Esai

Sebuah Kota Masa Depan

Jum'at, 22 Juli 2016 10:07:48
Reporter : Oryza A. Wirawan
Sebuah Kota Masa Depan
foto: pixabay.com

Ini sebuah kota masa depan. Terletak di tepi metropolis. Populasi: 1.945 orang.

Terdiri dari beberapa blok, rumah-rumah tertata rapi dalam bentuk yang sama. Tanpa pagar yang melindungi pekarangan. Pekarangan satu rumah dengan yang lain dibatasi ubin dari batu kali yang tertata rapi.

Satu rumah dengan rumah lainnya hanya dibedakan warna dinding: merah, jingga, merah muda, biru, hijau, dan warna-warna ceria. Tak ada warna abu-abu. Kelabu diharamkan di kota ini. Itu bukan warna bahagia.

Warga kota ini bertindak mekanis. Mereka bekerja di pusat metropolis. Berangkat jam 7 pagi, pulang kerja jam 5 sore. Makan malam jam tujuh malam. Baca buku sebentar, lalu jam 9 malam memadamkan lampu di ruang tamu dan mereka pergi tidur.

Mereka berusaha seefisien mungkin. Bahkan untuk bercinta. Mereka dua kali sepekan bersenggama, memakai kondom, karena populasi di kota ini harus dikendalikan. Setiap keluarga mendapat kuota punya tiga anak. Kehamilan yang tak dikehendaki mengharuskan aborsi.

Sabtu dan Minggu saat bersantai. Mereka menuju taman kota, berpiknik di sana. Saling sapa, melakukan repetisi basa-basi: 'apa kabar?', 'baik-baik saja?', 'cuaca hari ini cerah sekali'.

Satu-satunya bangunan bercat dinding putih di kota ini adalah rumah sakit. Bentuknya kotak persegi panjang. Siapapun yang masuk rumah sakit, biaya ditanggung pemerintah kota. Namun mereka wajib sembuh hanya dalam waktu sepekan maksimal.

Jika tak sembuh, pilihannya hanya masuk panti untuk menunggu mati. Jika mati, krematorium sudah menanti.

Kota ini tak punya pemakaman umum. Pemakaman umum melanggar hukum efisiensi ruang dan efektivitas waktu. Ia juga selalu memunculkan kenangan dan kesedihan. Masa lalu bukan opsi untuk dikenang. Apalagi kematian.

Mayat-mayat dimasukkan di tanur bersuhu dan bertekanan tinggi, bergiliran dengan sampah rumah tangga yang dikepul dari rumah ke rumah dan kemudian dibakar habis.

Abu setiap mayat harus dibakar habis disimpan dalam guci di ruang tamu atau ditabur di bunga mawar di pekarangan.

Satu-satunya koran di kota ini hanya mencetak berita-berita gembira atau obituari. Kota ini tak menoleransi kajahatan. Para pelanggar hukum adalah sekumpulan orang yang gagal mengefektifkan hidup dan mengefisienkan laku, dan setiap pelaku kejahatan akan dihukum mati diam-diam.

Tak ada televisi. Tak ada radio. Tak ada gedung pengadilan. Suami dan istri dilarang bercerai. Para jomblo mendapat santunan berupa alat-alat pemuas berahi swalayan. Alat merancap disubsidi. Lebih bagus jika bisa pakai tangan atau jari sendiri, karena itu lebih efisien. Dalam hukum efisiensi, seksualitas adalah kanal agar tetap bahagia.

Orang tidak memilih wali kota. Kota ini tak mengenal politik dan partai. Mereka tak punya legislator. Hanya ada kepala polisi yang bertugas mengendalikan dan menegakkan disiplin. Dia adalah hakim, ulama, dan pendeta sekaligus, menafsirkan kitab suci berdasarkan garis efisiensi dan efektivitas. Apapun dari kitab suci yang tak efisien dan efektif akan dihapus dan tak akan diajarkan. Ritual agama adalah bagian dari efektivitas dan efisiensi.

Tak terdengar azan masjid. Tak terdengar kloneng lonceng gereja. Hanya ada satu masjid di ujung utara kota, dan satu gereja di ujung selatan. Warga kota memperkirakan waktu sembahyang berdasarkan aplikasi waktu azan di telpon android mereka. Sementara mereka yang ingin ke gereja harus sering melihat kalender untuk tahu kapan hari Minggu.

Namun masjid makin sepi, gereja makin lengang. Azan dan lonceng tak bersambut. Orang merasa berdoa di sana memakan waktu. Jadi mereka meringkas doa dalam niat di rumah saja, sembari berkata: yang penting dalam hati kita ada yang bajik, bukan ibadah dalam praktik.

Anak-anak bersekolah di satu tempat. Di sini tidak ada universitas. Universitas mengajarkan kebebasan berpikir. Manusia tak bisa jadi filsuf terus-menerus. Manusia butuh bekerja, maka pendidikan tertinggi di kota ini adalah bengkel-bengkel kerja. Anda bisa jadi apa saja, tanpa harus banyak berpikir bebas. Setiap ide adalah bid'ah, kecuali bisa mengefisiensikan hidup dan mengefektifkan kerja.

Di sini olah raga yang digemari adalah sepak bola, dengan durasi dipangkas menjadi hanya dua kali lima belas menit. Setengah jam cukup. Efektif dan efisien. Di sini tak ada kompetisi liga atau turnamen yang menghasilkan satu pemenang. Hasil yang paling dihargai adalah seri, 0-0, 1-1, 2-2, 3-3, 4-4, berapapun asal seri, karena tak satu pun orang boleh sakit hati karena pertandingan sepak bola.

Ada pula yang bermain catur. Tapi semua permainan catur harus berakhir remis. Mereka yang menang akan dihukum, karena mengancam harmoni dan keseimbangan. Mereka yang tampak berambisi untuk menang, akan ditarik dari arena permainan. Kemenangan atas sesama adalah kejahatan.

Harmoni, semua harus berada dalam titik harmoni. Bertahun-tahun, tak ada yang berminat mengganggu keseimbangan ini. Kesatuan kota ini harga mati.

Ini sebuah kota masa depan. Ada pintu masuk, tak ada jalan keluar. [Wir]

Tag : sosial

Berita Terkait

Komentar

Kanal Sorotan