Hadi Prasetyo: Jatim for Indonesia, bukan Jatim for Jatim

Rabu, 14 Maret 2018 00:09:13
Reporter : Ainur Rohim
Hadi Prasetyo: Jatim for Indonesia, bukan Jatim for Jatim
Hadi Prasetyo, mantan Ketua Bappeprov Jatim.

Surabaya (beritajatim.com)--Ada pandangan menarik disampaikan Ir Hadi Prasetyo, mantan Ketua Bappeprov Jatim, tentang prospek Jatim 5 tahun ke depan.

Dia mengatakan, secara riil dan obyektif, keberadaan dan kontribusi Jatim cakupannya untuk Indonesia, bukan sekadar memenuhi harapan dan tuntutan banyak stakeholders di Jatim.

Pandangan itu disampaikan Hadi Prasetyo ketika ditanya beritajatim.com tentang potensi dan pekerjaan rumah (PR) besar cagub-cawagub Jatim dalam tempo 5 tahun ke depan, Selasa (13/3/2018) malam.

"Jatim tak boleh sekadar untuk Jatim, tapi Jatim for Indonesia. Kesimpulan besarnya seperti itu," tegas Hadi, yang belum lama purnatugas dari Pemprov Jatim.

Hadi yang pernah menduduki sebagai posisi penting di Pemprov Jatim, seperti Ketua Bappeprov, Asisten II (Bidang Ekonomi), dan lainnya, menambahkan, posisi Jatim dalam mapping perekonomian nasional adalah sebagai lokomotif, bukan gerbong.

Tanpa bermaksud takabbur, katanya, posisi Jabar, DKI Jakarta, dan Jatim memberikan kontribusi besar pada gross national product (GNP). "Ini bukan menafikan provinsi lain, lho ya," tukasnya.

Data yang ada menunjukkan, dalam perspektif ekonomi, Jatim menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Data pertumbuhan ekonomi Jatim selalu di atas nasional. Pada 2015, tingkat pertumbuhan ekonomi Jatim dengan 5,44 persen dan 2016 dengan 5,55 persen. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2015 dengan 4,88 persen dan 2016 dengan 5,02 persen.

Data lainnya memperlihatkan, besaran produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim pada 2015 dengan Rp1.692.903 miliar, nasional dengan Rp11.531.700 miliar. Pada 2016, PDRB Jatim dengan Rp1.855.042 miliar dan nasional dengan Rp12.406.800 miliar. Rata- rata kontribusi PDRB Jatim terhadap PDB nasional mencapai 14,5 persen sampai 15 persen. Tingkat PDRB Jatim secara nasional selisih tipis dibanding DKI Jakarta dan jauh di atas PDRB provinsi lainnya di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa.

Hadi menyatakan, dalam peta perekonomian nasional, Jatim berperan sebagai push and pull. Maksudnya, provinsi berpenduduk 38 juta jiwa lebih ini bisa menjalankan peran perekonomian untuk menekan dan menarik pertumbuhan ekonomi tinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia.

"Kan sudah lama Jatim menjadi hub perekonomian Indonesia Timur (Intim). Fakta dan datanya bukan sekadar sebagai hub Intim, tapi push and pull perekonomian Indonesia," tegas Hadi, yang juga alaumni ITB Bandung ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, posisi strategis di sektor hulu migas makin kuat seiring besarnya lifting migas yang dihasilkan dari wilayah kerja pertambangan (WKP) di Jatim. Provinsi ini memberikan kontribusi sekitar 30% lifting minyak nasional yang sekarang berada di kisaran 804 ribu barel per day.

SKK Migas Jabanusa (Jawa, Bali, dan Nusra) memberikan kontribusi pada lifting minyak secara nasional sebesar 30%. Produksi terbesar dihasilkan dari Lapangan Banyu Urip di Kabupaten Bojonegoro, dengan operator Mobil Cepu Limited (MCL), dengan tingkat lifting mencapai 208 ribu barel minyak per hari, dari lifting minyak nasional yang mencapai 804 ribu barel per hari. Lapangan Poleng dan Sukowati, Bojonegoro menghasilkan 10 ribu hingga 15 ribu barel minyak per hari. Sementara itu, lifting gas, sumbangan SKK Jabanusa untuk nasional masih 9 sampai 10 persen, yakni 600 sampai 700 MMSCFD. Gas dihasilkan dari lapangan Kangean Sumenep (KEI), Santos, dan Sampang (HCML). Kini, ada temuan baru dari sumur gas di lapangan Jambaran dan Tiung Biru Bojonegoro yang bisa memproduksi gas sebesar 160 MMSCFD.

"Dengan demikian, Jatim itu berperan sebagai pull sekaligus push perekonomian nasional, bukan sekadar Jatim saja dan Intim," tandas Hadi Prasetyo. [air]

Tag : pilgub jatim

Berita Terkait

Komentar

Kanal Politik & Pemerintahan