Partai Penggemar Bir di Polandia

Selasa, 12 September 2017 22:38:36
Reporter : Ainur Rohim
Partai Penggemar Bir di Polandia
Ainur Fohim, Penanggung jawab beritajatim.com. [Foto: dok/bj.com]

Benarkah sekelompok orang mendirikan partai politik (Parpol) selalu merujuk pada perjuangan atas ideologi tertentu? Secara global, kita mengenal dua ideologi yang berada di dua titik ekstrim: Liberalisme-Kapitalisme di titik kanan dan banyak dianut di negara-negara dunia pertama.

Kedua, Sosialisme-Komunisme di titik kiri dan banyak diterapkan di negara-negara dunia kedua, terutama sebelum kebangkrutan ideologi komunisme pada awal tahun 1990-an.

Bagaimana dengan Indonesia? Parpol selalu merujuk setidaknya ada 3 ideologi besar: Islamisme, Nasionalisme, dan Pembangunanisme. Makin ke kanan (Islam), ideologi parpol itu dinilai makin puritan, fundamental, dan tekstual terhadap nilai-nilai Islam sebagai ideologi, marwah, prinsip, dan visi perjuangannya.

Di sisi lain, Nasionalisme yang diposisikan di kiri dipandang merepresentasikan warga menempatkan Nasionalisme-Kebangsaan sebagai guidance kehidupannya dalam bernegara.

Ada pula ideologi Pembangunanisme yang dianut Partai Golkar, yang menonjolkan visi dan ide karya-kekaryaan, mencoba menjauhkan diri dari tarik-menarik ideologi klasik dan lama di Indonesia.

Bisa dikatakan sebagian besar parpol di Indonesia didirikan dengan merujuk pada 3 ideologi besar tersebut. Satu parpol dengan parpol lain kalaupun menganut garis ideologi politik, yang tampaknya berbeda, tapi hakikatnya sama.

Perbedaannya itu sekadar pada variannya. Seperti Partai Gerindra, Partai Demokrat, dan PDIP sama-sama parpol berpaham Nasionalis. Bedanya, Partai Demokrat yang mengusung spirit ideologi Nasionalis-Religius, PDIP berpaham Nasionalis Marhaen seperti digagas Bung Karno, dan Partai Gerindra berpaham Nasionalis Kerakyatan.

Nyaris semua parpol di Indonesia mengusung ideologi dan kredo perjuangan politiknya dengan wajah dan bobot sangat serius. Beban politik perjuangannya terlihat sangat berat. Cita idealnya setinggi langit. Dan ekspektasi politiknya sangat normatif, ideal, dan seolah-olah seperti kitab suci.

Tak ada parpol yang di Indonesia dibangun dan didirikan dengan spirit santai, parodi, merujuk pada persamaan hobi dan sikap santai lainnya.

Padahal, sejarah politik global menunjukkan, adanya parpol yang bisa survive, memperoleh kursi di lembaga perwakilan, dan bermetamorfosa sebagai kekuatan politik diperhitungkan berangkat dari pemikiran bersifat parodi.

Pascakejatuhan dan kebangkrutan Partai Komunis Polandia pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, di negara ini berdiri Partai Penggemar Bir. Pada mulanya pendirian partai ini sebuah parodi.

Richard S Katz dan William Crotty (2014), dalam bukunya berjudul: Handbook Partai Politik, antara lain menulis Partai Penggemar Bir di Polandia awal mula pendiriannya tak didasarkan pada prinsip ideologi bersifat serius dan rigid.

Seiring waktu mengembangkan program serius di mana tujuan partai yang dirumuskan dengan bercanda, lewat diskusi politik di pub-pub malam yang menyediakan minuman bir dengan kualitas bagus. Kemudian berkembang menjadi terkait dengan nilai-nilai kebebasan berserikat dan berekspresi, toleransi intelektual, dan standar hidup yang tinggi.

Pada 1991, Partai Penggemar Bir Polandia berhasil meraih 16 kursi di Sejm--sejenis Majelis Rendah Parlemen Polandia. Raihan kursi ini sungguh mengejutkan, mengingat pendirian dan keikutsertaan partai ini dalam pemilu Polandia bersifat ala kadarnya.

"Jadi, meskipun Partai Penggemar Bir Polandia bermula sebagai parodi, partai ini kemudian menjadi sebuah kekuatan politik Polandia karena ide-idenya--bukan karena partai ini dibentuk dengan tujuan untuk menang pemilu," tegas Richard S Katz dan William Crotty.

Keberhasilan Partai Penggemar Bir di Polandia setidaknya mewariskan kepada kita sejumlah catatan. Pertama, pendirian partai baru tak selama harus merujuk pada ideologi politik yang sudah mapan dengan berbagai variannya, baik di tingkat global maupun nasional.

Partai baru ternyata bisa dibangun, didirikan, dan dikelola merujuk pada persamaan hobi, kesenangan, dan aspek parodi lain pada warga negara.

Partai tak melulu merujukkan landasan ideologi dan perjuagannya pada ideologi bersifat konvensional, seperti Liberalisme-Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme Demokrasi, Islamisme, Nasionalisme, Nasionalisme-Marhaenisme, Nasionalisme Religius, dan lainnya.

Kedua, di tengah kesumpekan, hiruk-pikuk, dan kejumudan politik di Tanah Air seperti sekarang, dibutuhkan improvisasi politik dan middle way untuk lepas dari kontestasi politik partai-partai yang ada, yang cenderung bersifat keras, rigid, dan saling menghantam. Politik jangan selalu diidentikkan dengan kontestasi politik bersifat terbuka, struggle of power, perebutan sumber daya ekonomi dan politik negara, dan lainnya.

Politik seyogyanya juga diposisikan sebagai perangkat otoritas untuk melahirkan solidaritas dan kohesi politik yang terintegratif antarkomunitas dan stratifikasi sosial.

Sehingga ide awal pendirian partai tak selamanya harus merujuk pada ideologi politik bersifat konvensional di ranah global dan nasional. Partai bisa dibangun di atas landasan persamaan hobi, kesukaan, dan nilai-nilai rekreatif lain tanpa bermaksud menyalahgunakan kekuasaan dan mengganti ideologi Pancasila dalam konteks ke-Indonesia-an.

Mungkin saja terbuka kesempatan di masa depan di Indonesia bakal ada Partai Penggemar Burung Berkicau, Partai Penggemar Minuman Kopi, dan lainnya. Hakikatnya politik tak selalu identik dengan sesuatu yang berwatak hard, tapi juga soft. [air]

Penulis adalah Penanggungjawab Beritajatim.com

Tag : politik

Berita Terkait

Kanal Sorotan