Psywar dan Pilkada Pamekasan

Sabtu, 02 Desember 2017 17:29:02
Reporter : Samsul Arifin
Psywar dan Pilkada Pamekasan

PERANG urat syaraf atau yang akrab didengar Psywar (Psychological Warfare) merupakan bentuk serangan propaganda yang dilancarkan dua atau lebih pihak yang saling bertentangan pendapat.

Psywar merupakan salah satu strategi yang sering digunakan dalam peperangan, berbeda dengan perang konvensional yang mengandalkan senjata maupun berbagai peralatan fisik lainnya untuk mengalahkan musuh. Psywar justru memanfaatkan aspek psikologis dan pemikiran lawan agar bisa terpancing alias tidak konsentrasi.

Dalam telaah akademis, psywar merupakan suatu tindakan yang dilancarkan dengan menggunakan berbagai cara psikologis dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis yang telah dirancang untuk orang lain.

Dalam dunia kampus, psywar sering dilakukan mahasiswa dalam kasus sebelum ujian kuliah. Tidak jarang kita menemui mahasiswa yang berkoar sudah belajar banyak dan menyatakan siap mengikuti ujian, padahal cara seperti itu secara tidak langsung justru menjatuhkan mental teman-teman mereka yang belum siap menghadapi ujian.

Adakalanya mereka juga menerapkan 'gaya' berbeda dengan mengatakan belum belajar sama sekali dan belum siap mengikuti ujian, padahal bisa saja mereka justru sangat siap dengan membuat teman-temannya (kompetitor) menjadi tidak fokus.

Dari gambaran di atas bisa disimpulkan bahwa psywar merupakan strategi efektif sebagai upaya memenangkan persaingan, terlepas dari baik dan buruk tujuan yang dijadikan sebagai patokan. Sebab hal itu juga bisa menjadi 'nilai tambah' sekaligus 'menguasai keadaan'.

Hal yang sama mulai terasa menjelang pelaksanaan momentum pilkada serentak 2018, khususnya di daerah berslogan Bumi Gerbang Salam. Dimana beberapa pihak yang memiliki 'kepentingan' mulai melepas psywar untuk mempengaruhi konstituen, baik secara langsung atau tidak.

Memang pilkada Pamekasan baru akan digelar tujuh bulan kedepan, yakni Rabu (27/6/2017) mendatang. Namun berbagai propaganda sudah mulai 'menohok' konsituen dari berbagai macam lapisan masyarakat.

Para figur berkepentingan mulai berupaya mencari simpati dengan melakukan berbagai macam cara, tidak jarang sebagian di antara mereka menggunakan popularitas maupun elektabilitas atau bahkan psywar.

Baliho berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil hingga jumbo bukan lagi hal tabu bagi masyarakat luas. Pemandangan tersebut adakalanya membuat masyarakat justru lebih tahu segalanya dibandingkan petugas KPU, tak jarang banyak yang mengatakan masyarakat sudah mulai dewasa dalam berpolitik.

Tidak cukup hanya baliho maupun poster, kemajuan teknologi juga cenderung 'dimanfaatkan' untuk mempromosikan diri sekaligus menambah popularitas maupun elektabilitas. Berbagai jenis media sosial (medsos) dihiasi dengan berbagai gambar maupun program para figur, sehingga para netizen mengetahui gerak maupun gagasan figur tertentu.

Sekedar dipahami, tahapan kampanye resmi dari KPU memang baru dilaksanakan mulai 15 Februari hingga 23 Juni 2018 mendatang. Bahkan sebelum muncul kandidat resmi, 'kampanye' melalui psywar sudah mulai tampak ke permukaan guna menarik simpati dari masyarakat calon pemilih yang juga belum ditetapkan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu 2018.

Belum lagi dengan hasil polling hasil survei yang mulai nampak meyakinkan pemilih untuk mendukung para pemenang survei, tercatat banyak figur bermunculan dalam hasil survei yang dilakukan berbagai 'lembaga survei'. Hanya saja terdapat figur yang tengah 'naik daun' justru tidak muncul dalam hasil survei.

Semisal hasil survei Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) beberapa waktu lalu, figur yang mulai muncul ke permukaan seperti kader muda PPP Fathorrahman justru sama sekali tidak tampak pada hasil survei. Justru kader PPP lain, Achmad Baidowi memiliki hasil tertinggi dalam posisi sebagai bakal calon wakil bupati.

Bahkan politisi muda dari partai berlogo Ka'bah yang saat ini menjabat sebagai angota DPR RI, memiliki 'nilai tinggi' dibandingkan figur lain. Baik saat digandengkan dengan bakal calon bupati Badrut Tamam maupun KH Kholilurrahman, bahkan PPP pun diklaim sebagai partai penentu dalam momentum pesta demokrasi lima tahunan tingkat kabupaten.

Terbaru, dua media online lokal juga 'ikut-ikutan' melakukan jejak pendapat atau polling dalam waktu yang relatif singkat. Hasilnya jelas nampak persaingan dua figur kuat yang digadang-gadang memiliki peluang besar untuk maju sebagai bakal calon bupati, di antaranya Achmad Baidowi, Al-Anwari, Badrut Tamam, KH Kholilurrahman hingga Rudy Susanto.

Dimana figur lain yang dari awal intens untuk bertarung pada momentum pilkada serentak? Bahkan sebagian besar nama-nama tersebut hilang tanpa jejak, padahal jauh sebelum gong pilkada menggema, nama-nama mereka sudah mulai bermunculan daripada sosok baru yang meramaikan momentum.

Diakui atau tidak, saat ini hanya terdapat dua nama yang selalu menjadi perbincangan utama, yakni Badrut Tamam dan KH Kholilurrahman sebagai bakal calon bupati Pamekasan periode 2018-2023. Hanya saja keduanya belum menemukan sosok wakil yang sreg atau bahkan sama-sama menunggu rekomendasi dari PPP.

Jadi tidak salah jika sebagian orang beranggapan bahwa PPP akan menjadi penentu seperti yang diklaim oleh LSIN, sekalipun dinamika politik di Pamekasan terbilang cukup dinamis dibandingkan tiga kabupaten lain di Madura.

Namun tidak harus dikesampingkan, fenomena riil dalam dinamika politik di Pamekasan hanya sebatas psywar guna mempengaruhi konstituen khususnya bagi pemula atau para golput (golongan putih). Sebab tidak menutup kemungkinan masing-masing tim sukses dari masing-masing pihak berkepentingan memiliki tim psywar dalam proses pilkada. [pin/suf]

Tag : pilkada

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan