Inilah Sosok Abdul Azis, Korban Teror Hoax Kiai Ponpes Al Falah Kediri

Rabu, 28 Februari 2018 19:43:49
Reporter : Nanang Masyhari
Inilah Sosok Abdul Azis, Korban Teror Hoax Kiai Ponpes Al Falah Kediri

Kediri (beritajatim.com) - Kasus teror terhadap kiai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah di Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri yang dinyatakan hoax alias kabar bohong menyita perhatian masyarakat Indonesia, bahkan dunia Internasional. Pasalnya, momentum kejadiannya berbarengan dengan teror ulama di sejumlah daerah yang dilakukan oleh orang gila yang menggegerkan.

Ada satu orang sosok pria yang sempat menjadi viral di media sosial karena dituduh sebagai pelaku. Fotonya menyebar kemana-mana. Padahal dia sebenarnya justru korban salah tangkap. Dialah Abdul Azis. Lalu siapa sebenarnya pria keturunan Cina ini?

Abdul Azis diamankan pihak keamanan Ponpes Al Falah, pada Senin (19/2/2018) sore lalu. Dia diduga hendak mencelakai KH Nurul Huda Djazuli dan KH Zainuddin Djazuli, kiai di Ponpes Al Falah, Ploso Kediri. Dugaan aksi teror ini terjadi karena Azis melakukan gerak-gerik mencurigakan di depan pesantren.

Sementara, penangkapan Aziz turut dipengaruhi isu penyerangan kiai yang santer terjadi di Indonesia, maupun di Jawa Timur. Hal ini lah yang membuat warga pesantren terutama santri menjadi lebih waspada terhadap gerak-gerik yang terjadi di ponpesnya.

Tetapi tindakan represiv pihak keamanan pondok ini tidak lepas dari pengaruh keterangan Riyantono Gempol (47) tamu pesantren asal Kabupaten Ngawi. Dia mengarang cerita palsu, apabila dirinya baru saja diancam oleh tiga orang pria berbadan kekar dengan membawa pisau yang hendak menyerang para kiai.

Abdul Azis kemudian dibawa ke Polresta Kediri dan ke Polda Jawa Timur untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Dia sempat dituduh gila, yang dikait-kaitkan dengan peristiwa di daerah lain. Tetapi, kenyataannya Azis dinyatakan waras.

Hasil ini berdasarkan pemeriksaan tim dokter Polda Jatim yang telah dilakukan selama dua hari terakhir di RS Bhayangkara, Surabaya.

"Hasil pemeriksaan oleh tiga dokter di RS Bhayangkara Surabaya Abdul Azis dinyatakan tidak gila, sehingga keterangannya bisa dipakai dalam proses penyelidikan," kata Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, Selasa (28/1/2018).

Dijelaskan Kapolresta, Abdul Azis berasal dari Situbondo. Pria bermata sipit ini lahir dari keluarga keturunan China. Tetapi, saat masih dalam kandungan, orang tuanya bercerai.

Akibat broken home, Azis kecil diasuh oleh bibi nya yang bernama Azizah, nama islami. Akhirnya dia mengikuti jejak sang bibi menjadi seorang mualaf. Azis sempat nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Assidiqiyah di Situbondo.

Sejak itu Azis menjalani hari-harinya dengan pergi dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tujuannya untuk mendapatkan doa dan sedekah dari kiai.

Azis pergi ke berbagai pesantren dengan berjalan kaki. Sesekali dia naik angkutan umum, apabila masih menyimpan uang. Sejumlah pesantren di tempat tinggalnya sudah pernah dikunjungi.

"Kalau di daerah Tapal Kuda dan Madura sudah banyak yang tahu siapa Abdul Azis ini. Kegiatannya memang dari pondok ke pondok untuk mendapatkan sedekah dan doa," jelas perwira Polri dengan mawar dua di pundaknya ini.

Kapolresta menjelaskan, sebelum pergi ke Ponpes Al Falah, sebenarnya Abdul Azis sempat mampir di beberapa pesantren besar di Kota Kediri. Seperti di pondoknya Gus Lik maupun Ponpes Lirboyo, Kota Kediri.

"Malam hari sebelum ke Ploso ini, Azis sempat sowan ke Gus Lik, tengah malam. Jadi dia memang pergi ke pondok pesantren satu ke pesantren lainnya. Dia waras, tetapi mohon maaf IQ nya memang agak rendah," jelas Kapolresta.

Azis diamankan oleh kamtib Ponpes Ploso sesaat setelah sowan ke Gus Robert, salah satu kiai. Seperti ke pondok pondok lainnya, dia minta doa dan sedekah lalu pergi. Ketika bertemu dengan Gus Robert, dia diberi uang Rp 100 ribu, kemudian meninggalkan pondok.

Tetapi oleh pihak keamanan, Azis dibuntuti dari belakang. Karena gerak geriknya dianggap mencurigakan, seperti orang gila, akhirnya dia diamankan. Tetapi dalam penggeledahan, tidak ditemukan senjata tajam di tubuhnya, melainkan hanya uang Rp 50 ribu.

Abdul Azis sebenarnya adalah korban dari cerita palsu Riyantono Gempol. Dia menjadi korban salah tangkap. Sampai saat ini, Azis masih berada di lingkungan Mapolresta Kediri. Polisi belum mengizinkannya pergi karena masih terus dimintai keterangan.

"Kami tidak melakukan penahanan terhadap Abdul Azis. Biarkan dia nyantri dulu disini di tempatnya Gus Ridwan (Ridwan Sahara, Kasat Reskrim Polresta Kediri)," ucap Kapolresta dengan bahasa bercanda.

Menurutnya, Abdul Azis adalah korban dari keterangan palsu Riyantono. Tetapi untuk penanganan hukum terhadap Riyantono sendiri yang telah memberikan keterangan bohong, kata Kapolresta akan diserahkan ke Polda Jawa Timur. Pihaknya masih menunggu arahan oleh institusi di atasnya.

"Perlu diketahui bersama Riyantono adalah saksi pelapor. Dan dari hasil penyelidikan, unsur pidananya tidak terbukti, sehingga kasus ini kami hentikan atau SP3. Adapun terkait keterangan palsu Riyantono kami masih menunggu arahan dari Polda Jatim," tegas Kapolresta.

Kapolresta mengaku, sudah curiga dengan Riyantono. Sejak awal penyelidikan, keterangannya selalu berubah-ubah. Tetapi kepolisian tidak gegabah. Sedikitnya ada delapan saksi yang dimintai keterangan terkait kasus ini.

Riyantono akhirnya mengakui kesalahannya, sewaktu keterangannya dikonfrontir dengan rekaman kamera CCTV yang diperoleh kepolisian. Sore itu, Senin (19/2/2018) Riyantono terlihat berjalan sendirian sambil bermain Handphone (HP) tanpa ada sosok tiga pria yang disebutkan.

Sementara itu, dari Keluarga Besar Ponpes Al Falah Ploso memaafkan perbuatan Riyantono karena dianggap spontanitas dan khilaf. Pihak pondok tidak akan memperpanjang persoalan ini dengan melaporkan Riyantono. [nng/but]

Tag : penyerangan

Berita Terkait

Komentar

Kanal Peristiwa