Warga Banyuwangi Nyaris Punah di Lokasi Ini

Minggu, 16 Desember 2018 16:25:01
Reporter : Rindi Suwito
Warga Banyuwangi Nyaris Punah di Lokasi Ini

Banyuwangi (beritajatim.com) - Setiap bulan Desember dalam tiap tahun, Banyuwangi tak terlepas dari momen yang cukup bersejarah. Terlepas sebagai bulan berdirinya nama daerah di Bumi Blambangan, Desember juga menjadi saksi gigihnya perjuangan warga melawan penjajah.

Konon, pada Desember 1771 menjadi kisah perjuangan yang heroik. Lantaran perlawanan warga Banyuwangi kala itu hingga titik darah penghabisan. Bahkan lebih dari itu, perjuangan melawan tentara VOC Belanda nyaris menghabiskan warga Songgon.

Perlawanan itu tercatat dalam peristiwa Puputan Bayu yang terjadi di wilayah Kecamatan Songgon. Dalam perang Puputan Bayu itu, rakyat Blambangan yang tidak rela tanahnya diinjak-injak penjajah, berusaha mempertahankan wilayahnya sekuat tenaga dengan bekal pedang, tombak, dan keris.

Dipimpin Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit menunjukkan kegigihannya dalam menumpas penjajah VOC Belanda dengan senjata tulup dan bambu runcing. Mereka berhasil akhirnya mampu mempertahankan kekuasaan di tanah Blambangan.

Bagi warga Banyuwangi, momen ini terukir tepat pada bulan Desember 247 tahun lalu. Sehingga, hingga kini menjadi bulan yang sakral dan bersejarah.

Berdasarkan cerita tersebut, DPRD Banyuwangi pada sidangnya tanggal 9 Mei 1995 secara aklamasi menetapkan 18 Desember sebagai hari jadi Banyuwangi.

Kini, momen itu selalu menjadi suguhan dan peringatan sakral bagi warga Banyuwangi. Tiap tahun, warga melakukan napak tilas untuk memperingatinya.

Ribuan orang dari seluruh penjuru Banyuwangi datang. Mereka menyusuri rute sepanjang 10 kilometer yang menjadi jalur perang Puputan Bayu menuju hutan Rowo Bayu yang diyakini menjadi lokasi perang besar tersebut.

Tak sekedar berjalan kaki, namun mereka juga mengenakan busana lengkap ala perjuangan warga, serta dibumbui dengan pasukan VOC Belanda. Napak tilas juga diiringi oleh kirab pusaka, berupa tombak, keris bambu runcing maupun tulup yang sebelumnya telah disucikan.

\"Selamat dan terima kasih kepada masyarakat Songgon. Napak tilas ini penting bagi kita. Banyuwangi boleh maju dan berkibar, tapi sejarah dan budaya masa lalu tidak boleh ditinggalkan. Sejarah itu penting bagi kita untuk mengingat masa lalu, dan merefleksikannya untuk masa depan,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang hadir bersama SKPD di Rowo Bayu, Minggu (16/12/2018)

Bupati Anas mengajak masyarakat untuk memaknai napak tilas Puputan Bayu sebagai spirit bagi warga Banyuwangi untuk memperjuangkan kemajuan Banyuwangi di masa depan.

\"Dulu para pahlawan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini tugas kitalah untuk memperjuangkan kemajuan Banyuwangi,\" kata Anas.

Napak tilas ini, tambah Anas,  ibarat penghubung antara masa lalu, masa kini dan masa depan. \"Jangan lupakan sejarah. Hal-hal di masa lalu yang bagus, akan terus kita kembangkan. Program masa lalu yang bagus, ditambah dengan program inovasi di masa kini, akan membuat Banyuwangi berkembang menjadi lebih baik,\" kata Anas sambil mengucapkan terima kasih atas kerjasama seluruh elemen masyarakat yang terus bekerjasama memajukan Banyuwangi.

Menurut Anas, pada tahun ini Hari Jadi Banyuwangi rerasa sangat spesial. Ditetapkannya Banyuwangi sebagai Kabupaten Paling Inovatif di Indonesia, hingga penerbangan internasional Kuala Lumpur - Banyuwangi merupakan salah satu hadiah yang berharga bagi Banyuwangi.

\"Ini semua terasa sangat spesial. Masih banyak pula prestasi lain yang berhasil Banyuwangi sejak awal tahun kemarin. Untuk itu, napak tilas ini harus kita jadikan moment untuk terus berkarya bagi Banyuwanhi,\" kata Anas.

Semangat berjuang itulah yang mendorong warga turut dalam napak tilas ini. Wahyu Adi (21), salah satunya yang menyatakan senang bisa ikut napak tilas ini bersama 7 rekan-rekannya.

\"Saya baru pertama kali ikut napak tilas ini. Excited banget bisa ikut berpartisipasi. Apalagi para pesertanya juga banyak dan terlihat penuh semangat,\" ujar Wahyu.

Wahyu mengaku, yang bikin dia tambah terkesan  dengan kegiatan ini adalah partisipasi masyarakat sekitar.

\"Menariknya, hampir tiap rumah atau secara berkelompok-kelompok, warga masyarakat menyiapkan jajanan dan minuman yang bisa dinikmatin secara gratis. Guyubnya sangat terasa,\" kata Wahyu. [rin/but]

Tag : pemkab banyuwangi

Berita Terkait

Komentar

Kanal Politik & Pemerintahan