Dr Ikhsan Kamil Sahri: Saatnya Islam Tradisional Bersaing di Era Digital

Minggu, 14 Oktober 2018 17:52:13
Reporter : Samsul Arifin
Dr Ikhsan Kamil Sahri: Saatnya Islam Tradisional Bersaing di Era Digital

Pamekasan (beritajatim.com) - Dr Ikhsan Kamil Sahri menyampaikan komunitas Islam Mayor (Tradisional) Indonesia sangat penting berdakwah dengan melakukan kontestasi identitas keislaman dalam rangka fastabiqul khairat, guna mewarnai kajian Islam moderat, inklusif dan adaptif terhadap berbagai isu kekinian.

Sebab melalui gagasan tersebut, umat Islam nantinya bakal melaju lebih baik di era baru. Tidak saja sebagai follower (pengikut), tapi juga menjadi kiblat baru dalam kajian-kajuan di era digital yang biasa disebut era revolusi industri 4.0.

Hal itu disampaikan saat ia menjadi menjadi pamateri tunggal dalam Pelatikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) Pamekasan yang digelar di Cafe dan Resto D'Al-Muna Jl Pintu Gerbang, Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan, Minggu (14/10/2018).

"Akhir-akhir ini terdapat sebuah gejala yang berulang, apa yang tidak dianggap ke-Arab-Araban tidak dianggap Islam. Puritanisme Islam dalam model baru saat ini tengah booming di era generasi melinial yang ditandai dengan era digital economy, artificial inteligence, big data, robotic, dan lain-lain yag dikenal dengn fenomea disruptive innovation," kata Iksan Kamil Sahri.

Dalam kegiatan yang mengusung tema 'Masa Depan Islam di Indonesia', alumnus Pesantren Bata-Bata itu juga menyampaikan perdebatan isu keislaman saat ini mulai berpindah dari perdebatan di pentas pengajian yang dilakukan secara offline. Baik dalam bentuk halaqah, dauroh, majelis taklim, khutbah jumat dan sejenisnya.

"Sekarang tidak lagi menggunakan perdebatan secara offline, tapi sudah menjadi perdebatan keislaman pada ranah digital atau lebih tepatnya di internet. Gelanggang baru dalam dunia internet ini ada pada banyak platform, mulai dari website hingga media sosial, mulai dari betuk tulisan hingga audio visual," ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, umat Islam Indonesia yang mayor yaitu komunitas islam tradional yang mencapai lebih dari 80-90 persen dari total umat Islam di Indonesia agak belepotan dan tertinggal. "Basis mereka yang berada di desa-desa, ekonomi rentan serta penguasaan yang lemah terhadap IT membuat mereka mengalami kemandegan," imbuhnya.

"Di sisi lain komunitas Islam kota yang relatif lebih sedikit dan sebenarnya tidak punya basic keagamaan mumpuni, tidak belajar agama secara intens di lembaga-lembaga keagamaan resmi justru menguasai gelanggang baru era revolusi 4.0. Indikasinya sangat mudah, carilah di search engine (mesin pencari) maka Anda akan menjumpai bahwa tema-tema terkait diisi oleh kelompok-kelompok minor ini," jelasnya.

Bahkan tanpa hal itu, 'Islam 1 menit' akan lebih banyak menguasai gelanggang narasi keislaman di era 4.0. maka penting bagi komunitas Islam mayor di Indonesia untuk memulai dakwah keislaman dalam rangka fastabiqul khayrat untuk mewarnai kajian-kajian Islam yang lebih moderat,

"Kenapa kajian-kajian Islam model Basalamah di Youtube lebih disukai daripada kajian Quraish Syihab yang berjilid-jilid. Jawabnya simple, karena lebih instan. Salah satu penanda era revolusi 4.0 adalah kecepatan, kepraktisan dan simple," tegasnya.

Kajian Quraish Syihab dinilai terlalu panjang bagi komunitas internet, terlebih banyak orang-orang mendengar konten-konten berita atau keagamaan itu tidak lebih dari 1 hingga 3 menit. "Dan membaca tafsir al-Misbah yang berjilid-jilid itu bagi generasi Islam sosmed dan Islam youtube terlalu lama dan membosankan, belum lagi ini misalnya pada kemampuan publik speaking," imbuhnya.

"Salah satu kelebihan kelompok Islam 1 menit adalah mereka memiliki kemampuan public speaking yang relatif lebih bagus dibanding komunitas Islam pesantren. Tentu saja ditunjang dengan pengetahuan atas dunia digital yang juga relatif lebih bagus dibanding kebanyakan Islam panjang lebar," sambung pria asal Madura yang berdomisili di Surabaya.

Dari itu ia memastikan bahwa Islam 1 menit akan lebih baik jika dipraktikkan Islam Mayor, terlebih saat ini yang terjadi justru sebaliknya. "Dalam aspek ini Islam Mayor tertinggal jauh dari Islam Minor, sehingga harus mencoba turun gelanggang. Sekaligus memulai langkah baru dengan menghadirkan konten alternatif dalam persoalan ini," pungkasnya. [pin/kun]

Tag : islam

Berita Terkait

Komentar

Kanal Politik & Pemerintahan