Kementerian LHK Paparkan Hasil Audit Dugaan Masalah Limbah B3 di PT PRIA

Rabu, 10 Oktober 2018 14:55:49
Reporter : Misti P.
Kementerian LHK Paparkan Hasil Audit Dugaan Masalah Limbah B3 di PT PRIA

Mojokerto (beritajatim.com) - Di ruang Satya Bina Karya (SBK) Pemkab Mojokerto, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memaparkan hasil audit dugaan masalah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di pabrik pengolahan limbah B3 PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Rabu (10/10/2018).

Di hadapan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, Asisten II Pemkab Mojokerto, perwakilan Dandim 0815 Mojokerto, perwakilan Polres Mojokerto Kota dan pihak terkait, KLHK memaparkan hasil audit yang dilakukan oleh auditor independen berdasarkan kualifikasi yg diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan, KLHK, Ari Sugianto mengatakan, pihaknya melakukan audit karena terjadi pencemaran dan mengakibatkan penyakit gatal-gatal di masyarakat yang disebabkan limbah dari PT PRIA. "Auditor yang menetapkan itu adalah BNSP. Kami hanya menerima auditor yang BNSP tunjukan dan dikter juga ada. Yakni dokter spesialis kulit RSAL," ungkapnya.

Masih kata Ari, dari hasil audit tidak ditemukan hubungan antara penyakit masyarakat (gatal-gatal) dengan aktivitas di PT PRIA terutama terkait adanya penyebaran melalui media air. Secara hidrogeologis aliran air tanah, lanjut Ari, tidak ada hubungan antara air tanah PT PRIA dan air yang digunakan masyarakat.

"Kemudian hasil dari analisis kandungan kontaminan logam berat di pemukiman dan PT PRIA masih sesuai dengan tanah pelapis dasar. Bahkan kalau ada yang lebih itu masih tergolong limbah bukan B3. Hasil konsentrasi kontaminan di pemukiman dan PT PRIA, konsentrasinya masih dalam batas yang diinginkan," ujarnya.

Ari menjelaskan, jika tidak sampai pada intervention velue atau nilai dimana harus dilakukan tindakan remediasi atau pembingkaran. Dari hasil audit ini, diduga penyakit kulit yang diderita masyarakat diakibatkan debu yang tersebar dari limbah yang tertimbun di rumah penduduk atau di halaman penduduk.

"Karena penyakit kulit yang disebabkan non biologis eksternal. Untuk pengolahan limbah, PT PRIA memang tidak tertutup. Yang dilakukan PT PRIA yakni melakukan pemanfaatan fly ass bottom ass untuk batako, itu adalah salah satu upaya untuk encapsulasi. Limbah yang diduga menjadi sumber tencemar ternyata punya kandungan konsentrasi yang rendah," jelasnya.

Ari menambahkan, kemampuan untuk larut ke air rendah. Menurutnya, dari sisi sumbernya sudah tidak meyakinkan.Aliran air tanah dari PT PRIA, tidak sampai ke lensa sumber air di dalam tanah sehingga tidak mungkin sampai ke arah pemukiman warga. Pasalnya, hasil sample tanah yang diambil sebagian besar memenuhi kriteria air bersih.

"Ada satu sumur milik warga yang tidak memenuhi tapi itu memang dari dulu seperti itu. Dari hasil audit tidak ditemukan hubungan antara penyakit masyarakat dengan aktivitas di PT PRIA terutama terkait adanya penyebaran melalui media air. Secara hidrogeologis aliran air tanah, tidak ada hubungan antara air tanah PT PRIA dan air yang digunakan masyarakat," tegasnya. [tin/but]

Tag : lingkungan

Berita Terkait

Komentar

Kanal Pendidikan & Kesehatan