Anak-anak Indonesia Tumbuh dalam Lingkungan Kekerasan Fisik dan Verbal

Jum'at, 27 Juli 2018 20:58:23
Reporter : M Jakariya
Anak-anak Indonesia Tumbuh dalam Lingkungan Kekerasan Fisik dan Verbal

Surabaya (beritajatim.com) - DR Franz Marcus Direktur perlindungan anak dari Kindermissionwerk Die Strensinger memberikan seminar masalah peran universitas dalam pengambilan kebijakan perlindungan anak di Rektorat Unair kampus C Surabaya.

Dalam seminar yang menggunakan dua bahasa ini (Inggris-Indonesia), Yuliati Umrah, Direktur yayasan ALIT, selaku pembicara pertama, menjelaskan tentang bagaimana kondisi anak-anak di Indonesia yang sebagian besar tumbuh dalam kekerasan baik verbal maupun fisik, dimana bulliying menjadi hal yang wajar dalam mengikuti tumbuh kembang anak-anak di Indonesia.

Alumni  FISIP UNAIR ini juga menjelaskan bahwa bulliying dan kekerasan pada anak lainnya justru terjadi dalam ruang-ruang terbuka seperti sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya.

“Ambil contoh, anak-anak yang saya bina dalam yayasan ALIT di Flores, mereka dulu adalah anak-anak yang mengalami kekerasan bulliying, sehingga mereka begitu takut dan tidak percaya diri dengan hidup yang mereka punya. Setelah kami arahkan, kami bina, kami berikan ruang untuk bicara dan berekspresi , akhirnya perlahan-lahan mereka mulai menjalani kehidupan lebih baik. Maka harapan saya, universitas dan seluruh civitas akademis harus memikirkan dan melakukan riset bagaimana menciptakan lingkungan yang benar-benar peduli terhadap anak-anak” tambahnya.

Franz, memulai pembicaraan dengan mempromosikan organisasi yang dibinanya, kindermissionwerk.

Organisasi anak yang berasal dari Jerman ini berfokus pada perlindungan anak-anak di dunia baik dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur.

Salah satu progamnya adalah dari anak untuk anak, dimana progam ini merupakan kumpulan donasi dari anak-anak di Jerman yang dikumpulkan ketika Natal dan tahun baru untuk dibagikan ke anak-anak di setiap negara-negara yang membutuhkan.

“Kami menawarkan progam kerjasama dengan UNAIR untuk ikut aktif berpartisipasi sebagai universitas yang peduli terhadap perlindungan anak. Kami menawarkan kerja sama dalam bentuk kuliah singkat atau pelatihan dan seminar dengan Universitas Pointificia Gregoriana. Kampus ini merupakan kampus pertama di dunia yang membuka jurusan tentang perlindungan anak, sehingga kampus kami sangat cocok bagi akademisi yang ingin berfokus pada  kajian perlindungan anak” ujar Claudia Rupp selaku penterjemah.

Di sesi terakhir Dr Pinky Saptandari selaku dosen FISIP UNAIR memberikan penjelasan singkat tentang beberapa peran universitas dalam masalah perlindungan anak.

“Hal mendasar dari peran universitas untuk anak-anak merupakan bentuk konkrit dari tridama perguruan tinggi. Kami juga berharap nantinya UNAIR akan membangun suatu laboratorium khusus untuk kajian interdisipliner permasalahan anak. Sehingga universitas akan melahirkan calon orang tua yang sangat peduli dengan tumbuh kembang anak-anaknya serta dapat menciptakan lingkungan yang layak dan ramah untuk anak” tutupnya. [jka/ted]

Tag : unair

Berita Terkait

Komentar

Kanal Pendidikan & Kesehatan