Bupati Faida Kecam Pihak yang Tunggangi Aksi GMNI

Jum'at, 14 September 2018 09:54:23
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bupati Faida Kecam Pihak yang Tunggangi Aksi GMNI

Jember (beritajatim.com) - Bupati Faida mengkritik adanya kericihan dalam aksi unjuk rasa menyambut Hari Aksara Internasional oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia beberapa waktu lalu di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia menilai ada pihak yang berupaya menunggani aksi mahasiswa.

"Saya apresiasi mahasiswa mau bergerak berbuat, dan saya mengecam pihak-pihak yang menunggangi idealisme mahasiswa untuk kepentingan-kepentingan lainnya," kata Faida saat ditanya wartawan, usai sidang paripurna Perubahan APBD 2018 di gedung DPRD Jember, Kamis (13/9/2018).

Aktivis GMNI berunjuk rasa di gedung DPRD dan kantor Pemkab Jember, Senin (11/9/2018). Kericuhan sempat terjadi saat mahasiswa melakukan aksi bakar kertas di kantor Pemkab. "Saya pikir itu bukan murni mahasiswa, karena saya tahu mahasiswa GMNI. Mereka anak-anak idealis yang perlu dibina supaya niatan baik dan idealismenya tidak ditunggangi dengan hal-hal yang anarkis, yang merusak nama baik GMNI, dan merusak nama baik idealisme mahasiswa sendiri," kata Faida.

Faida yakin dan percaya dengan niat tulus aktivis GMNI yang memberikan dukungan moral kepada pemerintah daerah untuk mengentaskan buta aksara. "Namun saya mendapat laporan bahwa kegiatan itu disusupi kepentinghan-kepentingan di luar organisasi GMNI. Oleh karenanya saya berharap ini tidak terjadi lagi, karena berisiko anarkis, kebakaran, merusak aset pemerintah, dan itu melanggar atuiran, bisa dipidanakan. Jangan sampai mahasiswa kita yang menjadi aset bangsa ke depan ditunggangi kepentingan-kepentingan orang tak bertanggung jawab," katanya.

Faida mengakui bahwa masih banyak warga Jember yang buta aksara. "Iitu tidak perlu ditutupi karena memang pernah dideklarasikan bahwa Jember bebas buta aksara. Saya kira memang belum. Sampai sekarang memang tersisa ratusan ribu orang (penyandang buta aksara)," katanya.

Kini Faida memerintahkan agar penuntasan buta aksara dilakukan secara gropyokan bersama-sama. Tak ada pembatasan warga yang dilayani dalam jumlah minimal keanggotaan kelompok belajar. "Kalau dulu satu kelompok terdiri dari sepuluh orang. Sekarang satu orang pun dilayani. Kalau dulu mahasiswa bisa menjadi pengusul, sekarang dia bisa jadi eksekutor, bisa jadi tim pengajar," katanya. [wir/suf]

Tag : demo jember

Berita Terkait

Komentar

Kanal Politik & Pemerintahan