Taxi Konvensional Vs Taxi Aplikasi

Pak War Tukang Becak dan Jaman Bergerak

Rabu, 23 Maret 2016 12:28:59
Reporter : Teddy Ardianto Hendrawan
Pak War Tukang Becak dan Jaman Bergerak

Pak War, tukang becak komplek perumahan menyodorkan nomor HP-nya kepada saya jika sewaktu-waktu membutuhkan untuk diantar dari rumah ke jalan unum. "Ini Pak nomor saya, kalau butuh tinggal pangil, saya pasti datang," kata Pak War seraya tersenyum.

Pak War dulunya mengayuh becak dengan pedal. Namun karena tuntutan zaman, dia harus mengganti dengan becak motor. Membeli motor 'second' kemudian dimodifikasi menjadi becak. "Penumpang ingin serba cepat sampai rumah, saya harus ganti pakai motor," kata Pak War.

Pak War tak sendiri. Pelaku ekonomi seperti mas penjual bakso dan penjahit keliling di komplek perumahan juga sudah punya telepon genggam layar sentuh, meski bermerek China dengan aplikasi android.
 
Kemarin 23 Maret 2016 sopir armada taksi bergerak, mogok, dan sebagian bertindak anarkis men-sweeping sopir taksi aplikasi Uber dan Grab. Tidak hanya Uber dan Grab, Gojek yang melintas juga menjadi sasaran sopir taksi.

Netizen dan dunia maya menjadikan aksi anarkis itu  trending topic.
Tindakan ini seharusnya tidak terjadi, jika konglomerat pemilik transportasi mengubah cara berpikir seperti Pak War.

Para pemain bisnis transportasi harus mulai sadar: zaman berubah. Konsumen tidak mau ribet dan mbulet. Jika ada yang mudah, pelayanan cepat, dan bisa dihubungi setiap saat, tentunya jasa tersebut yang dipakai.

Ada tudingan muncul aksi ini sebagai perang antarkonglomerat bidang transportasi, antara yang sudah nyaman dengan produk  taksi konvensional versus taksi aplikasi yang melibatkan warga. Taksi aplikasi sejauh ini tak perlu mengurus segala tetek-bengek, mulai perizinan hingga pajak.

Kunci kemudahan pelayanan dan kecepatan itu tentu saja ada pada dunia digital. Inilah peradaban digital. Dunia ada dalam genggaman Anda. Era digital dan media sosial telah menghadirkan tekanan baru dalam kebangkitan peradaban dan memainkan peranan penting menggusur oligarki.

Sekarang ini melalui media sosial semua orang bisa menjadi juragan becak, juragan media, juragan sayur, maupun ketua parpol. Ini bukan zaman Majapahit, di mana candi dengan pahatan di batu dan karya-karyanya dihormati dengan agung. Pahatan di candi sering dikunjungi warga untuk melihat dokumentasi tentang perjalanan manusia saat itu.

Profesor bidang ekonomi politik dan pionir dalam teori media dari University of Toronto, Harold Innis dikutip dalam Hilman Fajrian, Kompasiana mengatakan, segala bentuk baru komunikasi dan medium informasi menciptakan sebuah kekuatan sosial baru yang melawan monopoli kekuatan oligarki.

Harold mencontohkan apa yang terjadi di Mesopotamia pada tahun 3100 SM. Kuil terbesar dan paling dihormati di kala itu adalah yang memiliki tanah kelai paling banyak. Karena di atas kelai itulah para pendeta menatahkan ilmu pengetahuan. Begitu pula yang terjadi di Babilonia dan Nineveh pada tahun 2300 SM. Kuil dan pendeta yang paling dihormati adalah yang menyimpan perkamen terbanyak.


Datanglah revolusi industri dan ditemukan kertas, pekamen masa lalu tersebut ditinggalkan. Revolusi industri juga menghadirkan revolusi sosial. Setiap masa transisi akan membawa goncangan kultural terhadap monopoli atau oligopoli. Begitu juga sekarang saat menuju zaman teknologi.

Perkembangan ini juga bagian dari kapitalisme. Kapitalisme beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Maka kapitalisme selalu menemukan bentuknya kala perubahan itu datang.

Mungkin sebagian orang menganggap perubahan itu mengganggu status quo. Namun di sisi lain, perubahan itu membuka kesempatan banyak orang makin terbuka. Memang awalnya masalah kompetensi dan hal-hal terkait aturan formal akan dipertanyakan. Namun itulah konsekuensi keterbukaan dan zaman yang berubah.

Mari kita juga belajar dari bisnis media massa. Dulu, saat internet belum masif, bisnis media massa hanya dikuasai mereka yang berduit. Menjadi wartawan pun tak mudah. Namun kini, internet membuat bisnis berita dalam jaringan (online) marak. Siapa pun bisa bikin kantor berita online. Murah dan mudah. Bahkan di media sosial, semua orang kini bisa berperan menjadi wartawan.

Tentu saja ini menggelisahkan para pekerja media. Bukan semata pada bisnis, tapi pada melimpahnya arus informasi di hadapan pembaca yang makin sulit diverifikasi. Singkat kata: kalau semua bisa menulis, apa guna wartawan?

Perubahan menggelisahkan ini tidak lantas disikapi dengan penuh frustrasi. Kami optimistis di tengah arus informasi yang melimpah, pada akhirnya publik butuh informasi yang bisa dipercaya.

Di titik inilah, perusahaan media dan pekerja pers harus menunjukkan keunggulannya. Pekerja media arus utama harus mampu menunjukkan bahwa 'kami bukan tukang gosip, namun kami penggali fakta'. Itulah sebabnya kemudian pekerja media terus-menerus memperbaiki diri melalui uji kompetensi. Kami sadar, kepercayaan adalah satu-satunya hal penting yang membuat bertahan. [ted]

Tag : sosial budaya

Berita Terkait

Kanal Sorotan