Kekacauan Peta Politik Bikin Pemilih Gamang

Jum'at, 14 September 2018 21:05:27
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Kekacauan Peta Politik Bikin Pemilih Gamang
Foto ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) - Pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar W Oetomo mencatat pemilih belum siap dengan polarisasi yang berbeda dengan sikap memilih di Pilkada serentak.

"Terjadi kekacauan peta politik disebabkan oleh kompleksitas pemilih dalam mencoblos karena dihadapkan banyaknya jenis pilihan (Pilpres, DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota)," katanya.

Selain itu, lanjut dia, juga disebabkan persepsi sebagai akibat maraknya kasus korupsi yang menimpa anggota dewan, khususnya kasus terakhir di DPRD Kota Malang.

"Kondisi tersebut mengakibatkan disorientasi pemilih yang pada gilirannya para pemilih tidak memiliki pilihan pasti," ujarnya.

Karena itulah dalam konteks 'political disruption' seperti ini maka diperlukan strategi pemenangan berbasis data dan kandidat tidak boleh berpolitik dengan insting, apalagi hanya mengandalkan laporan asal bapak senang dari tim sukses.

"Akibat kekacauan peta kekuatan politik ini, maka uang tidak cukup bisa diandalkan untuk membeli suara," tegasnya.

Sementara itu, pakar komunikasi politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo menyebut pada Pemilihan Umum 2019 akan dipenuhi perang informasi karena meningkatnya pemanfaatan perangkat media teknologi komunikasi.

"Teknologi komunikasi menyajikan begitu banyaknya informasi memikat, meski keakuratannya belum terbuktikan," imbuhnya.

Menurut dia, pemilih akan sulit membedakan mana informasi benar dan mana yang salah, khususnya terkait maraknya berita bohong atau hoax.

Banyaknya berita hoax dan tidak tersedianya informasi akurat yang memikat pemilih, kata dia, akan mengakibatkan partisipasi memilih legislatif 2019 cenderung menurun.

Karena itu, dosen FISIP Unair tersebut menyarankan politikus memanfaatkan media arus utama, baik media konvensional mapun media baru, termasuk bisa bersinergi untuk melakukan komunikasi politik maupun politik pemasarannya.

"Kunci kememangan terletak pada kecerdasan kandidat dalam mengelola komunikasi dan mengelola relasi atau hubungan dengan pemilih," jelasnya.

Sementara itu, bakal terjadinya perang informasi tersebut merupakan hasil fokus grup diskusi 'Kaukus Politik Cerdas Bermartabat' yang melibatkan sejumlah ahli sosial, ekonomi, komunikasi dan politik di Jatim.

Diskusi tersebut dilakukan mencermati polarisasi Pemilihan Presiden 2019 yang tidak berseiring dilakukan bersamaan dengan Pilkada serentak, sehingga berdampak pada kekacauan peta politik di hampir semua daerah di Tanah Air. [tok/but]

Tag : pilpres 2019

Berita Terkait

Komentar

Kanal Politik & Pemerintahan