Persebaya, From Hero to Zero

Jum'at, 31 Oktober 2014 09:04:16
Reporter : M. Syafaruddin
Persebaya, From Hero to Zero

Surabaya (beritajaim.com) - Datang sebagai pemenang, pulang sebagai pecundang. Gambaran yang sangat pas tentang kondisi Persebaya saat ini. Sebagai juara Divisi Utama dengan target 'back to back', Persebaya harus mengakhiri musim dengan kecut setelah gagal lolos ke semifinal.

Sabtu, 19 Oktober tahun 2013 silam, dalam sebuah perbincangan dengan penulis, Direktur Olahraga Dhimam Abror Djuraid memaparkan target Persebaya di kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014. Menurut Abror, Persebaya ingin meraih combo juara. Artinya, setelah menjauarai Divisi Utama 2013, Persebaya memupuk mimpi sebagai kampiun ISL 2014.

Saat itu Abror berkoar, "Tidak ada namanya masa transisi di Persebaya. Kita kan berusaha untuk back to back." Demi merealissikan target juara ISL 2014, Persebaya melakukan belanda pemain gila-gilaan. Uang lebih dari Rp 22 miliar mereka gelontorkan untuk mengikat kontrak pemain bintang.

Pesebaya berhasil membajak Emmanuel Kenmogne dari Persija Jakarta, Hasim Kipuw, Dedi Kusnandar serta Greg Nwokolo dari Arema Cronus. Untuk meracik tim penuh bintang, Persebaya mendatangkan pelatih sarat pengalaman, Rahmad Darmawan. Rahmad dikontrak dua tahun dengan nilai kontrak diperkirakan Rp 800 juta per tahun.

Beberapa bulan setelah menata, keadaan nampak normal. Persebaya bahkan mengakhiri musim reguler dengan prestasi gemilang, yakni juara wilayah timur. Namun kondisi mulai berubah pada dua bulan terakhir. Menjelang bergulirnya babak delapan besar, Persebaya masih disibukkan dengan masalah gaji.

Tambal sulam. Besar tunggakan gaji yang harus ditanggung oleh Persebaya pernah mencapai tiga bulan. Bahkan bila per 1 November tak ada gaji yang dicairkan, Persebaya kembali menunggak dua bulan gaji. Diakui atau tidak, keterlambatan gaji memberikan efek yang sangat besar.

Persebaya letoy di delapan besar. Anak asuh Rahmad Darmawan hanya meraih lima hasil seri dan sekali kalah dalam enam laga. Persebaya tersungkur di dasar klasemen Grup L dan gagal menembus semifinal. Derajat mereka setara dengan Persela Lamongan sebab sama-sama tak pernah menang di delapan besar.

Bedanya, Persela tak terlalu sakit karena mereka bukan tim yang menggelontorkan banyak uang untuk membeli gelar juara. Persela juga bukan tim kaya. Materi pemain mereka juga biasa saja. Persebaya, target juara ISL 2014 musnah sudah. Sang juara Divisi Utama 2013 bernasib tragis. From hero to zero. [sya/but]

Tag : sepakbola

Berita Terkait

Kanal Sorotan