Seberapa Pentingkah Andik Vermansah?

Sabtu, 30 Desember 2017 14:54:04
Reporter : Oryza A. Wirawan
Seberapa Pentingkah Andik Vermansah?

Seberapa pentingkah Andik Vermansah bagi Persebaya? Dari sisi teknis, kita tidak tahu pasti. Hanya pelatih Alfredo Vera yang memahami betul bagaimana Andik diposisikan dalam komposisi tim Liga 1 musim depan.

Namun, sebagaimana hidup, sepak bola bukan hanya urusan teknis. Ini pertempuran antara kenyataan dan harapan. Pertarungan antara imajinasi dan nostalgia. Sesekali kalah, sesekali jatuh. Namun kemudian kita berdiri lagi, bertarung habis-habisan dengan penuh keyakinan.

Mungkin itulah kenapa kemudian dalam sepak bola, kita tak hanya menghargai kemampuan teknis dan trofi. Orang memang hanya mengingat nomor satu. Namun kita menghargai kerja keras dan perjuangan. Kita mudah terpesona pada loyalitas dan dedikasi. Ini menjelaskan bagaimana sebuah klub yang paling sial dan lemah sekali pun tetap memiliki fans kendati segelintir. Ini juga menjelaskan kenapa Jamie 'Carra' Carragher lebih dicintai dan dirindukan ketimbang Michael Owen di Liverpool.

Carra dan Owen sama-sama dibesarkan dari akademi The Reds di Kirkby. Owen menandatangani kontrak profesional pertama dengan Liverpool pada 18 Desember 1996, empat hari setelah ulang tahunnya yang ke-17. Lima bulan kemudian, 6 Mei 1997, ia mencetak gol perdana dalam pertandingan debutnya untuk Liverpool melawan Wimbledon.

Para fans Liverpool mendadak merasa diberkati Tuhan. Owen adalah jawaban atas kerinduan terhadap sosok ujung tombak mematikan sebagaimana dulu Ian Rush dan John Aldridge. Apalagi Owen muncul saat generasi berbakat akademi klub tengah tumbuh, yang sialnya belakangan lebih dikenang sebagai 'Spice Boys' (pelintiran dari band cewek Spice Girls) daripada prestasi mereka.

Mantan pemain legendaris dan pemburu bakat di Kirkby, Steve Heighway, memberikan garansi untuk Owen. "Dia siap melakukan apa yang diperintahkan. Jika Manajer (Roy Evans) ingin rekomendasi dari saya, Michel mendapatkannya."

Owen menjawab kepercayaan Heighway. Dalam usia 19 tahun, ia menjadi pencetak gol terbanyak Liga Primer pada 1997-1998 dan 1998-1999. Di bawah kepelatihan Gerrard Houllier, ia menjadi bagian dari tim merah yang memenangkan treble 2001: Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA 2001. UEFA menobatkannya menjadi European Footballer of The Year 2001.

Owen baru berusia 24 tahun. Namun dia sudah memainkan 316 pertandingan untuk klub dan tim nasional Inggris, meninggalkan jauh trio Manchester United Ryan Giggs (112), Paul Scholes (123), dan David Beckham (184).

Carra menandatangani kontrak profesionalnya dengan Liverpool dua bulan sebelum Owen. Dia memulai debutnya pada usia 19 tahun, 8 Januari 1997, menggantikan Rob Jones dalam pertandingan Piala Liga melawan Middlesbrough. Tidak ada benderang lampu sorot yang diterima Carra. Posisinya sebagai pemain belakang menjadi salah satu faktor yang membuatnya tak sepopuler Owen.

Lalu datanglah hari itu. Real Madrid mengetuk pintu Owen. "Owen boleh jadi adalah salah satu pemain hebat dunia dan pemain-pemain terbaik seharusnya bermain untuk Real Madrid," kata sang presiden Florentino Perez.

Madrid datang pada saat kontrak Owen menjelang habis. Carra menyarankan Owen untuk tidak pergi ke Santiago Bernabeu. Belum saatnya. Ia akan bersaing dengan bintang-bintang besar yang dicintai pemilik klub. "Di sana, bukan pelatih yang memilih komposisi tim, tapi politisi," kata Carra dalam buku otobiografinya.

Namun Owen bergeming. Ia menandatangani kontrak dengan Madrid tepat sehari sebelum pertandingan Liverpool melawan Tottenham pada musim 2004-2005. Liverpool akhirnya harus menerima kenyataan, dipaksa menjual bintang muda mereka dengan banderol delapan juta pound.

Owen pergi setelah mencetak 158 gol untuk Liverpool dalam 297 pertandingan sepanjang musim 1996-1997 hingga musim 2003-2004. Owen hanya semusim di Madrid. Prediksi Carra benar: sahabatnya itu gagal menembus tim utama El Real. Dia kembali ke Inggris bermain untuk Newcastle United pada 2005-2009. Pilihannya bermain untuk Manchester United pada 2009-2012 membuatnya semakin dilupakan para pendukung Liverpool. Kelak posisinya sebagai duta klub tak bertahan lama setelah diprotes oleh fans. Ia lebih dikenang karena ketidaksetiaannya daripada dua golnya ke gawang Arsenal pada final Piala FA 2001.

Sementara Carra? Dia tak hanya dikenang sebagai bagian dari tim yang mengangkat trofi treble, Piala FA 2006, Piala Liga 2003 dan 2012, dan tentu saja, Piala Champions 2005. Pensiun pada 2012-2013, ia tercatat bermain selama 17 musim untuk Liverpool dalam 737 pertandingan, mencetak empat gol ke gawang lawan, dan mencetak delapan gol ke gawang sendiri. Dia eksit dengan diiringi tepuk tangan riuh penuh respek di Anfield. Bahkan namanya menjadi tajuk pertandingan amal para bintang Liverpool bersama Steven Gerrard. Dia dan Gerrard menjadi simbol loyalitas. One man club. Seorang pemain yang bermain hanya untuk satu klub sepanjang karir (kendati Gerrard sempat bermain di Amerika Serikat semusim).

Andik Vermansah, kita tahu, lebih memilih Carra Way ketimbang Owen Way. Saya ingat petuah tua: seseorang dinilai dari pilihannya terhadap opsi-opsi di saat kritis. Kita tahu, pada saat-saat krusial, setelah Persebaya dibekukan paksa dan digantikan dengan klub imitasi ciptaan PSSI, Andik lebih memilih bermain untuk Selangor, Malaysia. Pengurus klub Persebaya versi PSSI gagal membujuknya untuk bermain bagi klub tersebut. Sebagaimana para Bonek, ia yakin, bahwa sejarah tak bisa dibeli dan nurani tak bisa dibohongi.

Andik bukan one-man club karena secara administratif sudah bermain untuk Selangor selama empat musim. Namun di mata para pendukung Persebaya, ia adalah representasi kesetiaan sebagaimana Mat Halil, pemain belakang yang tak lagi digunakan Persebaya di Liga 2. Apalagi Andik pernah berjanji hanya akan bermain untuk Persebaya jika kembali ke Indonesia.    

Industri sepak bola profesional, tentu saja, membuat Carragher dan Andik tak ubahnya romantisme nan ganjil. Uang adalah uang. Siapapun punya harga. Namun justru karena itulah, kita semua terpesona kepada Andik dan Carra karena telah membantah sesuatu yang seolah sudah jadi aksioma.

Pada akhirnya memang sepak bola bukan hanya game of glory. Ini gold, glory, and loyalty. Gelar dan kejayaan berasal dari kerja keras. Loyalty, kesetiaan, adalah sebuah sikap. Gold and glory menemukan manifestasinya pada berderet piala dan medali juara. Namun loyalitas membutuhkan momentum untuk bisa dijadikan monumen. Di saat orang butuh teladan, kita bisa menengoknya, memandangi monumen itu untuk mengingat: tidak semua bisa dibeli, bahwa ada hal-hal yang tak ternilai, termasuk hati. Andik dan Carra telah berhasil membangun monumen itu. Demi Persebaya dan hal-hal yang tak ternilai itulah, kita membutuhkan Andik untuk kembali. [wir]

Esai ini ditulis untuk menanggapi isu seputar kembalinya Andik Vermansah ke Persebaya. Judul lain esai ini adalah 'Monumen Andik Vermansah dan Carra Way' 

Tag : sepakbola

Berita Terkait

Kanal Sorotan