Menteri PUPR: Infrastruktur Indonesia Naik Dua Peringkat

Minggu, 13 Agustus 2017 01:11:32
Reporter : Fahrizal Tito
Menteri PUPR: Infrastruktur Indonesia Naik Dua Peringkat

Surabaya (beritajatim.com) - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono MSc PhD mengatakan bahwa daya saing infrastruktur Indonesia dalam konteks global sudah berhasil naik dua peringkat. Saat ini menduduki peringkat 60 dunia. Hal tersebut membuktikan Indonesia bisa progresif dalam hal pembangunan.

"Namun daya saing yang dapat memenangkan itu bukan tentang siapa yang besar atau kecil. Tapi mengenai siapa yang cepat atau lambat. Misalnya kalau cepat murah tapi jelek, tetap aja gak laku. Jika sebaliknya maka akan semakin dicari," ungkap Basuki dalam Seminar Undang-Undang Arsitek di Gedung Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sabtu (12/8/2017).

Dalam rangka meningkatkan daya saing ke depanm Basuki menjelaskan, yakni dengan cara menciptakan arsitektur yang berkualitas, dan terus meningkatankan ilmu pengetahuan, teknologi serta seni.

"Perkembangan infrastruktur yang mendatang jawabannya adalah selain handal dan berkompeten demi rancang bangun indonesia yang sesuai standar kelayakan bangunan. Harus juga kuat, berani dan berjiwa seni, serta harus mempunyai daya improvisasi dan inovasi yang bagus," jelas Doktor Teknik Sipil lulusan Colorado State University, Amerika Serikat ini.

Ia mengungkapkan, UU Arsitek ini merupakan momentum untuk melahirkan arsitek-aristek yang handal serta dapat memberikan landasan dan kepastian hukum bagi arsitek serta pengguna jasa arsitek atau masyarakat umum.

"Tak lupa guna menciptakan sinergi atas pembangunan negara, saya berharap sinergitas antar pemangku kepentingan dan UU mampu menjawab kebutuhan masyarakat di dunia rancang bangun," lanjutnya.

Disinggung keterkaitan antara arsitektur dan karya seni, Basuki berharap setiap karya artsitektur yang diciptakan harus bisa menunjukkan 741 ciri khas budaya suku bangsa yang ada di Indonesia.

Semisal, jika di implementasi di lapangan, bandara-bandara di Indonesia didesain sesuai karakternya masing-masing. "Makanya UU ini menjawab pemasalahan tersebut. Sebisa mungkin harus menonjolkan budaya yang kita miliki, karena hal itu yang harus kita gali terus. Namun saat ini bangunan tersebut hanya tersisa di Bukit Tinggi (Bandara Minangkabau) yang arsitekturnya menyerupai rumah gadang. Di Jawa mestinya kan joglo, tapi malah jadi ruko semua," tukasnya.

Lawatannya ke ITS, menurut Menteri,  juga sebagai ajang bertukar pikiran mengenai Undang-Undang (UU) Arsitek yang baru saja disahkan pada 11 Juli 2017. "UU yang ditunggu-tunggu oleh para arsitek di Indonesia ini sekaligus menjadi pengharapan baru akan terjaminnya profesi  arsitek di Indonesia," tanbahnya.

Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD mendukung penuh dengan disahkannya UU Arsitek oleh DPR RI. Menurut Joni, kendati baru saja disahkan, arsitek harus sudah lebih dulu mengembangkan sisi profesionalnya. Termasuk pula arsitek-arsitek lulusan ITS yang telah berkiprah di berbagai proyek pembangunan.

"UU ini arsitek lebih dilindungi profesinya dan bisa bersaing dengan arsitek di negara lain. Harapan saya, UU Arsitek mampu memberikan manfaat dan marwah atas arsitek-arsitek di Indonesia agar mampu berperan dan berkontribusi lebih atas pembangunan negara," terang Joni di dampingi Kepala Departemen Arsitektur ITS I Gusti Ngurah Antaryama.

Dalam seminar bertajuk UU Arsitek: Menuju Arsitektur Dunia Yang Lebih Baik ini, Joni juga memaparkan berbagai komitmen ITS, untuk meningkatkan arsitektur yang berbasis lingkungan. Misalnya Kampung Improvement Program (KIP) yang berhasil digarap oleh Arsitektur ITS bekerjasama dengan pihak-pihak terkait.

"Sebagai wujud pengabdian, Arsitektur ITS pun menyumbangkan sebuah karya berjudul Insiatif ITS untuk Papua. Gerbang intermodal budaya ini berupa bangunan dengan empat fungsi berbeda, yakni Bandara Internasional, Etalase Budaya, Museum, dan Hotel," katanya.

"Dipilihnya Papua, karena wilayahnya memiliki banyak potensi pariwisata yang belum dikembangkan. Untuk itulah perlu adanya inisiasi pemerintah dan warga sebagai kunci keberhasilan dari peningkatan jumlah wisatawan," tandasnya. [ito/suf]

Tag : menteri, pupr

Berita Terkait

Kanal Politik & Pemerintahan