Selamat Ulang Tahun, Kota yang Mengabaikan Sejarah

Selasa, 31 Mei 2016 21:18:57
Reporter : Oryza A. Wirawan
Selamat Ulang Tahun, Kota yang Mengabaikan Sejarah

Surabaya berulang tahun ke-723. Tapi untuk pertama kalinya saya merasa kecewa.

Kota ini berulang tahun dalam reruntuhan sejarah dan puing-puing kenangan yang terabaikan. Rumah radio Bung Tomo di Jalan Mawar. Persebaya. Saya tidak mengerti, apakah memang measa lalu dan nostalgia tak dihargai di kota ini.

Kita selalu menggunakan deretan angka statistik dan beragam penghargaan untuk menakar kemajuan, dan kita tahu, Surabaya tengah berlari, dengan membawa sekian persoalan. Produk domestik regional bruto (PDRB) Surabaya meningkat, dari sekitar Rp 231 triliun pada 2010 menjadi Rp 365 triliun pada 2014. Indeks Pembangunan Manusia juga meningkat dari 65,36 pada 2010 menjadi 68,14 pada 2014.

Walikota Tri Rismaharini sepanjang kekuasaannya mendapat sekian penghargaan, yang orang mudah melupakan karena begitu banyaknya. Bahkan mungkin orang tak bisa membedakan, penghargaan itu ditujukan Surabaya atau kepiawaian Risma mengendalikan kota ini. Media massa gampang saja memacak persepsi bahwa penghargaan yang diterima sang pemimpin adalah bagian dari kebanggaan warga kota.

Tapi tidakkah itu membosankan? Angka-angka dan seremoni penghargaan tak terasa spontan. Angka-angka, dan saya teringat Mark Twain yang mengatakan soal tiga macam kebohongan: 'lies, damned lies and statistics'. Tentu saja, Saya tak hendak mengatakan capaian di atas angka kota ini adalah kebohongan. Saya juga tak hendak menyimpulkan seremoni dan penghargaan tidak penting. Tidak begitu.

Namun saya lebih percaya apa yang dikatakan John Irving, seorang penulis: 'sejarah sebuah kota tak ubahnya sejarah sebuah keluarga. Ada kedekatan dan bahkan afeksi'. Sebuah kota adalah sederetan cerita tentang mengalami, dan saya kira itu lebih bermaknadaripada penghargaan dan angka-angka di atas kertas.

Karenanya kita tak bisa memahami, kenapa sebuah taman kota yang dirusak kerumunan massa yang berebut es krim, lebih bisa memantik amarah seorang walikota, daripada runtuhnya sebuah rumah tua di Jalan Mawar, tempat kata-kata menjadi api yang membakar sebuah perang kota puluhan tahun silam. Salah satu persoalan pemerintahan di Indonesia adalah membekukan peristiwa bersejarah dalam upacara dan pidato-pidato formal yang membosankan untuk kemudian melupakan penanda yang tersisa. Penanda tak abadi, seperti rumah tempat Bung Tomo berteriak pada hari-hari Inggris mengepung kota ini, ketika sejarah sudah dibekukan maknanya.

Saya ragu, para pejabat kota ini ingat bahwa saat itu Bung Tomo berpidato untuk para rakyat jelata yang tak bernama: bakul soto, tukang rombengan, tukang becak, bakul tahu, bukan untuk para ningrat dan birokrat. Memori mereka tak sepanjang itu, dan karenanya, tak ada yang menangis ketika rumah di Jalan Mawar itu dihancurkan.

Memori yang cupet juga yang saya kira membuat tak ada pejabat yang begitu peduli terhadap Persebaya, saat klub sepak bola yang lebih tua daripada usia republik itu dihapus dari sejarah. Persebaya hidup dalam rahim kenangan banyak orang di sudut-sudut kampung, hidup dalam mural di tembok-tembok kota. Namun tak pernah benar-benar tinggal dalam memori birokrasi kota ini.

Satu-satunya imaji yang tersisa dari Persebaya mungkin adalah keruwetan politik dan sengketa hukum, di mana pejabat kota mana pun enggan terlibat. Mungkin juga imaji tentang para suporternya yang selalu identik dengan kerusuhan, kendati tak selamanya benar.

Tapi apa boleh buat. Pada akhirnya, esai ini juga akan menjadi memori pendek bagi siapapun, dan akan dikenang sebagai keluhan ketidakberdayaan. Maka demi kota yang kita cintai ini, marilah kita menundukkan kepala dan berdoa: semoga tak ada lagi pengabaian. 

Selamat ulang tahun Surabaya. Semoga kita kelak mengerti, sesungguhnya pengabaian memori adalah pengkhianatan terbesar terhadap peradaban, juga terhadap warga kota ini. [wir]

Tag : sosial

Berita Terkait

Kanal Sorotan