi Sungai Mersey

Senin, 01 Januari 2018 16:24:44
Reporter : Oryza A. Wirawan
Renungan Awal Tahun Peziarah Tepi Sungai Mersey
sumber foto: Bimblers.com

- untuk Hendri, Simon, dan Emerson 

Tanggal 1 Januari adalah repetisi yang menegangkan. Ada tanda tanya. Kita tak pernah tahu kesialan atau keberuntungan apa yang menanti di depan. Tapi repetisi ini seringkali menjemukan dengan prosesi yang sama: ada resolusi awal tahun, ada janji dan mungkin nazar yang kadang remeh. Kita mengucapkannya lirih, menuliskannya di akun media sosial seakan-akan ini deklarasi yang penting untuk diketahui semua orang.

Mendadak 1 Januari menjadi klise. Tapi itu mungkin satu-satunya cara untuk membangun dan mereparasi harapan yang sempat rontok dan terseok pada tahun sebelumnya: membuat daftar keinginan, juga pekerjaan, yang harus kita selesaikan tahun ini. Apa boleh buat: manusia mustahil menghasilkan mesin waktu yang bisa bikin kita seenaknya kembali ke masa silam dan memperbaiki yang koyak.

Di tepi Sungai Mersey, Kota Liverpool, Inggris, kita merasakan, repetisi pengharapan itu selama 27 tahun, layaknya masa putaran roda nasib bagi Liverpool Football Club. Saya sebenarnya tak terlalu suka menggunakan kata 'roda'. Namun statistik memberikan gambaran besar apa yang terjadi setiap 27 tahun sekali sejak Bill Shankly, orang udik dari Glenbuck, mendaratkan gelar Liga Inggris pada musim 1963-1964 hingga hari ini, saat syal dengan wajah Jurgen Klopp dan tulisan 'King of Kop' dibentangkan di tribun penonton Stadion Anfield.  

Selama periode 27 tahun pertama, sejak musim 1963-1964, para pendukung Liverpool mendapat garansi trofi dan medali liga domestik. Anfield, A Home of Glory. Kita tidak menoleransi kegagalan, walau seperti kata Shank, dari sana kita lebih banyak belajar. Orang hanya mengingat nomor satu. First is first, second is nothing, dan selama 27 tahun, salah satu tugas direktur klub adalah memperbaiki dan memperluas rak untuk piala-piala yang datang setiap Mei.

Tiga belas trofi liga. Empat Piala Eropa. Dua Piala UEFA. Satu Piala Super Eropa. Empat Piala FA. Empat Piala Liga. Tiga belas Charity Shield. Total 41 cawan perak selama 27 tahun. Game. Gold. Glory.

Orang mengingat nama-nama mereka yang duduk di dugout, melanjutkan dan mengembangkan filosofi Shankly, dan memberikan instruksi agar para pemain tetap berada di atas garis tebal Liverpool Way. Pass and move. Oper dan bergerak. Cari ruang. Minta bola. Membuat sirkulasi air bah di zona pertahanan lawan. Gol.

Bob Paisley. Joe Fagan. Kenny Dalglish. Dua gentlemen Inggris. Satu anak muda Skotlandia.

Namun selama 27 tahun pula, trofi yang berkilau membuat mata kita silau. Liverpool terlalu terbiasa dengan kemenangan dan melupakan kekalahan sebagai tempat belajar. Saya entah membaca di mana. Ada yang mengatakan tidak ada lagi getaran, saat Liverpool menerima gelar juara liga ke-18 pada Mei 1990. Tidak ada yang terasa istimewa. Ini seperti rutinitas. Setiap yang rutin memang cenderung membosankan, dan publik Inggris mulai enggan melihat satu klub terlalu lama mendominasi. Apalagi itu klub yang dianggap jadi biang kerok katastrofi di Heysel pada 1985 dan Hillsborough pada 1989.

Mereka yang berada di tepi Sungai Mersey melupakan peringatan Yusuf kepada Raja Mesir: tujuh tahun masa panen, tujuh tahun masa paceklik. Habis terang, datanglah gelap. Oleh karena itu, kalian harus bersiap. Kata-kata Shankly bahwa hanya 'tim utama dan tim cadangan Liverpool yang terbaik di daratan Inggris' mulai lapuk, saat seorang anak muda Skotlandia bernama Alex Ferguson mulai membangun dinasti di Manchester United, membangkitkan raksasa yang tertidur selama puluhan tahun, sebagaimana yang dilakukan Shankly dulu di Anfield.

"Cita-cita terbesar saya adalah menjatuhkan Liverpool dari sarangnya," kata Ferguson, dan masa paceklik di Anfield telah tiba.

Dalglish mendadak pergi di tengah jalan pada 22 Februari 1991. Tak ada yang tahu mengapa dia melakukannya waktu itu. Tapi ini menjadi penanda turunnya tirai panggung bagi Liverpool. Pertunjukan selesai, dan Si Merah memasuki periode 27 tahun kedua yang menyedihkan.

Liverpool menjadi salah satu klub yang memisahkan diri dari Football League dan memrakarsai kasta baru dalam piramida sepak bola Inggris: Liga Primer. Tidak ada yang berubah dalam aturan permainan sepak bola. Namun orang-orang menyebutnya era baru industri sepak bola, ketika tycoon media Rupert Murdoch membeli hak siaran langsung televisi semua pertandingan liga. Stadion-stadion diperbaiki. Tribun teras diruntuhkan dan diubah menjadi 'all seater'. The Kop diambrukkan dan direnovasi pada 1994.

Para industrialis berduit mulai datang. Mereka lapar gelar dan tak percaya proses panjang. Liverpool tak siap menghadapi perubahan yang dimulainya sendiri. Graeme Souness, Rob Evans, Gerrard Houllier, Rafael Benitez, Roy Hodgson, Brendan Rodgers. Enam manajer. Tak ada yang mampu membawa kembali titel Liga Inggris ke rak piala di Anfield pada periode kedua ini. Bahkan 'Sang Raja', Dalglish, hanya menempatkan The Reds di peringkat enam, dua musim berturut-turut, 2010-2011 dan 2011-2012 sebelum akhirnya pensiun. Bukan eksit yang cemerlang, kendati dengan menggenggam satu trofi Piala Liga yang direbut susah payah dengan mengalahkan Cardiff City di final melalui adu penalti.

Entahlah. Tapi saya merasakan ironi. Shankly, Paisley, Fagan, Dalglish membuat para fans Liverpool percaya diri bahwa trofi adalah garansi awal tahun, dan mungkin, setiap 1 Januari mereka lupa untuk melakukan refleksi maupun membangun harapan. Mereka tak merasa perlu berharap. Harapan adalah kemungkinan, dan selama 27 tahun trofi bukanlah kemungkinan, tapi keniscayaan. "Kesombongan adalah dosa favoritku," kata Sang Setan yang diperankan Al Pacino dalam film Devil's Advocate.

Dua puluh tujuh tahun berikutnya tak terdengar lagi Kopites bernyanyi lantang 'We're Gonna Win The League'. Apa yang niscaya kini tiada. Setiap awal tahun, 1 Januari, kita, para pendukung Liverpool, mulai menuliskan resolusi untuk mengukuhkan doa pada awal musim kompetisi: juara liga. Kini kita tahu bahwa harapan harus dibangun. Para fans Liverpool merasakan apa yang dirasakan Manchester United selama 26 tahun sejak Matt Busby pensiun dari kursi manajer: kehampaan. Ketidakpercayaan diri. Keragu-raguan.

Walau tentu saja, bahkan saat masa paceklik, Liverpool masih lebih baik daripada rival abadi mereka di Old Trafford. Tidak ada gelar liga Inggris. Peringkat di klasemen pun tidak stabil dan beberapa kali terlempar ke papan tengah. Tapi selama 27 tahun yang mengenaskan itu, masih ada cerita epik treble Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA pada 2001 dan drama Istanbul yang membuat para penonton netral sekalipun menahan napas pada 2005.

Satu Piala Eropa. Satu Piala UEFA. Dua Piala Super Eropa. Tiga Piala FA. Empat Piala Liga. Dua Charity Shield. Tiga belas trofi dalam 27 tahun nir gelar juara liga. Tidak buruk, terutama jika dibandingkan Everton yang tidak pernah meraih apapun sejak 1995.

"Saatnya berubah dari ragu menjadi percaya." Jurgen Klopp datang dan menyerukan perintah pertamanya saat mendarat di Anfield pada 8 Oktober 2015. 

Lelaki dari Hutan Hitam, Jerman, itu menyadarkan kembali para fans Liverpool bahwa mesin waktu hanya ada dalam novel H.G. Wells. Masa lalu adalah masa lalu. "Semua yang baik dan buruk pada masa lalu telah menciptakan klub ini dan menjadikannya spesial. Tapi itu tidak kemudian seharusnya membuat kalian tetap berada pada masa lalu."

Klopp tak punya beban sejarah untuk mengatakan itu dengan lugas. Di Borussia Dortmund dan Mainz, dua klub yang dilatihnya sebelumnya, ia tak menemui buku tebal sejarah kegemilangan klub seperti di Liverpool. Dialah yang harus menjadi arsitek sejarah kejayaan klub untuk diceritakan pada generasi mendatang, menuliskan bab tersendiri dalam buku sejarah itu dan tidak sekadar menjadi catatan kaki.   

Klopp menanamkan keyakinan tentang perlunya harapan dibangun terus-menerus bersama kerjas keras agar bisa menjadi keniscayaan. Saya suka kalimat ini (entah siapa yang pertama kali mengucapkannya)i: hasil tak akan mengingkari proses. Saya percaya Klopp bahwa itu berlaku universal, tidak hanya pada sepak bola. Awal tahun adalah saat kita berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan, opsi-opsi, seraya bersiap mengantisipasi hal terburuk. Mungkin oleh karenanya, setiap 1 Januari, refleksi dan harapan selayaknya menjadi bagian dari ziarah personal di tepi Sungai Mersey dan belahan lain di bumi. [wir]

sumber foto: bimblers.com

Tag : sepakbola

Berita Terkait

Kanal Sorotan