Cerita Generasi Ketiga Pengrajin Logam di Kalibaru

Rabu, 01 Agustus 2018 19:18:12
Reporter : Rindi Suwito
Cerita Generasi Ketiga Pengrajin Logam di Kalibaru

Banyuwangi (beritajatim.com) – Festival Dandang Sewu atau seribu dandang kembali digelar. Kali ini bertempat di Lapangan Kompi Koramil Kecamatan Kalibaru setelah tahun sebelumnya diadakan langsung di areal persawahan Dusun Tegal Pakis, Desa Kalibaru Wetan.

Festival yang bertujuan untuk mengangkat potensi lokal Kecamatan Kalibaru tersebut, ternyata menandai perkembangan kerajinan logam yang telah memasuki generasi ketiga. Pertama kali kerajinan yang memproduksi berbagai peralatan dapur dan perkakas rumah tangga dari logam itu, diawali oleh seorang pendatang bernama Klasi pada decade 70-an. Pendatang asal Madiun itu, merantau ke Banyuwangi dan menetap di Kalibaru.

“Pak Klasi kemudian membuat panci dan alat-alat dapur. Bahannya yang digunakan masih memanfaatkan drum bekas,” ungkap Wawan, cucu Pak Klasi yang kini juga menggeluti usaha kerajinan tersebut, Rabu (1/7/2018).

Dari usaha Pak Klasi tersebut, lantas berkembang ke tetangga sekitarnya di Dusun Tegalpakis. Banyak yang ikut serta mengais rezeki dari membuat dan menjual kerajinan tersebut. Perkembangannya semakin pesat ketika memasuki decade 80-an. Saat itu, usaha yang dirintis oleh Klasi dilanjutkan oleh putranya yang bernama Selamet.

“Saat itu, produksinya terus meningkat. Tidak hanya untuk kebutuhan lokal Banyuwangi, tapi juga sudah dikirim ke seluruh Indonesia,” kenang Wawan, anak dari Selamet.

Memasuki tahun 2000-an, kondisi Selamet yang mulai menua, memaksa si anak untuk meneruskan usaha keluarga tersebut. Wawan yang saat itu, masih remaja, tidak terlalu asing dengan bisnis yang telah menjadi tradisi itu. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah akrab dengan berbagai proses pembuatan kerajinan. Bahkan, ia juga kerap kali ikut serta berbelanja bahan dasar logam di Surabaya.

Di tangan generasi ketiga tersebut, kerajinan logam pun ikut beradaptasi dengan perkembangan pasar. “Jika zamannya kakek hanya pakai drum bekas, zaman bapak sudah menggunakan almunium, sekarang sudah variatif. Ada yang menggunakan stainless dan bahan logam lainnya,” terang Wawan yang mengaku kelahiran 1984 itu.

Tidak hanya bahan dasarnya yang mulai variatif, model dan jenis produksinya pun juga beragam. Dulu hanya sebatas memproduksi panci, wajan, dan perkakas dapur lainnya. Kini sudah membuat aneka peralatan rumah tangga dengan sentuhan artistik. Seperti teko kecil, gelas kopi, dan aneka perabotan lain yang juga berbahan logam. “Modelnya kita meniru yang lagi ngetrend di pasaran,” akunya.

Adanya adaptasi dan peningkatan kualitas dari para pengrajin itulah yang diharapkan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dapat terakomodir oleh pasar.

“Pengrajin terus berinovasi, sedangkan pemerintah terus berupaya untuk mempromosikan dan menciptakan pasar-pasar baru bagi para pengrajin. Salah satunya adalah dengan menggelar Festival Dandang Sewu ini,” terangnya melalui saluran telepon ketika membuka acara Festival Dandang Sewu tersebut.

Peran pemerintah tidak hanya mendongkrak promosi, namun juga menstimulus dengan berbagai program pendampingan kepada para pengrajin.

“Di berbagai dinas terkait, kita telah memprogramkan pendampingan terhadap para pengrajin untuk peningkatan kualitas hingga akses permodalan,” ujar Sekretaris Pemerintah Daerah Banyuwangi Djajat Sudrajat ditemui di lokasi Festival Dandang Sewu. [rin/but]

Tag : tokoh

Berita Terkait

Komentar

Kanal Siapa Dia