Ingin Tahu Kedekatan Pak Harto dan Om Liem (7)

Ini Peran Om Liem dalam Penyelamatan Pertamina

Senin, 27 Agustus 2018 10:21:35
Reporter : Ainur Rohim
Ini Peran Om Liem dalam Penyelamatan Pertamina

Kaki-kaki kekuasaan Soeharto tak hanya bersumber dari sektor ekonomi-bisnis, yang mengandalkan kekuatan taipan Tiongkok yang merambah seluruh sektor bisnis di Indonesia. Dukungan politik dan militer dari kalangan jenderal terpercaya dan terbukti loyalitasnya adalah kekuatan lain yang tak mungkin dinafikan.

Namun demikian, peran strategis Liem Lioe Liong tetap penting dicatat. Yang selama ini tak banyak diketahui publik adalah nilai peran Om Liem dalam penyelamatan PT Pertamina, ketika BUMN migas ini diterjang kasus keuangan akut pada awal 1970-an.

Sebagaimana dikutip dari buku berjudul: Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto, yang ditulis Richard Borsuk dan Nancy Ching (2016), disebutkan bahwa ketika skandal utang PT Pertamina mencuat dan pemerintah terseret dalam gugatan hukum yang menyedot perhatian publik atas tanker-tanker yang dipesan Ibnu Sutowo (Dirut Pertamina), Soeharto berpaling kepada Om Liem untuk membantu berunding dengan raja bisnis kapal tanker dari Swiss yang melayangkan gugatan.

Om Liem mengandalkan anak termudanya, Anthony Salim, untuk bertindak sebagai penerjemah dalam pembicaraan-pembicaraan sangat rahasia, di mana pembicaraan itu berlangsung di Singapura pada Agustus 1977.

"Soeharto menginsyaratkan dilibatkannya Om Liem dalam penyelesaian perkara di luar pengadilan dengan Bruce Rappaport, raja kapal tanker Swiss yang menggugat Indonesia atas kapal-kapal yang tak dibayar pesanan Pertamina senilai USD 1,55 miliar. Jumlah utang itu setara dengan cadangan devisa Indonesia saat itu," tulis Richard dan Nancy.

Masalah utang akut yang terjadi di PT Pertamina itu baru terbuka pada medio Februari 1975. Saat itu, Pertamina gagal membayar utang sebesar USD 40 juta dari satu sindikasi yang dipimpin sebuah bank dari Amerika Serikat. Lalu satu per satu utang Pertamina muncul ke permukaan dan totalnya mencapai USD 10 miliar.

Ketika pemerintah sedang bekerja keras menyelesaikan utang Pertamina, Rappaport menuntut pembayaran promes dalam perjanjian kapal tanker raksasa yang wajib dibayar Sutowo.

"Ternyata Sutowo menandatangani 1.600 lember promes kepada Rappaport untuk menyediakan dana koleteral USD 1,200 miliar yang mengikat PT Pertamina dalam pembelian 34 unit tanker senilai USD 3,3 miliar," tulis Richard dan Nancy.

Bagaimana Om Liem menyelesaikan masalah ini? Richard dan Nancy menulis, pertemuan antara Om Liem dan Rappaport dilakukan di kantor Om Liem yang berada di Singapura. Om Liem didampingi anaknya, Anthony Salim, sebagai penerjemah dan kongsi bisnisnya, Djauhar Sutanto.

Saat Om Liem bertemu dengan raja kapal tanker dari Swiss tersebut, diperoleh kesepakatan untuk menyelesaikan perkara ini di luar pengadilan dengan nilai USD 150 juta. Om Liem mengisyaratkan bersedia membayar USD 120 juta. Namun raja kapal tanker dari Swiss itu bertahan pada angka yang disodorkan, karena dia banyak utang dan didesak mitra bisnisnya untuk menyelesaikan sejumlah kewajiban utangnya.

"Setelah pembicaraan, menurut Insight, Om Liem diam-diam menyarankan pemerintah untuk membayar USD 150 juta dan menghindari pertikaian dan liputan pers lebih jauh atas kasus ini," tambah Richard dan Nancy.

Pada tanggal 11 Agustus 1977, Menteri Radius dan Menteri Sumarlin mengumumkan penyelesaian itu dalam sebuah konferensi pers. Indonesi bersedia membayar USD 150 juta untuk pembatalan kontrak 15 tanker lintas samudera yang mengakibatkan timbulnya gugatan senilai USD 1,55 miliar.

"Sebesar USD 75 juta dibayar kontan dan sisanya dibayar secara mencicil selama 3 tahun," tulis Richard dan Nancy. [air/habis]

Tag : Soeharto, Liem

Berita Terkait

Komentar

Kanal Politik & Pemerintahan