Jadi Garda Terdepan, 71 Bidan Delima Dikukuhkan

Sabtu, 24 Februari 2018 16:37:12
Reporter : Misti P.
Jadi Garda Terdepan, 71 Bidan Delima Dikukuhkan

Mojokerto (beritajatim.com) - Mengusung tema "Bidan Garda Terdepan Mengawal Kesehatan Maternal Neonatal melalui Gerakan Masyarakat Sehat dan Pelayanan Berkualitas", sebanyak 71 orang bidan praktek mandiri resmi dikukuhkan sebagai Bidan Delima di Pendopo Graha Majatama, Pemkab Mojokerto.

Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Bidan Indonesia (PC IBI) Kabupaten Mojokerto, Rany Juliastuti mengatakan, sampai dengan tahun 2017, di Kabupaten Mojokerto tercatat ada 97 Bidan Delima. "Kita ada 435 orang praktek mandiri bidan dan 97 Bidan Delima sampai dengan tahun 2017," ungkapnya, Sabtu (24/2/2018).

Tahun 2016, lanjut Rany, ada 93 orang praktek mandiri bidan tapi yang sudah lulus baik kualifikasi maupun validasi. Sebanyak 71 orang yang dikukuhkan hari ini. Secara teknis, lanjut Rany, syarat menjadi Bidan Delima ada beberapa yang nantinya akan divalidasi oleh fasilitator.

"Yakni mendaftar di pengurus cabang, mengisi formulir pra-kualifikasi, belajar dari buku kajian mandiri dan mendapat bimbingan dari fasilitator, barulah divalidasi oleh fasilitator dan diberi umpan balik. Kegiatan validasi tidak saja dalam sarana dan prasarana," katanya.

Namun juga meliputi semua pelayanan yang diberikan seorang bidan praktek mandiri. Apabila hasil validasi menyatakan seorang bidan praktek mandiri telah memenuhi standar maka dapat diberikan sertifikat sebagai Bidan Delima.

Manajer Unit Pelaksana Bidan Delima (UPBD) Provinsi Jawa Timur, Roementah mengatakan, Bidan Delima adalah sistem standarisasi kualitas pelayanan bidan praktek swasta. "Dengan penekanan pada kegiatan monitoring dan evaluasi serta kegiatan pembinaan disertai pelatihan yang rutin dan berkesinambungan," tuturnya.

Bidan Delima juga merupakan program unggulan sejak tahun 2003 yang melambangkan pelayanan berkualitas dalam kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB) yang berlandaskan kasih sayang, sopan santun, ramah-tamah, sentuhan yang manusiawi, terjangkau.

"Dengan tindakan kebidanan sesuai standar dan kode etik profesi. Bidan Delima berkomitmen untuk mengedepankan pelayanan berkualitas pada masyarakat. Tujuan utamanya adalah bagaimana masyarakat bisa terayomi," ujarnya.

Perlu diketahui, papar Roementah,  masih ada enam provinsi yang belum ada Bidan Delima karena masalah jumlah prakteknya. Enam provinsi tersebut antara lain Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto, Ikfina Kamal Pasa mengatakan, jika bidan ibarat sebuah ujung tombak. "Bidan juga merupakan salah satu profesi kesehatan yang sangat dekat dengan pemerintah. Pengukuhan ini membuktikannya," tegasnya.

Yakni bahwa Bidan Delima memang telah dinilai mampu dalam pemenuhan standar pelayanan kesehatan. Yakni dengan kualitas yang baik dan prima kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin yang membacakan sambutan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa memposisikan bidan sebagai salah satu mitra pemerintah dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

"Serta penanggulangan masalah gizi balita dan ibu hamil. Bidan adalah bagian dari pemerintah, khusunya dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta penanggulangan masalah gizi balita dan ibu hamil serta kesehatan dasar," tegasnya.

Bidan profesional akan bertindak sesuai standar dengan legalisasi perizinan praktek bidan STR dan SIPB. Hal tersebut juga menjadi harapan dari Pemkab Mojokerto kepada Bidan Delima yang telah dikukuhkan. [tin/but]

Tag : kesehatan

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan