Kenalkan Kampus 3 Ubaya ke Masyarakat

Ubaya Edu Argrowisata dan Ubaya Penanggungan Center Diresmikan

Minggu, 11 Maret 2018 19:33:23
Reporter : Misti P.
Ubaya Edu Argrowisata dan Ubaya Penanggungan Center Diresmikan

Mojokerto (beritajatim.com) - Untuk mengenalkan lebih dekat Kampus 3 Universitas Surabaya (Ubaya) di Desa Tamiajeng, Kacamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Ubaya Edu Agrowisata dan Ubaya Penanggungan Center (UPC)  diresmikan. Ini sekaligus menandai dies natalis Ubaya ke 50.

Yakni dengan menyempurnakan kampus 3 Ubaya yang terletak di kaki Gunung Penanggungan. Konsep pendidikan yang dikembangkan Ubaya yakni pembelajaran di dalam dan di luar kampus sehingga mahasiswa bisa berinteraksi dengan masyarakat.

Rektor Ubaya, Prof Ir Joniarto Parung MMBAT, Ph D mengatakan, UPC diharapkan menjadi pusat informasi terkait situs maupun peninggalan yang lain di Gunung Penanggungan. "Karena di Gunung Penanggungan banyak memuat situs Kerajaan Airlangga dan Majapahit," ungkapnya.

Jika masyarakat ingin naik ke Gunung Penanggungan bisa datang ke UPC untuk melihat informasi fisik sebelum melihat fisik. Koleksi di UPC ada 100 situs dengan 300 foto, seperti pertapaan, pemujaan, situs yang digunakan para sesepuh Kerajaan Majapahit dan Airlangga mencari inspirasi.

"Harapan kita pemerintah melalui BPCB yang memiliki hak bisa meminjamkan agar barang yang diambil dari Gunung Penanggungan bisa dipamerkan disini. Masyarakat bisa datang kesini, tanpa dipungut biaya. Ini sebagai wujud kepedulian Ubaya terhadap situs Gunung Penanggungan," katanya.

Untuk Ubaya Edu Agrowisata, ada tiga kebun yang akan dibuka secara umum dan dapat dikunjungi semua kalangan usia. Kebun pertama yakni petik salak hasil kawin silang jenis pondoh. Joniarto menambahkan, pemilihan salak sendiri karena tanaman salak bisa menahan air dengan cara ditampung.

"Penanaman salak sendiri sudah dikembangkan Ubaya sejak 20 tahun yang lalu. Tujuannya yakni konservasi, 20 tahun para petani diberikan pelatihan di Jawa Tengah dengan cara dibelikan bibit salak untuk diberikan ke masyarakat. Jika berbuah maka diminta diberikan ke yang lain," ujarnya.

Masih kata Joniarto, tiket masuk belum ditetapkan antara Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per orang. Masyarakat yang masuk Ubaya Edu Agrowisata bisa makan sepuasnya, namun jika ingin membawa pulang maka akan membeli dengan harga di pasaran. 

"Untuk kebun salak, saat ini yang sudah berbuah ada 6 hektar. Masyarakat dapat melihat, belajar dan mencari informasi pengetahuan mengenai salak. Tak hanya kebun salak, juga ada kebun kakao atau coklat jenis bulk dan kopi liberika yang banyak terdapat di Trawas," tuturnya.

Kopi jenis liberika tersebut ditanam di lahan seluas 1,5 hektar dan saat ini sudah berbuah, sementara kebun kakao seluas 2 hektar. Dari ketiga kebun tersebut, semua bisa dinikmati produk jadinya seperti coklat hangat, kopi bubuk dan masyarakat bisa membeli untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.

"Petik coklat rencananya dua tahun lagi akan dibuka, namun untuk petik salak dan kakao sudah dibuka karena sudah berbuah. Ubaya kerjasama dengan masyarakat sekitar karena banyak petani kopi di Trawas sehingga banyak produk masyarakat yang bisa ditemui di Ubaya Edu Argrowisata," urainya.

Joniarto menambahkan, Ubaya akan membangun argo khusus buah jenis klengkeng, blimbing dan biogas yang dibiaya oleh Dikti. Ubaya akan membeli sapi dan kambing yang kotorannya dibuat biogas untuk penerangan, semua akan dilakukan pada akhir tahun 2018 ini dan sudah dibebaskan lahan seluas 1 hektar untuk percontohan.

Tak hanya meresmikan Ubaya Edu Agrowisata dan UPC saja, dalam kesempatan tersebut juga diikuti dengan pemasangan candrasengkala, gapura pada gerbang utama Integrated Outdoor Center (IOC). Dilanjutkan pagelaran wayang kulit oleh dalang Aneng Kiswantoro yang merupakan dosen ISI Yogjakarta dengan lakon Dewaruci dan Bima Suci.[tin/kun]

Tag : ubaya

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan