Dandim 0824 Minta MUI Jember Kaji Buku 57 Khutbah Jumat

Selasa, 03 April 2018 19:48:07
Reporter : Oryza A. Wirawan
Dandim 0824 Minta MUI Jember Kaji Buku 57 Khutbah Jumat

Jember (beritajatim.com) - Komandan Distrik Militer 0824 Letnan Kolonel Infantri Arif Munawar menyatakan, pihaknya tidak pernah mendistribusikan buku '57 Khutbah Jumat' yang diterbitkan lembaga 'Islam Integral'.

"Buku itu masih di Markas Kodim. Hanya beberapa yang dikaji, dan justru inisiatif dari kamilah yang meminta Profesor Halim Subahar (Ketua Majelis Ulama Islam Jember) untuk mengkaji buku tersebut," kata Arif, dalam jumpa pers menanggapi kontroversi buku tersebut, di Markas Kodim 0824, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (3/4/2018).

Buku tersebut berjudul lengkap '57 Khutbah Jumat: Runut Logika Agama yang Terpadu dengan Kebangsaan dan Sentuhan Doa', dan mendapatkan kata pengantar dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif. 

Buku ini diterbitkan lembaga Islam Integral yang dipimpin Ali Assegaf. Buku tersebut sempat diluncurkan di Markas Komando Daerah Militer 0824 Jember dalam acara Sarasehan Merekatkan Bangsa Memperkokoh NKRI, Senin (12/3/2018) lalu. Ali meminta bantuan TNI untuk mendistribusikan buku tersebut kepada 2.018 takmir masjid di Jember.

Tujuan Arif meminta MUI Jember mengkaji buku tersebut adalah sebagai langkah antisipasi terhadap efek yang muncul. "Buku itu masih di Makodim sekitar tiga ribu eksemplar dan masih kami amankan. Nanti pun akan kami kembalikan karena tidak relevan dibagi di Jember, dan tidak ada kewenangan kami untuk membagikan. Nanti akan kami kembalikan kepada Kementerian Agama, atau MUI, atau ke orang bersangkutan (Ali Assegaf)," katanya.

Ketua MUI Jember Abdul Halim Subahar mengatakan, MUI butuh waktu tiga hari untuk mengkaji buku itu. Hasilnya, ada indikasi buku tersebut lebih condong mengajarkan paham Syiah.

Ali Assegaf sendiri pernah membantah tudingan ini. "Saya justru menerbitkan buku ini dengan niat baik. Saya ingin negeri ini melawan kelompok intoleran, dan buku ini isinya untuk melawan intoleransi," katanya.

"Kalau (dalam buku itu) ada yang Syiah, ditunjukkan saja yang mana. Apa sih yang disebut Syiah? Kalau ada tulisan yang menyuruh orang bermazhab Syiah atau beraliran Syiah, tunjukkan kepada saya. Ali Bin Abi Thalib khalifah kita. Kalau kemudian menyebut nama Sayyidina Ali tidak boleh, aneh kan?" kata Ali.

Ali mengatakan buku tersebut punya makna, karena jarang ada buku yang menghubungkan Islam dan NKRI. "Karena selama ini dianggap seperti dua rel (yang berjalan sendiri-sendiri)," katanya.

Ali punya alasan minta bantuan TNI untuk mendistribusikan buku itu ke masjid. "Saya menganggap TNI seperti bendera merah putih yang kemudian masuk masjid. Nyambung," katanya. Acara seminar tersebut berlangsung sukses. Ali yakin acara itu sudah diketahui oleh komando yang lebih tinggi. [wir/suf]

Tag : buku khutbah

Berita Terkait

Kanal Politik & Pemerintahan