Ikatan Takdir Sheva dan Liverpool

Kamis, 10 Mei 2018 22:24:58
Reporter : Oryza A. Wirawan
Ikatan Takdir Sheva dan Liverpool

Istanbul, 25 Mei 2005. Andriy Shevchenko berjalan pelan menuju titik putih. Dia adalah eksekutor terakhir penalti AC Milan. Tak ada pilihan baginya kecuali membobol gawang Liverpool yang dijaga Jerzy Dudek, jika ingin peluang Milan untuk merebut Piala Champions tak terkubur.

Serginho gagal. Andrea Pirlo gagal. Jadi Shevchenko tak boleh gagal. Namun wajahnya tak bisa menipu: dia tengah galau. AC Milan unggul 3-0 pada babak pertama final di Stadion Kemal Attaturk. Namun hanya butuh enam menit bagi Liverpool di babak kedua untuk menyamakan kedudukan.

Kegalauan itu merambat ke kakinya. Dia sempat menghentikan larinya sebelum menendang bola ke arah tengah gawang dengan lemah. Dudek menepisnya, dan Liverpool menjadi juara Eropa untuk kelima kalinya.

Kegagalan mengeksekusi penalti melengkapi kegagalannya mencetak gol malam itu. Sheva, sapaan akrabnya, sempat membuat gol pada menit 29. Namun hakim garis mengangkat bendera tanda dia berada dalam posisi offside. Di babak perpanjangan waktu, dia nyaris membobol gawang Liverpool.

Menit 118, Serginho mengirimkan bola lambung melewati kepala bek Liverpool Sami Hyppia. Sheva sudah menanti dan langsung menyundul bola. Bola melaju deras. Dudek berhasil menepisnya. Bola terpantul di depannya dan langsung disambut dengan tendangan kaki kanan Sheva, dan kali ini Dudek kembali menepisnya ke atas gawang.

"Itu adalah momentum paling misterius dalam karir saya. Saya tidak mengerti bagaimana bola tidak masuk gawang," kata Sheva yang mengaku sudah menyaksikan video pertandingan itu lebih dari 50 kali.

Sheva menyebut enam menit saat Steven Gerrard, Vladimir Smicer, dan Xabi Alonso mencetak gol untuk Liverpool, sebagai mimpi buruk. "Saya pikir itu takdir," katanya.

Sheva tak sepenuhnya keliru. Dia memang seperti memiliki ikatan takdir dengan Liverpool. Jauh sebelum malam penuh penyesalan di Istanbul, namanya sudah bersinggungan dengan Liverpool pada usia 10 tahun.

Medio 1986, Sheva memperoleh sepasang sepatu Ian Rush sebagai pencetak gol terbanyak dalam Ian Rush Cup. Ia saat itu memperkuat Dynamo Kyiv U14, dan Rush adalah nama ujung tombak legendaris Liverpool. Sepanjang karirnya untuk Liverpool, pemain asal Wales itu telah mencetak 346 gol dalam 616 pertandingan.

Sheva menyebut Rush populer di Ukraina. Televisi lokal menayangkan pertandingan Liverpool saat memenangkan Piala FA 1986 melawan Everton. Sepatu itu usang tentu. Namun ia tetap tersimpan rapi bersama semua trofi yang diraihnya dan dirawat oleh sang ibu. [wir/suf]

Tag : sepakbola

Berita Terkait

Komentar

Kanal Siapa Dia