Tekan Angka Kematian, RSD dr. Soebandi Surati BPJS Kesehatan

Rabu, 10 Oktober 2018 18:57:16
Reporter : Oryza A. Wirawan
Tekan Angka Kematian, RSD dr. Soebandi Surati BPJS Kesehatan

Jember (beritajatim.com) - Direksi Rumah Sakit dr. Soebandi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, melayangkan surat kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, untuk menekan angka kematian pasien.

Saat ini, rata-rata tingkat kematian kasar adalah 84 kematian per seribu pasien keluar rumah sakit. Jumlah kunjungan pasien di RSD dr. Soebandi dalam setahun adalah 24 ribu orang. Ini artinya, kematian di RSD dr. Soebandi mencapai kurang lebih 1.700 kejadian.

Salah satu penyebab kematian adalah terlambatnya penanganan karena sistem rujukan yang diterapkan BPJS Kesehatan. Menurut aturan BPJS, setiap pasien tidak boleh langsung ke RS dr. Soebandi yang bertipe B, tapi harus ke rumah sakit tipe C lebih dulu. "Kecuali yang gawat darurat. Pengaruhnya, untuk kasus-kasus kronis yang butuh penanganan spesialistik, khusus, terpaksa estafet. Yang seharusnya responsnya bisa lebih cepat, terpaksa bertahap," kata Direktur Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi, Hendro Soelistijono, Rabu (10/10/2018).

"Terus, yang kami juga agak kerepotan adalah pasien yang sudah kami siapkan untuk dioperasi, sudah kami periksa awal lengkap, giliran dioperasi, ternyata tidak mendapat rujukan, karena dirujuk ke rumah sakit lain. Ini karena model rujukan BPJS seperti itu, sehingga mereka (pasien) terpaksa periksa ulang lagi dari awal. Padahal di tempat kami datanya sudah lengkap dan sudah siap untuk operasi," kata Hendro.

"Kami sudah bersurat ke BPJS, agar untuk kasus-kasus tertentu ada pengecualian, sehingga mereka yang sudah siap untuk operasi, bisa langsung mendapat pelayanan di Subandi, tanpa harus dirujuk ke rumah sakit tipe C," kata Hendro. Dia mengakui, ini persoalan sulit karena menyangkut kebijakan pemerintah. [wir/kun]

Tag : bpjs

Berita Terkait

Komentar

Kanal Pendidikan & Kesehatan