Ledakan Bom Surabaya Itu Berawal dari NII

Rabu, 16 Mei 2018 16:18:57
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Ledakan Bom Surabaya Itu Berawal dari NII
Gereja di Ngagel Madya Surabaya yang dibom oleh teroris.

Surabaya (beritajatim.com) - Peristiwa rentetan bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo tiga hari terakhir belakangan ini dilakukan oleh keluarga yang berpendidikan baik dan berkecukupan.

Sebut saja keluarga Dita Oepriarto, Puji Kuswati dan empat anaknya, pelaku bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya adalah jebolan sekolah-sekolah favorit di Surabaya. Apa yang menyebabkan mereka hingga senekad itu dan doktrinasi apa yang membuat Dita hingga melibatkan empat orang anaknya sebagai pelaku sekaligus korban doktrin?

Beritajatim.com berhasil menarik benang merah bahwa ini ada hubungannya dengan Negara Islam Indonesia (NII). NII memang seperti kawah candradimuka dan penyemaian bibit-bibit baru teroris. Diklatsar Teroris itu ya NII. NII menghalalkan perampokan dan mencuri, asal untuk negara. Dita merupakan aktivis jebolan NII.

Ini seperti yang diungkapkan adik kelas Dita, Ahmad Faiz Zainuddin, saat bersekolah di SMA 5 Surabaya, 30 tahun silam. Dita adalah lulusan 1991.

Melalui tulisannya yang diperoleh beritajatim.com dan banyak beredar viral ini, Ahmad Faiz Zainuddin tidak cuma menceritakan Dita yang bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya.

"Keluarga yang nampak baik-baik dan normal seperti keluarga muslim yang lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata di benaknya telah tertanam paham radikal ekstrim," jelasnya.

Ahmad Faiz juga menceritakan masalah besar membahayakan kita semua, bahwa bibir radikal itu tersebar dengan massif di sekolah-sekolah dan kampus-kampus.

Berikut kutipan tulisannya:

Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar-benar terjadi saat ini. Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis Islam ke kelompok aktivis Islam yang lain.

"Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian Cinta dan Tauhid Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yang lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya. Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih-benih ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang-perangan. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi Islam garis keras. Pernah di satu pengajian saat saya kuliahr, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash (cuci otak) tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia (NII). Dan untuk menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita untuk disetor ke mereka". baca https://www.facebook.com/AhmadFaizZainuddin/posts/1090116147794565


Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian telah menugaskan Kapolda Bali Irjen Pol Petrus R Golose untuk terjun ke Surabaya. Petrus diketahui hadir saat penggerebakan teroris di Jalan Sikatan, Manukan Wetan Tandes Surabaya, Selasa (15/5/2018) malam. Mengapa Petrus yang diterjunkan?

Ini karena Petrus pernah berbicara soal skema metamorfosis kelompok radikal di Indonesia. Petrus mengatakan jaringan teroris di Indonesia berawal dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Mantan Deputi Bidang Kerjasama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) itu pernah menjadi pembicara seminar bertajuk 'Cara Terbaik Menangani Terorisme' yang diprakarsai Mahasiswa Program Doktoral STIK/PTIK. Petrus ketika itu menggantikan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sebagai pembicara.

"Metamorfosis dari jaringan teroris Indonesia berawal dari kelompok Darul Islam atau Negara Islam Indonesia," kata Petrus di Jakarta pada akhir Februari 2018.

Petrus mengatakan Kelompok Darul Islam kemudian terpecah dan berdirilah kelompok Jamaah Islamiyah atau JI pada 1 Januari 1993. Kelompok ini kemudian berkembang dan berganti sebutan menjadi kelompok Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada 5 Agustus 2000.

Pada September 2008, kelompok Majelis Mujahidin Indonesia atau MMI berkembang dan dikenal dengan sebutan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Masih kata Petrus, sementara kelompok NII dalam perkembangannya eksis dengan sebutan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Dari JAT dan MIB, tambah dia, kemudian berkembang jaringan-jaringan teroris Jamaah Anshorut Syariah (JAS), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).

"Dari keduanya (JAT dan MIB) kemudian muncul jaringan-jaringan teroris JAS, MIT, JAD dan JAK," tukas Petrus.

Beritajatim.com pun mencoba membuka file lama ketika pernah mewawancarai mantan aktivis NII di Surabaya, ketika itu booming gerakan NII KW IX milik Panji Gumilang.

Saat itu, Indonesia sedang dihebohkan berita hilangnya puluhan mahasiswa yang menjadi korban 'cuci otak' Negara Islam Indonesia (NII). Korban indoktrinisasi NII harus rela merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah untuk biaya 'hijrah' atau menjalani proses baiat di sebuah tempat misterius Jakarta.

Salah seorang mantan pengikut NII di Surabaya sebut saja bernama Habibi menceritakan pengalamannya. Lelaki bertubuh tegap berusia 30 tahun ini pernah jatuh dalam 'pelukan' NII pada bulan April tahun 2000 silam. Dirinya mengaku tertarik ikut kelompok NII karena ajakan seorang temannya semasa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

"Saya prihatin dengan kejadian menimpa beberapa mahasiswa yang jadi korban NII akhir-akhir ini. Untuk itu, saya mau berbagi cerita dengan anda tentang pengalaman saya direkrut NII dulu," kata Habibi (bukan nama sebenarnya) kepada beritajatim.com sekitar medio tahun 2011.

Menurut ayah dua anak ini, aksi 'cuci otak' NII yang terjadi saat ini bukanlah hal yang baru. Sejak tahun 2000 silam, gerakan itu sudah berlangsung secara masif, terstruktur dan sistematis dilakukan di Surabaya dan sekitarnya. Bahkan, lokasi untuk mencuci otak para mangsanya, kiai-kiai NII berpindah-pindah tempat agar tidak diendus aparat kepolisian.

"Ada teman sekelas di SMK yang mengajak saya ikut sebuah pengajian. Supaya tertarik, saya dijanjikan akan dikenalkan banyak gadis cantik berjilbab. Saya langsung tertarik, karena waktu itu memang belum punya pacar. Apalagi, gadis berjilbab adalah idaman saya," ujar Habibi.

Dia menceritakan teman yang mengajaknya telah lebih dulu masuk jaringan NII. Bahkan, temannya itu telah dibaiat ke Jakarta dan berganti nama baru yang berbau Islami.

"Teman saya juga sudah menikah dengan sesama pengikut NII. Bahkan, istrinya adalah anak ustadz NII di kawasan Surabaya Timur. Saya sudah lama tidak berkomunikasi dengannya, tetapi sepertinya dia sudah keluar dari NII dan pindah alamat rumah. Ini agar tidak dikejar-kejar aparat NII dan ditagih membayar infaq rutin bulanan," imbuhnya.

Habibi mulai menuturkan kisahnya saat mengikuti pengajian pertama di kawasan Surabaya Timur yang berkedok sebuah perguruan Pencak Silat. Dirinya membayangkan pengajian itu seperti pengajian pada umumnya yang membahas tafsir Alquran atau melantunkan ayat-ayat istighosah.

Tetapi, dirinya malah disodori sejumlah kitab ajaran Kartosuwiryo yang dikenal pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII). Ketika itu, dirinya bersama sekitar 5 santri 'anggota baru' dan diajar langsung 3 orang ustadz NII.

"Ada papan tulis putih yang dibentangkan dengan tulisan Makkah dan Madinah. Makkah disamakan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Madinah diartikan NII. Di bagian tengah gambar ada kata-kata Hijrah, yang artinya kita diminta Hijrah untuk menuju kesempurnaan iman dari NKRI ke NII. Katanya itu sama seperti Nabi Muhammad ketika Hijrah dari Makkah ke Madinah," tuturnya dan menyebutkan ustadz NII juga menyampaikan beberapa ayat Alquran yang dipelintir untuk kepentingan sesat.

Habibi juga diberikan perumpamaan-perumpamaan oleh ustadz NII yang mudah diingat saat proses cuci otak. Contohnya, seperti sebuah apel yang diletakkan di atas tong sampah.

"Saya ditanya apakah anda akan memakan apel itu. Saya bilang tidak. Ustadz itu bilang, supaya bisa dimakan apel itu harus 'dicuci' dulu dan diletakkan di atas meja yang bersih. Ustadz bilang tong sampah itu ya Indonesia, apel di atas tong sampah adalah orang-orang Islam yang belum masuk NII. Meja yang bersih adalah NII dan proses pencucian apel itu namanya baiat atau hijrah," ulasnya menirukan pernyataan ustadz.

Dengan kondisi NKRI yang dianalogikan sebagai tong sampah, ustadz NII ingin menyampaikan makna yang terkandung di dalamnya. Yakni, ibadah shalat, puasa, sedekah dan naik haji yang dilaksanakan umat Islam di Indonesia dibilang tidak sah dan tidak akan diterima Allah SWT.

"Percuma anda beribadah shalat dan pergi haji dengan biaya mahal. Karena kalian masih tinggal di negara kafir dan kotor seperti Indonesia. Semua itu tidak sah dan sia-sia. Anda harus hijrah, dengan cara pergi baiat ke Jakarta," lanjut dia menirukan pesan ustadz NII.

Habibi mengaku dirinya sangat kritis ketika mendapat indoktrinisasi ajaran-ajaran NII yang menyimpang dari ajaran Islam tersebut. "Saya pernah protes kepada ustadz itu. Saya bilang Pak Ustadz tahu darimana ibadah salat kita diterima atau tidak sah di mata Allah SWT. Ustadz itu akhirnya mengalihkan pembicaraan kalau saya ditawari sebagai kepala kepolisian di Surabaya, karena badan saya tinggi besar," imbuhnya.

Indoktrinasi NII seperti yang dialami Habibi inilah yang merasuki pikiran dari Dita dan keluarganya. Dia berasal dari keluarga terpandang dan berpendidikan, tapi nekad melakukan pengeboman bunuh diri. [tok/but]

Tag : bom surabaya

Berita Terkait

Komentar

Kanal Peristiwa