Kisah Napsiah, Mengais Rezeki dari Bunga Kematian

Kamis, 04 Januari 2018 23:21:56
Reporter : Deni Ali Setiono
Kisah Napsiah, Mengais Rezeki dari Bunga Kematian

Gresik (beritajatim.com)- Pepatah tak ada rotan akar pun jadi. Itulah gambaran yang pas buat warga Desa Dukuhkembar, Kecamatan Dukun, Gresik. Maklum, hampir 60 persen warganya menggantungkan tanaman bunga kematian atau kenanga (bunga tabur untuk ziarah). Mereka mengais rezeki dari berjualan bunga tersebut.

Menuju ke Desa Dukuhkembar sangat mudah. Sebab, akses jalan sudah mulus karena sudah dipaving beton. Saat masuk ke desa tersebut, dari kejauhan nampak Napsiah (70) yang bekerja sebagai petani bunga kenanga. Dia sedang menjemur bunga itu.

Kendati cuaca sedikit mendung, Napsiah bergegas dengan menggunakan serok dari kayu menyapu bunga kenanga ke pinggir teras rumah. Raut wajah yang bercucuran keringat tidak menyurutkan perempuan yang hampir separuh hidupnya bergelut dengan bunga kenanga.

Dalam sehari, Napsiah mampu menghasilkan 6 karung kecil bunga kenanga yang sudah dipilah-pilah. "Sejak remaja saya menjadi petani bunga kenanga. Itupun turun-temurun dari orang tua," ujarnya kepada beritajatim.com, Kamis (4/1/2018).

Napsiah menceritakan, keuntungan bertani bunga kenanga tergantung musimnya. Jika menjelang Ramadan keuntungannya bisa dua kali lipat. Kalau hari biasa keuntungannya tidak seberapa.

"Kalau hari tertentu seperti menjelang Ramadan bisa dapat uang banyak. Tapi, kalau hari biasa seperti sekarang hanya mendapatkan ratusan ribu," tuturnya sambil tersenyum.

Desa Dukuhkembar, memang sudah lama menjadi pusat produksi bunga kenanga. Sudah puluhan tahun desa tersebut banyak ditumbuhi tanaman kenanga. Banyaknya tanaman tersebut membuat warga Desa Dukuhkembar memanfaatkannya untuk tambahan mencari rezeki.

Sebelum dijual, bunga kenanga yang sudah dipilah biasanya dicampur dengan bunga mawar, pihong (kantil), serta melati.

"Hampir separuh warga kami menjadi petani bunga kenanga. Separuh lahan selain ditanami padi juga ada tanaman tersebut," ujar Kepala Desa (Kades) Dukuhkembar, Asikin.

Asikin menambahkan, keberadaan petani bunga kenanga sudah sejak lama. Bahkan, dirinya pernah mencicipi sebagai petani bunga untuk ziarah kubur itu. Sebelum akhirnya, memutuskan menjadi kepala desa.

"Petani bunga kenanga di desa kami biasanya turun-temurun. Sebab, hasilnya bisa untuk tambahan asap dapur," ungkapnya.

Masih menurut Asikin, penjualan bunga kenanga biasanya mengalami peningkatan di saat-saat tertentu hingga dua kali lipat.

"Di moment awal Ramadan, dan saat Hari Raya Idul Fitri banyak warga ziarah kubur. Pastinya banyak warga yang membeli bunga kenanga. Sehingga, warga kami juga bertambah rezekinya," tandasnya. [dny/suf]

Tag : tokoh

Berita Terkait

Kanal Siapa Dia