Buang Sial, Ratusan Warga Diruwat dengan 14 Pertirtaan

Kamis, 13 September 2018 14:19:20
Reporter : Misti P.
Buang Sial, Ratusan Warga Diruwat dengan 14 Pertirtaan

Mojokerto (beritajatim.com) - Ratusan warga mengikuti ruwat sukerta massal di Pendopo Agung Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Kamis (13/9/2018).

Ruwat dilakukan dengan 14 air pertirtaan yang bertujuan untuk membuang sial, mara bahaya dan diharapkan kehidupan yang diruwat ke depan lebih baik lagi.

Ratusan warga yang akan diruwat diminta untuk mengenakan kain kafan yang sudah disiapkan panitia acara.

Dengan menggunakan kain kafan, peserta ruwat akan dipanggil satu per satu untuk mengikuti prosesi ruwat. Dengan memakai bahasa jawa, para peserta ruwat kemudian diguyur dengan air yang berasal dari 14 pertirtaan.

Diantaranya, air pertirtaan Siti Inggil Petilasan Raden Wijaya di Desa Bejijong, air pertirtaan Prabu Hayam Wuruk di Desa Panggih, air pertirtaan Tribuana Tunggal Dewi di Desa Klinterejo, air pertirtaan Sumur Sakti Maha Patih Gajahmada di Desa Beloh, air pertirtaan Sumur Upas di Desa Sentonorejo.

Air pertirtaan Sumber Towo dan air pertirtaan Putri Cempo di Desa Trowulan. Air dari 14 pertirtaan tersebut dicampur dengan tujuh jenis bunga berbeda warna. Yakni mawar, melati, gading, kenongo, kembang pring, kembang rowo dan sedap malam. Air tersebut diberi mantra oleh sesepuh dan diguyur ke kepala para peserta ruwat.

Proses dilanjutkan dengan memotong sedikit rambut. Selesai prosesi, para peserta diminta mandi dan kain kafan yang sebelumnya dikumpulkan untuk dilarung. Terakhir untuk sempurnanya ruwat yakni pargelaran wayang kulit dengan lakon Purwokolo. Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana.

Jadi asal mula dari bencana sehingga diharapkan agar anak cucu Adam yang dianggap apes karena lahirnya agar tidak sial atau selamat. Ada 60 jenis kelahiran yang harus diruwat. Diantaranya, ontang-anting (satu laki-laki atau satu perempuan).

Gentono-gentini (dua anak laki-laki dan perempuan), sendang keapit pancuran (tiga anak, laki-laki-perempuan-laki-laki), pancuran kaapit sendang (anak tiga, perempuan-laki-laki-perempuan) dan lain sebagainya.

Ki Wiro Kadek Wongso Jumeno dari Trasih 87 mengatakan, ruwat adalah pembersihan energi negatif dari dalam diri manusia dikeluarkan. "Baik dari orang lain maupun dari diri sendiri dikeluarkan melalui media dari pertirtaan dan diberi mantra dimandikan ke peserta ruwat," ungkapnya.

Masih kata Ki Wiro Kadek, air yang digunakan untuk penyiraman ke peserta ruwat berasal dari 14 pertirtaan. Semua dikumpulkan jadi satu, karena 14 adalah simbol perjalanan. Sementara hakekat ruwat sendiri yakni untuk menghindarikan dari malapetaka dan mengeluarkan bala dari manusia.[tin/ted]

Tag : suro

Berita Terkait

Komentar

Kanal Peristiwa